Catatan No. XIV : “Hewan Buas”

1227 Kata
“Siapa sangka, aku dibawa menuju Merkayangan.” Maria menggumam dalam hati. Sorot matanya terlihat awas, mengedar ke sekeliling memeriksa segala sesuatu. Dari tanah, rumput, hingga bangunan-bangunan berbentuk silinder aneh di kejauhan. Sejenak ia menghabiskan waktu menatap takjub akan keberadaan daratan misterius mengintip di langit cakrawala. Bumi tempatnya berdiri terletak di dunia lain. Lamunannya terhenti. Tanah bergetar. Gedebum ledakkan terdengar sayup jauh di batas cakrawala. Satu per satu, bangunan tinggi itu roboh dihantam sesuatu. Gelombang kejut tercipta berulang kali, mengirim suara dentuman hebat diserta tiupan angin panas. Di sana pasti lokasi Nida mengamuk. “Menakjubkan…” Ia tak habis pikir, jadi ini rasanya melihat sosok lain dengan kemampuan setara dirinya beraksi di kejauhan. Beragam lengkungan energi melesat ke segala penjuru, seperti proyektil terbuat dari gelombang kejut, memekar kala menjauh. Maria merasa aneh. Tubuhnya mendadak bisa merasakan suatu hal baru. Ada sensasi asing nan menyejukkan, indera sentuhan di permukaan kulitnya seakan berubah menjadi radar pasif, sensitif terhadap keberadaan semacam gelombang energi. Sumbernya berasal dari Nida berada. Tidak, ini bukan angin. Perasaan sejuk ini terasa seperti radiasi. Partikel tak kasat mata itu menubruk tubuhnya setelah berkelana melewati jarak, selayaknya cahaya merembet melewati angkasa luar. Inikah yang disebut Manna? Getaran di tanah kembali Maria rasakan. Ini bukan saatnya untuk berkontemplasi, atau bahkan berfilosofi. Nida harus dihentikan. “Aku tak semestinya ikut campur dalam urusan para Jin..” Maria menguatkan diri. Ini bukan dunianya, tapi Nida jelas berasal dari dimensi tempatnya berasal. Amukan pria itu menjadi tanggung jawab dirinya. Kepalanya terasa pusing. Adiw memang sudah memasangkan kembali segel di lengan kanannya, tapi efek lanjutan masih tersisa. Saat ini ia tak bisa menggunakan sihir apa pun. Gadis itu mulai melangkahkan kaki, berlari menuju lokasi tempat Maria berada.   ******************   Kepala Nida terasa sakit sekali. Batinnya dipenuhi sejuta amarah. Bunuh Bunuh Bunuh Siapa pun yang berani mendekat, wajib untuk dibunuh. Mereka tak layak hidup. Fia sudah tiada. Dia sudah mati. Tak boleh ada orang lain yang berbahagia tanpa kehadirannya. Kalian semua tak berhak untuk hidup. Enyahlah! Musnahlah! Sirna menjadi ketiadaan. Mati Mati Mati Gedung-gedung itu angkuh berdiri, tak pantas untuk menantang langit. Hancurkan Hancurkan Hancurkan Sekujur badan ngilu sekali. Sesak Sesak Sesak Pedih, sakit. Mual, ngilu. Tolong buat ini berhenti. Sesosok makhluk datang dari arah langit. Nida merasa terancam, lalu kembali mengayunkan pedang berpelatuknya untuk mencipta sabetan membelah udara. Akan tetapi, tembakan energi itu terdistorsi. Tiap senti dari Manna solid yang terlontar terurai menjadi angin sepoi saja. Lalu, kenapa sekarang ada bulu-bulu lembut berhamburan di udara? Nida bersumpah, matanya jelas melihat sesosok malaikat bersayap putih turun dari langit. Terdapat semacam nuansa ilahiah, suci nan agung. Seluruh alur pikir di kepala Nida seakan terhenti, ia terhipnotis oleh senyum manis yang menebar, mencacah segala aura negatif. “… Fia?” Kedua tangan Fia terangkat hendak menggapai Nida. Kesepuluh jemari itu meraih pipi, membelai lembut penuh perasaan, mengedar sejuta kasih sayang. Lengan gadis itu kemudian melingkar pada bagian bahu, berlanjut pada pelukan kecil menenangkan. “Sudah, sudah… kau sudah menunjukkan seluruh sesal, amarah, pedih, dan kebencian. Aku mengerti seluruh penderitaanmu.” Siapa perempuan ini? “Sekarang saatnya kau untuk kembali menikmati tidur panjang…” Suaranya begitu menenangkan, seperti sesosok ibu yang sedang menimang anaknya. “—wahai sang Griever.” Jemari Maria menyentuh kelopak mata Nida, mengirim pria itu pada lelap. Perlahan dan berhati-hati, gadis itu merangkul tubuh sang raja Exiastgardsun yang terkulai jatuh. Ia memosisikan diri untuk duduk bersimpuh, menopang kepala Nida, menjadikan pahanya sebagai bantal sandaran. Sorot mata Maria berubah sayu. Jemarinya tiada henti membelai wajah pria di pangkuannya. “Oh… Len…” Mulutnya mengucap sebuah nama. … Kelopak mata Celine mengerjap, rasa kantuk masih terasa mendera. Entah kenapa badannya terentak-entak. Adiw membopongnya bak seorang pangeran menggendong putri kerajaan. “Kyaa..!” sontak saja ia berubah panik. Terlalu dekat! Baru kali ini ia sedekat ini dengan seorang lelaki. Adiw sontak menghentikan langkah. “Kau sudah siuman? Ingin kuturunkan?” Tak ada jawaban. “Ah, tubuhmu masih lemas?” Celine mengangguk pelan. Ia berusaha menyembunyikan rasa malu. Ingin rasanya menutupi wajah dengan telapak tangan. Akan tetapi jemarinya terkulai lemas tak sanggup digerakkan. Benar dugaan Adiw. Gadis penyihir ini sungguh telah mengerahkan seluruh kemampuannya. Sekujur tubuh dia bahkan berubah lumpuh. Rasanya seperti sedang membopong seonggok boneka tak bernyawa. “Kita sebenarnya berada di mana?” tanya Celine. Setidaknya ia bisa menggerakkan kepala, mengukir ekspresi malu dan mengucap kata-kata. “Merkayangan,” jawab Adiw. “Mer…kayangan?” “Alam gaib,” lanjut Adiw menjelaskan. Apa pula itu alam gaib? Ekspresi di wajah Celine itu cukup menggambarkan sejuta tanda tanya. “Begini,” Adiw berusaha merangkai kata-kata yang mudah dimengerti. “Alam gaib adalah suatu realitas yang terpisah dari dunia nyata, meski secara titik koordinat dan ruang sebenarnya terletak di tempat yang sama.” “Jadi diameter planet dunia ini sama persis dengan planet bumi?” Celine dengan cepat menangkap. “Tempat ini memang planet bumi, hanya terletak di ruang yang berbeda. Misal—” Adiw memberikan contoh, “…saat ini kita keluar dari dunia ini. Di sini, di titik ini, lokasi ini.” Telunjuknya mengarah pada tanah tempat saat ini berpijak, “Koordinat tempat ini mungkin terletak di sebuah pasar, kota, atau bahkan di tengah pegunungan.” “Satu kilometer jarak kita dengan Fia di sini, akan sama persis dengan posisi di dunia nyata?” Adiw mengangguk. Berarti berbeda dengan konsep Bumi dan Exiastgardsun. Ukuran planet tempat Celine berasal jauh lebih besar dari diameter planet bumi yang hanya sejauh 12.742km. Lagi pula, matahari di sini hanya ada satu. Bumi bukanlah Exiastgardsun dalam ruang sama namun terpisah dimensi. Dua dunia itu benar-benar semesta yang terpisah dan saling tak berhubungan satu sama lain. “Lalu bagaimana dengan para penghuninya? Tadi aku sempat melihat banyak makhluk-makhluk tak tentu rupa.” ‘Tingkat vibrasi sub partikel pada penghuni dunia ini berada pada level yang berbeda. Dari sudut pandang kita, makhluk hidup di sini pada dasarnya terbuat dari energi murni. Berbeda dengan dunia fisik tempat kita berasal.” “Energi… murni?” Celine mulai bisa menerka-nerka kesimpulan dari penjelasan Adiw. “Tiap kali Maria menggunakan sihir, sebenarnya dia menarik energi dari sini. Semakin banyak ia mencipta seni kehancuran di medan perang dunia nyata, maka makin banyak pula korban di alam ini yang menghilang keberadaannya. Jiwa mereka diubah menjadi bentuk energi lain di dunia kita.” Sempat Celine memikirkan konsep demikian, tapi mendengar penjelasan langsung seperti ini, rasanya seperti…. entahlah. Mindfuck, mungkin?. Semakin mereka berdua mendekat lokasi tempat Maria, Celine menyadari sesuatu; Tanah kian berubah tandus. Pohon-pohon terlihat mengering. Tak ada suara makhluk hidup apa pun sepanjang mata memandang. Ia berani bersumpah, tiap organisme di sini pasti meluruh, hancur setelah digunakan oleh Maria sebagai bahan bakar. “Pantas saja WCS ini memusuhi Maria.” Mereka berasal dari dimensi ini. Tindakan mereka tentu hanyalah upaya untuk menyelamatkan dunia mereka dari kehancuran. Sesuatu terasa ‘klik’ di pikiran Celine. Napas gadis itu serasa terhenti. Ia tiba pada sebuah kesimpulan, “Kitalah orang jahatnya.” Pandangan Celine kini menangkap posisi Nida dan Maria. Gadis berambut biru itu berhasil menenangkan amukan Griever entah lewat cara apa. Lagi-lagi otak Celine seakan kembali dibuat konslet. Ia kembali mengingat sebuah fakta di dunia lama; Hanya ada satu orang yang bisa menyegel Griever … Pandangan Celine menatap lekat pada Maria. —dia adalah Fia. Celine ingat bagaimana dahulu Fia mampu melakukan hal yang sama. Itu menjadi salah satu alasan para tetua menjodohkan dia dengan Nida sepupunya. Fia adalah keturunan terakhir—berdarah murni—dari ras kuno bernama Annunaki. Mereka sanggup berinteraksi dengan arwah para leluhur. Celine bahkan sempat menduga kemampuan absurd Fia di Exiastgardsun dulu pasti ada hubungannya dengan bagaimana ia menyedot kekuatan dari dalam tubuh Nida. Bagaimana mungkin Maria—Entitas asli dunia ini—bisa menenangkan amukan jiwa-jiwa para Griever? Kecuali— Mereka adalah orang yang sama. Jantung Celine bertabuh kencang kala memikirkan kemungkinan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN