Catatan No. XLIV : Lemah

844 Kata
Lengan Nida dientakkan keras ke bawah, diikuti dengan tersemburnya bunga api melelehkan es. Aura putih tercipta dari udara kosong, membentuk selubung panjang bagai bilah pedang. Dari dalamnya muncul bayangan hitam, termaterialisir dalam wujud padat sebagai senjata sang raja. Pria itu bersiap dalam kuda-kuda, menatap dua mata hijau Yulia yang berpendar terang, “Uhm...” Nida agak ragu, mereka bertarung menggunakan senjata tajam, mereka mungkin akan melukai satu sama lain. “Tak apa, keluarkan segala kemampuanmu… Lenka...” ucap Yulia sambil tersenyum. Gadis itu memang sengaja memanggil Nida dengan sebutan Lenka. Raut wajah Yulia berubah. Gadis itu mengangkat Gunblade menutupi wajah, menatap Nida dengan ekspresi sedingin es. Tubuhnya kemudian berakselerasi dalam gerakan mustahil. Belum genap sedetik terlewati, dia kini sudah muncul di hadapan. Lengkap dengan gerakan menyerang lewat ayunan Gunblade di tangan kanan. Sontak saja Nida bergerak refleks untuk menahan. Lengannya memosisikan bilah tajam secara menyilang demi menghalau laju pedang. Ia pikir serangan Yulia pasti tak seberapa kuat. Bagaimana pun juga, dia hanyalah seorang perempuan dan memiliki tubuh lebih kecil darinya. Terlebih gadis itu hanya menggunakan satu tangan saja. Namun Nida salah besar. Ayunan gadis itu sama kuatnya dengan seekor beruang. Hantamannya begitu menyakitkan. Desakan energi kinetik dari tumbukan itu mencipta denting logam hingga mengempas es di sekitar. Nida bahkan terlempar beberapa meter akibat tak kuasa menahan bobot serangan. Dalam perjalanan menuju kejatuhan, sempat Nida memosisikan diri untuk mendaratkan kaki di atas hamparan es. Sejuta tanda tanya terukir jelas di wajah pria itu. Ia menatap Yulia heran. Dari sana, Nida membuang jauh rasa segan. Langkahnya mengayun cepat hendak melancarkan serangan balasan. Kali ini ia akan bersikap serius. Lantai terbuat dari es terlihat retak ketika kakinya berpijak. Tak lupa Nida ayunkan Gunblade dengan kedua tangan, tanpa ragu mengerahkan tiap bobot tubuhnya demi satu serangan. Namun Yulia dengan mudah mengantisipasinya. Ia hanya perlu menggeser sedikit tubuhnya untuk menghindar. Membuat serangan Nida tadi hanya mengenai ruang kosong saja. Tanpa sedikit pun membuang waktu, bilah tajam di tangan Yulia sudah membalas dengan ayunkan secepat kilat. Nida telak terkena sabetan di d**a. Rasa sakit menyerang seketika. Refleks tubuhnya bertindak cepat dengan cara menjejakkan kaki ke belakang. Hal itu dilakukan agar efek tumbukan berkurang dan luka sayatan tidak menggerus terlalu dalam. Perih mengikuti tak lama kemudian, Nida menyadari kulit dadanya robek dengan sayatan melintang. Mereka bertarung menggunakan senjata tajam, hal seperti tentu saja tak terhindarkan. Yulia yang tadinya ceria kini tampak sangat serius. Raut wajahnya menjadi sedingin es, seakan menyatu dengan latar di sekelilingnya. Ia mengangkat lengan, menyilangkan Gunblade sebatas d**a. Ujung pedang itu terlihat mengeluarkan berkas cahaya putih, diikuti dengan udara tersedot masuk layaknya vaccum cleaner. Nida paham apa yang terjadi. Gadis berada dalam proses pengumpulan daya untuk mempersiapkan sebuah rapalan sihir. Tak ingin kecolongan, Nida lantas bergerak mengambil inisiatif. Akan tetapi, proses itu ternyata selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Yulia membuka matanya dengan tatapan tajam, seraya mengayunkan pedang yang ia genggam pada udara kosong.  “Fira..” mulut Yulia berucap pelan, diikuti dengan kemunculan sebuah lingkaran sihir berpendar layaknya dinding tepat di hadapan. Dari sana, sebuah proyektil panas melesat dalam wujud bola. Proyektil itu terlontar cepat hendak menyambar Nida sebagai target. Nida meresponsnya dengan insting liar seorang petarung jarak dekat. Sekuat tenaga ia berkelit. Satu berhasil dihindari, tapi yang lainnya datang mengikuti. Padang es tempat mereka bertarung terlihat dipenuhi puluhan bola api. Rentetan bola panas itu beterbangan menghantam es setelah gagal mengenai targetnya. Gumpalan uap es yang meleleh tercipta sebagai hasilnya. Nida melesat ke sana kemari, menghindar seraya memperpendek jarak. Kesempatan pasti datang sementara gadis itu mulai lengah. Yulia sama sekali tak menduga, bahwa Nida mampu menyelinap di tengah-tengah serangan. Nida mengayunkan Gunblade sekuat tenaga. Sadar bahwa Yulia tak selemah yang ia kira. Itu sebabnya ia harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk bisa mendaratkan sebuah serangan. Namun Yulia merespons hanya dengan sebuah tatapan jengah. Gadis itu tak melakukan apa pun selain mengukir senyum tak simetris pada mulut kecilnya. “Praesidio..” Tiga lapis perisai tak kasat mata terbentuk begitu saja. Samar terlihat, namun begitu solid hingga sanggup menghentikan ayunan Gunblade. Tiap perisai berpendar mengeluarkan lingkaran sihir dalam cahaya yang redup. Dua di antaranya sempat pecah berhasil ditembus. Namun Nida tak sanggup menembus perisai di lapisan ke tiga. Yulia melangkah mundur. Gadis itu lalu mengangkat Gunblade di tangan kiri dan mengarahkan ujung pedang ke wajah Nida. Senyum sinis kembali terukir di wajahnya. Beberapa bola api secara cepat terbentuk di sekeliling Nida. Semakin lama semakin membesar. Pria itu bisa merasakan perubahan suhu meningkat drastis. Pusaran api yang mengitarinya menarik masuk tiap kubik udara. Nida mengambil langkah mundur seraya berlari menjauh. Batinnya sadar betul bahwa kali ini ia tak bisa menghindar begitu saja. Tingkat energi yang terkumpul mampu menciptakan ledakan dalam jangkauan yang luas. Mau berlari sejauh apa pun, tak akan ada cukup waktu untuk menjaga jarak aman. Letupan cahaya seolah mengawali teror yang hendak ia alami. Dinding udara mengempas ke segala penjuru, menampar sekujur tubuh Nida, diikuti dengan gemuruh ledakan dan panasnya api yang membakar. Puluhan bola api itu meledak bersamaan. Meninggalkan lekukan hitam dalam es yang mencair. Di salah satu sudut terlihat Nida tengah terkapar tak sadarkan diri. “Lemah..” Yulia berkomentar dengan wajah dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN