"Kamu mau buah ?" Gilang menaruh dua gelas air putih ke atas meja. "Boleh," jawab Dian tersenyum. Gilang membalikan badanya lalu beranjak mengambil buah potong di meja prasmanan. Dari kejauhan, Dian bertopang dagu memandang atasan yang kini menjadi pacarnya. Berperawakan tegap, tinggi, berparas tampan, kaya raya. Rasanya bila ini mimpi indah, Dian enggan terbangun. Biarlah Dian tetap terjaga dalam mimpi yang tak usai. "Sudah !" menaruh sepiring potongan buah. Tersontak Dian mendengar suara Gilang. Nyawanya kembali ke dalam raga seketika. Mereka pun menyantap hidangan breakfast hotel. Ditengah santap makan, mereka bersenda gurau tentang pengalaman menonton konser tadi malam. Gilang berujar kalau selama ini, menonton konser hanya sendirian. Dian men

