Catatan No. XII : “Eksekusi”

1394 Kata
“Vito?” Nida berusaha memanggil ingatan, memutar ulang saat bertemu pria berperawakan tinggi di hadapannya. Saat itu ia berusia 13 tahun, di bangku SMP kota Lionearth— Penelusuran Nida disela oleh tawa kecil dari lawan bicaranya, “Kau masih ingat aku?” Masih terkejut Nida dibuat, “Kau... kenapa bisa ada di sini!?” ucapnya tak percaya. Delapan tahun yang lalu, Fia dan dirinya dihadang beberapa orang berjubah hitam. Salah satu dari mereka adalah Vito. Kala itu Vito berpesan padanya, agar melindungi Fia karena gadis itu akan menjadi kunci bagi sejarah di masa depan. Akan tetapi, Nida gagal menepati janjinya. Insiden Ultima Weapon terjadi di Exiastgardsun. Dalam perjuangan untuk menumbangkan tirani dari raja iblis, Fia menghilang ketika meredam Black Hole demi menyelamatkan seisi Exiastgardsun. Gadis itu lenyap, tubuhnya ditarik masuk ke dalam lubang spasial yang diameternya berukuran lebih kecil dari atom. Tiada luka di tubuh Nida. Akan tetapi pedih senantiasa terasa menyayat acapkali kepingan kecil dari ingatan itu menyeruak menuju permukaan. Lengannya mengepal, sebisa mungkin ia paksa dirinya untuk menyelam lebih jauh, mengingat kejadian itu. Kejadian itu sangat traumatis baginya. Sorot mata Nida berubah datar, “Ya.. Kau orang dari organisasi Fulcany itu. Kenapa bisa ada di sini?” “Aku selalu mengawasi Fia secara diam-diam.” Kejutan lainnya kembali Vito sampaikan, “Mengawasi Fia? Apa maksudmu!?” Vito berasal dari Exiastgardsun. Sekarang pria itu muncul di Planet Bumi. Lalu di sini, Nida bertemu dengan gadis lain yang juga sama-sama bernama Fia. Tak cukup sampai di sana, rupa mereka bahkan identik satu sama lain. Baik suara, wajah, perawakan, hingga tinggi badan, dan warna rambutnya. Hey, Maria bahkan sama-sama mengenakan gesper di kanan. Benda itu bahkan berfungsi sebagai segel juga. Rasanya terlalu naif jika menyebut semua itu adalah kebetulan semata. Oke, sebut semua ini adalah kebetulan semata. Jika hanya sekedar kemiripan, kenapa mereka harus menggunakan baju yang sama? Kenapa harus menggunakan Gesper cokelat sebagai segel sihir? Kenapa dia bisa memiliki kemampuan sihir yang sama hebatnya dengan Fia—sosok yang berkorban demi menyelamatkan dunia? Nida tak bisa menerima hal itu, lengannya terkepal. Ia harus membuktikan dugaannya. Maria mungkin hanya pura-pura hilang ingatan, pasti ada sesuatu yang membuatnya jadi begitu. Tunangannya itu pasti sedang berada dalam tekanan, atau suatu hal lainnya. Pikirannya kembali berkecamuk. Yakin sekali bahwa Maria di sini adalah Fia dari dunianya berasal. Tatapan bengis Nida mulai terukir di wajah, seolah aktif berusaha menyelidik, “Kau tahu sesuatu, kan?” Vito pasti mengetahui sesuatu. Jika kecurigaannya benar, maka Maria di sini adalah benar Fia dari dunianya berasal. “Kau harus belajar untuk tidak tergesa-gesa.” Pria itu menggaruk keningnya sejenak, “Yah.. Aku tak bisa memberi tahu tentang hal itu sekarang. Mungkin saja dia memang Fia yang kita kenal… Yang entah kenapa berakhir di dunia asing ini setelah sempat menghilang akibat insiden Black Hole.” Kelopak mata Nida terbuka lebar. Wajahnya berubah berseri-seri. Mendung di wajah seolah sirna tertiup angin. Jadi benar ada kemungkinan seseorang bisa selamat setelah ditarik lubang hitam. “Namun—,” potong pria itu, “...Bisa juga kalau Maria ini hanyalah salinan dari Fia yang kita kenal.” Semringah di wajah Nida terhapus seketika. “Dunia ini dan Exiastgardsun berbeda dimensi, jadi mereka memiliki jiwa yang berbeda pula. Kau dengar sendiri kan, ucapan dari orangnya langsung. Dia menegaskan kalau kalian belum pernah bertemu sebelumnya.” Maria pernah menyangkal ketika Nida bersikeras menuduhnya hilang ingatan. “Sosok Fia di dimensi mana pun memiliki kemampuan sihir yang sangat berbahaya, jadi sudah tugasku untuk mengawasi mereka.” Nida menaikkan salah satu alisnya, pria ini mulai berbicara berbelit-belit. Jika dipikir lebih lanjut, sepertinya dia memiliki cara untuk bolak-balik antara Exiastgardsun dan dunia ini. “Lagi pula,” ucap Vito santai, menggaruk kepalanya, “Kenapa kau begitu yakin bahwa aku adalah Vito yang kau kenal di Exiastgardsun?” Wajahnya itu terkesan seperti minta ditonjok. “Bisa saja kan seluruh entitas diriku sendiri saling berbagi kesadaran? Seperti jaringan komputer misalnya?” “Berbagi kesadaran?” Satu hal yang Nida tahu. Pria di hadapannya sesungguhnya bukan seorang manusia. Dia bahkan tidak memiliki raga fisik yang bisa disentuh. Keberadaan dia tak lebih dari sekadar fatamorgana. Sebut saja roh, atau hantu penasaran. “Maria yang berada di pesawatmu adalah Fia tunanganmu...  Atau mungkin hanyalah salinan darinya. Tak peduli mana yang benar, itu sudah menjadi tugasmu untuk mencari tahu.” Nida mulai jengkel, “Tugasku untuk mencari tahu? Hey, kau sendiri tahu jawabannya, kan? Jangan berbelit-belit lah, siapa Maria di sini!?” “Rahasia.” Jawab Vito. Pria itu sepertinya hanya ingin menggoda, memancing-mancing kekesalan Nida. Nida menggerutu kesal, sumpah serapah terlontar dari benaknya, “Kenapa…?” “Karena lebih menarik jika seperti itu,” jawabnya seraya menjulurkan lidah. Hilang sudah imej si keren misterius darinya. Nida benar-benar berniat menghajar pria itu saat ini juga. Andai pedang di tangannya bisa menggores tubuh setengah transparan itu, tentu ancaman kekerasan sudah dilontarkan saat ini juga. “Setidaknya jelaskan padaku, siapa orang-orang dari WCS ini? Apa mereka ada di sini bersamamu?” Vito menjawabnya dengan gelengan wajah, “Mereka orang-orang dari anti-Illuminati. Selalu mengincar Maria untuk dibunuh, entah untuk apa.” Illuminati? “Sebenarnya ada berapa organisasi di dunia ini yang saling bersitegang satu sama lain?” Tanpa sadar Nida memijit kerutan di keningnya. Senyum kecil Vito berikan sebagai jawaban, “Seharusnya mereka menjadi rekan, karena Maria sendiri berjuang untuk melawan Illuminati. Jadi cukuplah kau tahu, aku tak memiliki hubungan apa pun dengan mereka, termasuk dengan organisasi Fulcany.” Vito kemudian mengeluarkan lingkaran sihir di bawah kaki, bersiap untuk melakukan sihir teleportasi— sihir perpindahan tempat dalam sekejap. “Mau ke mana kau?” cegah Nida. “Aku ini dari organisasi rahasia, Gate Keeper—penjaga keseimbangan waktu dan dimensi. Keberadaanku tak boleh diketahui oleh siapa pun.” Pria itu lalu menghilang seperti hantu. “Hey!” Nida masih belum mendapatkan jawaban memuaskan. Tak ada gunanya menggerutu, jadi Nida kembali melangkahkan kaki untuk memulai pencarian. “Oh iya.” Vito kembali muncul. Setengah badannya keluar dari tembok. Wajahnya mengucap tepat di depan batang hidung Nida. “Dari sini belok ke kiri, lalu ikuti jalan paling besar. Nanti ada pintu ganda menuju aula, di sana Fia berada.” Pria itu kemudian kembali tersedot ke dalam dinding, menghilang. “… bikin kaget aja,” gerutu Nida. Tapi ia harus berterima kasih. Setidaknya Vito memberikan petunjuk berharga akan lokasi Maria ditawan. “Semoga kau baik-baik saja, Maria.” ucapnya cemas. Di perjalanan, Nida sempat berpapasan dengan beberapa penjaga. Hatinya saat ini sedang tidak b*******h untuk memulai percakapan apa pun, jadi cukup pedangnya saja yang mewakili dialog pembuka. Orang-orang ini sama sekali tak berkesempatan dalam melawan sang Raja Exiastgardsun. Bilah pedang Nida meneteskan cairan kental kemerahan. Di sebuah Lorong berukuran besar, Nida melihat orang-orang berkumpul dalam salah satu ruangan. Posisi mereka terlihat sama seperti di acara pertemuan antar presiden. Orang-orang berdiri di belakang kamera, menyelubungi seseorang yang menjadi pusat perhatian. Tunggu dulu, di bawahnya ada Maria yang dipaksa bertekuk lutut. Sesaat tadi Nida gagal melihat dia karena terhalangi oleh orang-orang ini. Gadis itu terlihat lemas. Nida menyadari ketiadaan segel sihir di lengan kanan. Tanpa benda itu, ia hanyalah gadis biasa yang senantiasa merasa lelah. Sepengetahuan Nida, sirkuit sihir Fia itu seperti sebuah spons. Dia akan senantiasa menghisap energi alam di sekitar. Efeknya, gadis itu senantiasa merasa pusing, hingga sulit untuk menjaga keseimbangan dan kesadaran. Mereka semua belum menyadari kehadiran Nida di lorong luar. Keberadaan Nida terhalangi oleh semacam kaca jendela berukuran lebar. Tak ada suara yang ditangkap telinga Nida, meski orang-orang itu terlihat riuh bersorak-sorai. Detik berikutnya, jantung Nida berdesir hebat tatkala orang dengan janggut panjang mengacungkan sebilah pisau, untuk kemudian ditempelkan di leher Maria. Mereka hendak menyembelihnya. “Hentikan, b*****t!” Seketika Nida berubah panik. Ia hantamkan pedangnya untuk membobol tembok yang menghalangi. Akan tetapi, bilah pedang miliknya malah terpantul kembali. Tak peduli berapa kali ia menghantamnya, lapisan kaca itu terlihat tak bergeming. “Terbuat dari apa benda sialan ini?!” Napas Nida memburu, berulang kali ia tendang, ia hantam kaca transparan itu. Semuanya hanya berakhir sia-sia. Para b*****h yang bersorak di dalam sana bahkan tak sedikit pun mendengar jeritan putus asa dari Nida. Ujung tajam pisau menempel di kulit leher Maria. Gadis itu memejamkan matanya, terlihat pasrah. Air mata mengalir melewati tepian pipi. “Hentikan…!” lengannya menggebrak-gebrak kaca, berusaha meminta perhatian siapa pun di dalam sana. Semoga saja, satu yang menoleh, cukup untuk mencipta pengalih perhatian, dan memberi kesempatan lebih lama bagi Maria untuk bisa melakukan sesuatu demi melarikan diri. Di mana Celine dan orang satunya lagi itu?! Darah mengucur dari leher Maria. Pisau itu menyayat perlahan lapisan kulit hingga menyibak putih lemak dan daging kemerahan. Ini pasti mimpi! “Hentikan!” Tubuh Maria mengejat, akan tetapi bahunya ditahan oleh dua orang lain. Baju yang ia kenakan basah oleh cairan kental kemerahan. Darah memuncrat seperti air mancur di kolam hias. “Bangsaat!” Jerit tangis Nida tak sedikit pun terdengar oleh mereka.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN