Senin, minggu pertama di Maret semua pegawai divisi Marketing berkumpul di aula usai jam kerja. Hari ini tiba saatnya Bu Nindy mengumumkan perpisahan dan mengenalkan penggantinya keseluruh divisi Marketing. Dia sudah belasan tahun mengabdi di perusahaan tambang terbesar di Indonesia.
Meja panjang berisikan makanan dan minuman terpajang layaknya pesta pernikahan. Jejeran bangku menghadap ke panggung kecil utama. Layar di depan memunculkan slide demi slide foto perjalanan dan prestasi Bu Nindy di perusahaan. Dian merasa bangga bisa mengenal orang besar sekelas Bu Nindy. Di sisi lain, dia sedih dan kehilangan. Tidak ada traktir gratis lagi, kopi sore, curhat colongan, dan petuah orang zaman dulu.
Dian duduk di bangku ketiga dari depan, disampingnya duduk perempuan-perempuan cantik, gaul dan pandai bersolek. Mereka sibuk berfoto di sosial media berlaga seperti selebritis.
"Dian, tolongi fotoin dong dari depan situ !" Rini, salah satu yang paling gaul diantara mereka memberikan handphonenya.
Seketika mereka tertawa diam-diam meledek. Sebenarnya Dian lelah menghadapi orang-orang macam mereka. Bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga ada macam mereka. Usia dewasa tapi kelakuan anak SMA.
Acara pun dimulai, jajaran direksi hadir duduk dipaling depan. Semua pegawai duduk rapi di belakangnya menyimak MC membawakan acara. Diantara jajaran direksi, ada yang paling muda, menyegarkan mata-mata pegawai perempuan. Siapa lagi? Dialah, Gilang Chandra Wijaya.
Penampilanya sederhana, kemeja panjang biru muda bergaris dan celana hitam, sepatu pantofel, serta jam tangan mewah dilengan tangan kirinya.
"Eh itu ada cogan, siapa ya dia ?" Rini bertanya ke Dian.
"Oh, eehm, nggak tahu deh! Aku baru lihat dia," Dian pura-pura tidak tahu.
Lima belas menit acara berjalan, Bu Nindy memberi kata sambutan dan memanggil Gilang. Semua mata perempuan di ruangan itu berbinar-binar memandangnya. Gilang selain tampan, dia juga kharismatik. Sementara pegawai laki-laki di ruangan itu berwajah masam.
"Yaelah, gantinya perempuan cakep kek! Yang mirip-mirip Luna Maya, gitu. Ini mah, demenan cewek !" celetuk Bapak-bapak di barisan belakang.
"Dian, lihat nih yaa ! Mas Gilang, besok makan siang sama aku. Kalau nggak besok, ya kapan kek. Pokoknya dia pasti setiap makan siang, ngajaknya aku," bisik Rini kepedean.
Dian menghelakan nafas lalu menoleh "silahkan Rin, aku nggak ikutan," jawab Dian bernada dingin.
"Heeem..., awas kamu ya Dian, kalau tahu-tahu ngegebet ! Aku minta traktir di cafe mahal ya," ledek Rini.
"Iyah deeh !" jawab Dian.
Dian menunduk menyembunyikan senyumnya. Padahal, dia sudah lebih dulu mengenal Gilang. Meski hanya satu jam di meja makan, malam itu. Dian tidak berharap banyak, apakah Gilang akan mempercayainya seperti Bu Nindy mempercayainya. Mengingat banyak karyawan centil mencari muka, lebih gaul, cantik dan tahu banyak tempat-tempat hang out usai pulang kerja. Gilang, si eksekutif muda pasti memilih teman pandai bergaul ke tempat-tempat populer di Jakarta.
Sudahlah, Dian! bekerja saja sesuai tugas utama. Tak usah memikirkan macam-macam. Biarlah Bu Nindy pergi berganti Gilang! Tak perlu menjadi orang kepercayaan lagi, yang penting bisa menjadi pegawai di perusahaan tambang ternama, itu sudah lebih dari cukup.
**********
Senin, lagi ! datang kerja lagi, berjubel lagi, macet lagi, panas lagi. Siklus itu terus silih berganti entah berhenti dimana. Sekolah atau kuliah ada masa tenggat waktunya, tapi kalau bekerja mungkin bisa seumur hidup. Ya, kalau kamu nyaman di tempat kerja. Mau pindah ke kantor lain pun sama, siklus itu tetap ada.
Pagi di musim panas, pasca enam bulan setelah kepergian Bu Nindy, masih biasa-biasa saja. Pemandangan karyawan centil makin banyak, bahkan bukan cuma perempuan saja, laki-laki setengah matang pun ikut centil. Penyebab kecentilan mereka, siapa lagi kalau bukan Gilang.
Setiap pagi di meja Gilang ada kopi, teh, roti, makanan oleh-oleh, pokoknya penuh. Sapaan "selamat pagi," dan senyum saling bersahutan jika Gilang melintas di meja-meja para staff.
Tiba diruanganya, Gilang terkejut mendapati meja dipenuhi makanan, minuman, bahkan bunga. Makin hari, nampaknya Gilang risih dengan kelakuan para pencari muka di kantor.
"Riin, rini......!" teriak Gilang dari dalam ruangan.
"Iyah Pak, sebentar," Rini bergegas memakai alas kaki lalu setengah berlari ke ruangan Gilang.
Benar saja, Gilang tidak memperlakukan Dian seperti yang Bu Nindy lakukan. Sekarang kalau ada apa-apa Rini, yaa tidak dipungkiri ! Perempuan paling pandai bersolek, berbaju ketat berbadan ramping dan sexy, rambutnya curly panjang sepunggung layaknya model. Laki-laki mana yang tidak tertarik melihat penampilanya ?
Senin ini tepat enam bulan Gilang bekerja menggantikan Bu Nindy. Dia masih nampak kebingungan mengerjakan tugasnya. Dia kewalahan menemui client, ditambah Rini asistennya yang sekarang, teledor membuat janji. Setiap hari perkataan Gilang ketus dan sedikit membentak. Tak disangka, wajah ramah dan kharismatik itu bisa juga bersikap garang.
Rini keluar dari ruangan memanggil cleaning service. Dia menyurunya membawa kantong plastik besar. Semua makanan dan aksesoris tidak penting dimasukan kedalam kantong plastik sampah. Tak lupa, gelas-gelas berisi kopi dan teh ikut dibawa keluar.
Usai dibersihkan, suasana kondusif kembali. Rini kembali ke meja dengan raut wajah murung dan bibir manyun sambil bergumam sendiri.
"Emangnya aku apa, yang taro semua makanan di meja itu ?" gerutu Rini.
"Kenapa Rin ?" Dian bertanya sambil membaca dokumen.
Rini memundurkan kursi lalu menghadap Dian. Kepalanya agak menunduk bersandar di pembatas meja.
"Pak Gilang, sumpah asli nyebelin ! Mukanya doang ganteng, tapi judes," Rini berbisik.
Dian berhenti mengetik, lalu ikut memundurkan kursinya. Kepalanya menunduk "kenapa dia ?" suara Dian berbisik.
"Minggu kemarin, dia minta ruangannya jangan dikunci, biar bisa dibersihin. Eh giliran dibuka, udah bersih, untung dikasih makanan, dia malah marah-marah," jelas Rini masih menunduk.
"Loh, kok gitu ya ? Pikun kali dia." dahi Dian merenggut.
"Wah, kurang tahu deh ! Perlu di test nih kejiwaan," sahut Rini.
Tluut.... Tluut.... Suara telepon di meja Rini berdering. Nampak dari kejauhan di balik ruangan kaca yang agak blur, Gilang sedang menelpon.
"Tuh, pasti dia tuh !” Gerutu Rini.
"Udah kerja, kerja, nanti dia tanya macam-macam," Dian kembali menggeser kursi ke depan.
Selama enam bulan pemandangan pagi indah hampir musnah. Meski para staff di lantai ini berusaha membuat suasana tentram, kondusif, nyaman, tapi kalau Gilang sudah stay di kantor, tidak ada yang bergerak selain bekerja.
**********
Terik matahari memantul menembus celah kaca gedung. Lapisan film di kaca nampak terang, pertanda diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Suhu menunjukkan 38'C tepat pukul 12 siang.
Sebagian orang sudah meninggalkan mejanya, sebagian lagi ada yang masih berpikir "makan apa ya?". Sementara Dian, duduk manis di depan komputer, di bawah komputer dia menyematkan handphone lalu memutar drama korea. Sekotak nasi dan bungkusan lauk selalu menjadi menu makan siangnya.
"Diaan, kamu makan apa ?" tanya Rini sambil merapikan uang di dalam dompet.
"Aku bawa bekal Rin," membuka kotak nasi.
"Yah, makan apa yah? Makan sama siapa yah ?" Rini kebingungan. Teman-temanya sudah lebih dulu turun memilih menu makanan yang itu-itu saja setiap hari.
"Makan sama Pak Gilang sana, katanya mau makan siang sama Pak Gilang," ledek Dian.
"Iih, ogah ! Udah pernah, malas. Pasti tanya-tanya soal kerjaan. Tanya yang lain kek gitu !" jawab Rini sambil beranjak dari meja.
Dian asyik menyantap makan siang sendirian di meja sambil serius menonton drama Korea.Di lantai itu sudah hampir kosong tidak ada orang. Mereka semua turun mencari makan siang, tinggal Dian sendiri.
"Permisi, kamu Dian kan ?" suara itu memecah lamunan.
Dian sejenak berhenti menyuap, dilihatnya Gilang berdiri di depan mejanya.
"Oh, iyah Pak Gilang. Ada yang bisa dibantu Pak ?" Dian seketika duduk rapi.
"Oh, enggak santai ajah ! Lanjut ajah makan. Saya cuma mau minta data client punya Bu Nindy, kamu punya kan ?"
"Punya kok Pak, ada !" Dian memegang mouse melihat layar komputer.
"Uhm, tenang ! Nanti saya minta habis jam makan siang. Sekarang, makan ajah."
"Ooh, iyah Pak! Nanti saya kirim email setelah ini."
"Oke, makasih ya," Gilang lalu pergi tanpa permisi sambil mengangkat telepon.
Baiklah, itu saja ? Terima kasih lalu pergi ? Dian pikir, dia akan mengajak makan siang atau menanyakan hal yang lain. Benar-benar seperlunya saja orang itu. Pantas saja, Rini yang awalnya semangat mencari muka, lama-lama mulai memudar rasa semangatnya. Awal bulan pertama, masih banyak pegawai yang respect. Semakin kesini, semakin banyak yang cuek.
Dibalik kharismatik dan kesopanannya, dia ambisius, curigaan, apa yang dia perintahkan, harus bisa tidak ada yang tidak bisa. Bagaimana untuk tahun-tahun ke depanya ? Kalau diperintah orang seperti itu.
***********
Matahari turun perlahan membuat garis cakrawala di atas langit. Jingga memerah menyelimuti langit Jakarta sore hari. Lampu gedung menyala bergemerlap menghiasi, di jalan raya mobil-mobil berbaris mengantri berjalan menunggu lampu hijau.
Dari lantai tujuh belas, Dian mengintip sejenak melihat kondisi jalan dari balik kaca di samping mejanya. Nampaknya tidak mungkin pulang on time. Hari kamis dan besoknya long weekend, semua orang pasti ingin pulang cepat.
Satu persatu para pegawai beranjak pergi meninggalkan meja mereka. Jam tepat menunjukkan pukul enam sore. Ini masih jam macet, di luar sana banyak orang yang berpikiran sama. Ingin pulang tepat waktu. Dian kembali duduk sambil menghela nafas. Dilihatnya Rini sudah tidak lagi di meja. "Wah, pergi nggak bilang-bilang !" gerutunya.
Tersisa Gilang sedang serius terpaku menatap layar laptop di dalam ruangan. Lengan kemeja digulung, dan rambut sedikit berantakan. Biasanya dia berambut klimis rapi membuat wajahnya tampak tua. Dian melihat Gilang dari balik sekat mejanya. Raut wajah Gilang serius dengan rambut kering acak-acakan, ujung kemeja dikeluarkan sepertinya dia berpikir tak karuan.
Tluut.... Tluut.... Telepon di meja Rini berbunyi. Sontak Dian terkejut, dia sedang memperhatikan Gilang serius dari kejauhan. Dian reflek menyembunyikan kepalanya ke balik sekat meja.
Sejenak suara telepon berhenti Dian kembali menegakkan kepalanya.
"Uhhmm, kamu Dian kan ?"
Hhhah! Dian terkejut melihat Gilang tiba-tiba di depan mejanya.
"I...i...iyah Pak !"
"Oh iyah, dua hari yang lalu kamu kirim email ke saya. Tapi saya masih nggak paham. Bisa minta tolong ?"
"Boleh Pak !" Dian bangkit dari kursi lalu ikut masuk ke ruangan Gilang.
Dian duduk berhadapan dengan Gilang. Sekarang hanya ada mereka berdua di lantai tujuh, dan di ruangan Itu hanya mereka berdua.
"Waduh ! Dia mau tanya apa nih ?" gumam Dian dalam hati.
"Saya mengerti alur tabel ini, tapi saya nggak tahu nih, harga wajar kita ke client berapa? Apa ini masih berlaku ?" Gilang mengarahkan layar laptop ke depan Dian.
Dian dengan serius melihat tabel yang pernah dia buat enam lalu. Perlahan dia menjelaskan satu persatu item yang ada di dalam tabel excel, format buatan Bu Nindy. Dia memberi tahu cara mencari data client potensial, berdasarkan nomor PO dan ketepatan waktu pembayaranya. Dia menjelaskan seolah-olah sedang bicara dengan temannya.
Gilang terpaku menatap wajah Dian yang serius menjelaskan. Kulit kuning langsat, rambut bob sebahu, Alis dan bulu mata tebal serta bibirnya tipis. Dia manis, pintar, tidak banyak gaya, penampilan biasa saja. Wajahnya jarang menempel bedak dan bibirnya polos tanpa gincu.
"Pak Gilang paham kan ?"
Gilang melamun menatap Dian.
"Pak, hello......," Dian melambaikan tangan.
"Oh, iyah, ngerti....ngerti !" Gilang agak gugup.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 malam, tanpa terasa sudah satu jam mereka di ruangan berdua. Langit mulai gelap, dan lampu gedung semakin menyala terang. Sepertinya kondisi jalan sudah mulai lenggang.
"Maaf pak, apa sudah jelas ?"
"Oh, sudah ! Nanti tolong kasih data ini ke Rini ya. Biar dia yang follow up," jelas Gilang.
Dian sontak bingung "Loh, kenapa dia tanya aku, kalau ujung-ujungnya kasih ke Rini?" menggerutu dalam hati. "Permisi Pak, saya duluan," Dian beranjak pergi.
"Oh iyah, silahkan!" Gilang tersenyum. Sebenarnya dia sudah tahu, hanya ingin menguji saja, apa benar yang Bu Nindy bilang kalau Dian pegawai pintar.
Cukup terbukti mendengar detail penjelasan dia. Tidak menggurui, tidak ada yang ditutup-tutupi, dia menjelaskan layaknya teman yang sedang mengerjakan tugas sama-sama. Cara Dian bicara, sempat membuat Gilang berpikir jauh berangan-angan. Terlepas dari keturunan keluarga anak-cucu perusahaan tambang, memiliki wajah tampan, semuanya serba mudah. Naluri tetaplah naluri, tidak memandang status, wujud fisik dan apapun itu yang membedakan.
"Cuma itu saja ?" gerutu Gilang dalam hati. Tidak biasanya dia dicuekin perempuan. Baru kali ini dia menemui perempuan yang tidak ada basa-basi, tidak merayu. "Perempuan kok gitu?" gerutunya sambil memperhatikan Dian yang sedang beres-beres di mejanya.
**********