Hari demi hari berlalu begitu saja…
Nida masih terperangkap dalam masa lalu, tak mampu beranjak menggapai hari yang menyapa.
Ia duduk menyandar pada pohon di atas bukit, termenung sendirian ditemani angin sore hari. Pandangannya menyapu rumput yang menari di pinggiran danau.
Pikirannya menerawang, mengingat ketika pertama kali tiba di tempat ini.
Waktu itu hanya ada satu yang menjadi beban pikirannya, yakni misteri tentang Maria; Apakah gadis itu benar tunangannya, atau memang sekadar kemiripan belaka?
Namun pilu dirasa, kala mendapati kebenaran menyakitkan perihalnya. Semua itu terjawab lewat banyak fakta yang amat menohok hatinya.
Arby menyingkap fakta tentang Lenka, menjelaskan padanya sedetail mungkin akan setengah jiwa Maria yang sudah tiada.
Mirip dengan yang terjadi di Exiastgardsun tiga tahun lalu. Di dunia ini juga pernah terjadi peperangan yang berujung pada aksi penyelamatan dunia. Di kala itu, Lenka menyerahkan seluruh jiwa raga yang berujung pada kematiannya. Semuanya demi menyokong Maria agar gadis itu berhasil menghentikan perang nuklir di hadapan mata.
Sukses tampil sebagai pahlawan—Konflik bersenjata, perang besar melawan sekumpulan Negara di Asia—menjadikan Maria sebagai presiden dari Negeri bernama Indonesia.
Kisah itu begitu klise, garis besarnya mirip sekali dengan apa yang terjadi di Exiastgardsun. Bedanya, dalam kisah heroik di sana, Fia lah yang harus menanggung pengorbanan utama demi menyelamatkan dunia.
Hubungannya dengan Maria kian dekat di tiap harinya. Ia selalu mencari-cari kesempatan di waktu luang gadis itu, sekadar untuk mengobrol ringan atau mencipta canda tawa. Batinnya sulit menganggap gadis itu sebagai entitas terpisah dengan Fia.
Sejatinya, ia hanya berusaha memuaskan ego demi membuktikan bahwa Maria adalah Fia.
Berbagai teori ia lontarkan, termasuk keberadaan sosok kepribadian lain dalam diri Maria. Bagaimana pun juga hal itu masih mengganjal pikirannya. Dulu dia pernah tertangkap basah memasuki kamar dia. Namun hingga kini, gadis itu seolah tak tahu menahu, tak ingat tentang kejadian itu.
Apa dia memang tak peduli? Atau orang yang memergokinya itu bukanlah Maria sama sekali? Masih jelas teringat iris mata hijau pada wajah gadis itu. Sama persis dengan aura yang didapat ketika Maria menciumnya di gua Gunung Parang.
Jangan-jangan, Maria bahkan tidak tahu menahu terkait insiden di dalam gua itu?
Tyan memanggilnya dengan sebutan Yulia.
Siapa dia sebenarnya?
Rasanya … terasa seperti dua kepribadian terjebak dalam satu tubuh.
Napas Nida berembus pelan, seakan berusaha melepas penat di kepala. Pria itu nyaris frustrasi. Semuanya berakhir sia-sia.
Ia harus mengakui, bahwa meskipun wajah, suara, dan baju gadis berambut biru itu identik satu sama lain. Namun sifat mereka terasa saling bertolak belakang.
Fia tunangannya selalu ceria secerah mentari, mudah tersenyum, banyak bertingkah, serta terkesan kekanak-kanakan. Kelakuannya terhadap Nida juga tergolong berani bak perempuan nakal. Gadis itu selalu mendukung Nida apa pun keputusannya.
Sementara Maria di planet ini amatlah berbeda. Wataknya lemah lembut agak keibuan. Pandangannya senantiasa mendung seakan dirundung sejuta masalah. Dari segi sosial, dia juga pendiam tak banyak bicara.
“Dia bukan Fia yang kukenal..” Napas Nida mengembus pelan, menunjukkan ketidakberdayaan.
Mungkin butuh waktu lama baginya untuk mengakui hal tersebut.
Mungkin juga ia masih belum bisa melepas ego di hati.
Nida beranjak dari tempatnya bersandar. Membuka handphone di tangan lalu mengetik sebuah pesan singkat pada Maria.
Matahari mulai tenggelam di barat sana, tanda akan dimulainya malam Minggu bagi para remaja. Kota Purwakarta memiliki kebiasaan mengadakan wisata kuliner setiap Sabtu malam.
Nida memberanikan diri mengajak Maria untuk makan malam di sana. Sengaja ia memilih restoran mewah. Berniat menghabiskan seluruh uang yang ia kumpulkan dari gaji sebagai seorang ajudan.
......
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, sesekali Nida melirik jam yang melekat di tangan kirinya. Berdiri sendirian dalam kerumunan warga berlalu lalang. Pria itu menatap danau kecil terhampar di tengah taman. Bagian tengahnya terdapat patung pewayangan lengkap dengan lampu LED menghias.
…
“Maaf aku terlambat.” Seseorang berucap dari arah belakang.
Nida sontak menoleh, terperangah seketika itu juga.
Kemunculan Maria bak seorang bidadari surga.
Gadis itu berdiri di samping pagar danau kecil tengah taman, mengenakan gaun berwarna merah khas gadis Tiongkok. Kulit terawat dia seakan berpendar memantulkan cahaya penuh warna. Rambut biru panjangnya bermodelkan setengah terikat. Di bagian ikatannya terdapat pita merah menghias. Penghangat tangan berbalut gesper cokelat tak pernah absen di sebelah kanan lengannya. Kali ini, ia menyematkan pita di sana.
Mendadak lidahnya terasa kelu, tak tahu harus berkata apa. Gadis itu muncul layaknya seorang bangsawan. Walau tentu saja ia harus berlaku demikian, bagaimana pun juga dia adalah seorang pimpinan Negara.
Mobil yang mengantar kemudian berlalu dari hadapan, keberadaannya sontak menjadi pusat perhatian.
Agak bingung Nida harus bertindak, tiap langkah yang diambil adalah sebuah perjuangan. Orang-orang mengerumuni Maria, menutup jarak di antara keduanya. Mereka tiada henti menyapa, tak peduli pihak keamanan sibuk menciptakan barisan pertahanan. Para warga begitu antusias berkerumun sekadar untuk melihat sang pimpinan.
Gadis itu merupakan seorang Presiden, wajar dia mendapat seluruh perlakuan ini.
Berbeda sekali dengan situasi Exiastgardsun. Semua orang akan menunduk hormat, seraya memberikan jalan tanpa terkecuali. Siapa pun yang bertindak lancing, bisa-bisa esoknya berakhir di sebuah guillotine pemancungan.
Nida bersumpah, semenit yang lalu jarak lima meter darinya begitu kosong tanpa seorang pun di sana.
Habis kesabaran, Nida lantas menggunakan sedikit kemampuan abnormal miliknya. Ia menerobos kerumunan, lalu menarik lengan Maria keluar dari sana.
Paspampres bersetelan hitam dengan sigap bereaksi, menganggap Nida sebagai ancaman. Namun ketegangan itu mereda sesaat setelah Maria mengangguk memberikan penjelasan.
Hey, bagaimana pun, Nida masih bertugas aktif sebagai pelindung pribadi Maria. Jadi justru para bodyguard itu yang harusnya tunduk kepada dia.
Nida dan Maria lantas keluar dari taman, menyeberangi jalan penuh dengan vendor makanan.
Pria itu mengajak Maria memasuki sebuah restoran. Musik klasik dan gemerlap lampu redup menyambut kedatangan.
Maria entah kenapa meminta Nida untuk duduk di pojok ruangan.
Tempat dekat jendela itu minim penerangan.
“Uhm..” Nida menoleh ke sekeliling, menyadari orang-orang tengah memandangi dirinya. Banyak di antara mereka yang mengambil foto dengan handphone di tangan. Beberapa wartawan terlihat sigap menyalakan kamera di kejauhan. Sungguh, ia merasa tak nyaman dengan segudang perhatian ini.
“Hmmm..?” Maria memandangi Nida, gadis itu ternyata kurang peka.
“Mungkin sebaiknya aku gak mengajakmu makan di tempat ramai kayak gini. Aku nyaris lupa kalau kamu itu orang terkenal,” ucapnya menggerutu. Naif sekali dia jika berpikir bahwa makan malam penuh keheningan akan menjadi sebuah kenyataan. Semua rencananya tak akan berjalan sesuai yang diharapkan.
“Oh, mereka...” Gadis itu paham apa yang mengganggu pikiran Nida. Lengannya lalu mengotak-atik sebuah handphone, “Tunggu sebentar.”
Sebuah kegaduhan tercipta tak lama kemudian. Sekumpulan pria berseragam Satpol PP muncul demi mengosongkan seisi ruangan. Tebak saja, keributan kecil pun terjadi. Namun berbekal semacam ‘kompensasi’, para tamu pun sepertinya mau mengerti.
Kini restoran itu terlihat sepi, hanya mereka berdua yang duduk di sudut ruangan. Membuat Nida menggaruk-garuk pipi seraya tersenyum kaku.
“Aku menyewa restoran ini untuk satu malam,” ucap Maria seraya tertawa kecil.
Nida membalasnya dengan wajah malas, “Gak usah mengusir para tamu lah, kasihan mereka yang lagi makan.”
“Gak apa-apa, kamu sendiri jadi gak bisa konsen makan, kan?”
Nida tersenyum kaku, lalu menyayat steak di piringnya.
Keduanya kembali hening.
Maria memandangi Nida beberapa saat, senyum kecil mengembang di bibir gadis itu.
Sadar sedang diperhatikan. Nida menghentikan makannya, mengelap mulut dengan tisu, kemudian meminum segelas anggur. Pria itu balas menatap mata Maria, tangannya bergerak perlahan memegangi tangan gadis itu.
“Fia, kau benar-benar tidak ingat padaku?” Nida menatap Maria dengan pandangan serius.
Raut wajah penuh kebahagiaan itu pudar seketika.