Gemerlap cahaya lampu gedung menyala bergantian menghiasi langit Jakarta. Antrian kendaraan padat merayap dijalan raya mengular tidak putus-putus. Lampu tanda panah ke bawah di lift menyala hijau, orang-orang berwajah lusuh mengantri gelisah di depan lift.
Di dalam ruangan, meja-meja mulai sepi ditinggalkan penghuninya. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh sore, seperti biasa Rini sudah meninggalkan mejanya. Tinggalah Dian dan beberapa orang jauh di belakang sana sedang bergegas pulang.
Dian masih sibuk menjawab email customer, memberesi dokumen dan mencatat pekerjaanya besok.
"Kamu teladan juga ya, cukup bertanggung jawab" sindir Gilang di depan meja Dian.
Dian berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah Gilang. Dilihatnya kemeja biru kusut dengan lengan digulung, rambut klimisnya sudah kering dan acak-acakan. Dia tidak karuan lagi.
"Oh, ini sebentar lagi sudah selesai kok" jawab Dian tersenyum.
"Memangnya, kamu tadi siang kemana saja ?" Gilang mendekat.
"Aku makan siang sama Adit, tapi cukup jauh tempatnya," jelas Dian masih tersenyum menyembunyikan kegugupan.
"Oh gituh ! Yasudah, aku pulang duluan," jawab Gilang bermuka masam.
Dia lalu pergi tanpa menoleh lagi ke meja Dian.
"kok dia marah ya ? Tumben tidak menawarkan pulang bareng," gerutu Dian dalam hati. "Dasar orang aneh!" sambil merapikan lembaran kertas di atas meja.
Kringg....kriingg......Adit Calling
"Iyah..." Dian menjawab telepon.
"Kamu masih di meja ?"
"Masih kok, lagi beberes"
"Aku ke sana ya, kita pulang bareng. Tunggu yaa" Adit menutup telepon.
"iih, belum bilang iyah tapi udah ditutup. Gimana sih !"
********
Brruuum....deru suara vespa matic Gilang melaju konstan melalui jalan raya yang mulai sepi. Semilir angin malam berhembus menusuk kulit mulusnya. Sesekali Gilang menoleh kaca spion, biasanya dia bisa memandang wajah lugu nan manis.
"Sepi juga yah!" gumam Gilang dalam hati. Gilang termenung di bawah lampu merah, terlalu lama menunggu lampu hijau menyala sampai focusnya terpecah. Pikiran curiga pun kembali menghantui, menjadi pertanyaan besar dalam kepalanya. "Dian tadi tuh ngapain ajah sih, kok lama sekali kembali ke kantor"
Tiintt....tinttt...suara klakson saling bersahutan di belakang memecah pikiran buruk. Gilang pun melaju perlahan ke depan, dan menepi. Dilihatnya jam tangan, sudah lima belas menit dia meninggalkan kantor. Dirogohnya saku celana dan tasnya, "Yaa, ampun ! Handphoneku" Gilang bergegas putar balik kembali menuju kantor.
********
"Dit, rumah aku jauh loh! Kamu yakin mau antar sampai rumah ?" Dian bergegas meraih tasnya. Selama dia menyelesaikan pekerjaan, rupanya Adit duduk menemani sambil asik sendiri bermain game. Sesekali dia membuka obrolan.
"Iyah beneran, nggak apa-apa kok" Adit beranjak berdiri dari bangku.
Dian tersipu malu, baru kali ini dia pulang malam, ditunggu laki-laki. Terlebih lagi, Adit membeli makan malam dan menyantapnya sama-sama.
Kenal saja baru sebentar, tapi terasa sudah lama berkenalan. Adit memang mempesona, dan perhatian. Pertanyaan besar dalam hati Dian. Apa benar orang seperti dia masih sendiri ?
Waktu menujukkan jam delapan lewat lima belas menit. Masih ada beberapa petugas gedung berlalu-lalang dan beberapa karyawan yang beranjak pulang.
Pruk....pruk...prukk... hentakan suara sepatu berlari cepat dari lorong lift semakin mendekat.
Dian dan Adit berjalan membicarakan arah pulang mereka sambil bersenda gurau. Tiba-tiba Dian berhenti bicara, menatap heran dari arah lorong.
"Dian, kamu belum pulang ?" tegur Gilang. Dia pun melihat sinis Adit yang berdiri berdampingan Dian.
"Ini baru mau pulang Pak, kok balik lagi ?"
"Ooh, saya mau ambil handphone di meja" jawab Gilang ketus.
"Mau saya temani Pak ?" sahut Adit menawarkan diri.
"Ooh boleh kok, boleh !" kesempatan Gilang bertanya-tanya.
"Dian, kamu tunggu disini ya." ujar Adit.
Mereka jalan kembali melalui lorong dan meja-meja kosong sudah ditinggal penghuninya.
"kamu pacarnya Dian ?" Gilang meliriknya sinis.
"Oh, saya lagi deket ajah sama Dian. Saya lagi cari calon istri Pak." jawab Adit tersipu malu.
Gilang balas secuil senyuman meliriknya sinis. Dilihatnya penampilan Adit dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang secara penampilan dia Good Looking, orang yang humble.
"kamu sebagai apa disini ?"
"saya spv staff marketing di lantai enam"
Gilang tidak menanggapi balik, hanya secuil senyuman "Ooh cuma spv !" ujarnya dalam hati.
"Uhm, kamu tadi bilang di lantai enam kan ya ?"
"Iyah Pak !"
"Oh berarti kamu anaknya Pak Anton dong ya ?" Gilang mencoba mengulik.
"Iyah Pak, Pak Anton manajer saya" jawab Adit tersenyum.
Alis kanan Gilang naik sebelah, raut wajahnya seperti merencanakan sesuatu. Secuil senyum sinis tergores kecil dibibirnya. "Oh, Pak Anton toh ! Gampanglah itu." gumam Gilang dalam hati.
********
Redup cahaya lampu bersinar di sekeliling langit-langit kamar tidur Gilang. Lantai kayu berwarna coklat gelap, cat dingding abu-abu, sofa hitam dan king bed berwarna putih. Tidak banyak aksesoris menarik di kamar laki-laki seperti Gilang.
Dia menyukai kerapihan, dan hal-hal yang menurutnya simple nan elegan. Di hadapan kasurnya televisi berlayar lebar hampir jarang dinyalakan. Gilang tidur berguling-guling dengan mata terbuka di kasur yang besar itu.
Hhhhh.....! Gilang menepis selimutnya. Dia bangkit duduk di atas kasur sambil menggaruk kepala. Yaa, kepalanya tidak gatal sih! Tapi dia gelisah sendiri sebelum tidur.
"Ternyata benar kata Mama, harus cepat-cepat cari teman tidur" gerutunya sendiri, kembali bersandar di papan King Bed.
Dia masih menggaruk rambutnya meski tidak gatal kepalanya. Pikiranya masih melayang di luar kamar, bahkan sampai ke luar rumah. Ya ampun ! Rupanya begini jadi orang dewasa, susah tidur. Gelisah sebelum tidur ! Badan sudah di kasur tapi pikiran kabur dari luar rumah.
Gilang turun dari kasurnya beranjak ke kamar mandi. Di depan wastafel dia bercermin sambil berbicara sendiri.
"Gilang, Gilang..... Kamu tuh tampan, kaya raya, apa lagi coba ? Masa gitu doang kamu kalah !" tanganya memegang kedua sisi wastafel erat-erat.
Kran terbuka kencang mengucur deras air sampai luber membasahi telapak kaki mulus Gilang. Tersadar Gilang, air itu sudah memenuhi wadah wastafel, dia malah mencelupkan wajahnya ke dalam air.
Dingin ! Kepala ini memang butuh didinginkan. Segala pikiran sedang bercampur, segala prasangka sedang bergulat tanpa henti, segala urusan masih menempel di sela-sela kepala.
Semenit mendinginkan kepala, dia mengelapi wajahnya dengan handuk kecil yang selalu tergantung di atas wastafel. Tatapanya masih kosong sambil berjalan kembali ke atas kasurnya.
Apa ini rasanya gelisah karena jatuh cinta ? Sial !!! Sungguh menyiksa. Dian, perempuan itu, yang bisa membuat siksaan batin hingga sulit memejamkan mata. Apa dia bodoh ? dia tidak peka ? atau dia sengaja membuat Gilang tidak bisa tertidur malam ini. Ah, sihir macam apa ini !
Handphone tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya. Gilang meraih handphone itu, membuka history chat w******p. "kapan yaa aku terakhir chat Dian?" gerutu Gilang dalam hati. Dilihatnya foto Dian, dan itu sudah muncul tanggal, bulan dan tahun terakhir chat. Berarti sudah cukup lama mereka tidak saling sapa di w******p.
Klik.....tanpa ragu Gilang memencet icon telepon w******p. Berkali-kali menghubungkan namum tidak ada jawaban. "Oh mungkin, tidak ada sinyal internet" pikir Gilang masih berprasangka baik. Dia coba lagi menelpon ke nomor Dian.
Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk !
"hah, sibuk ?" Gilang bingung. Malam-malam begini, Dian sibuk ? Susah ditelepon.
Tapi Gilang tidak berputus asa, dia kembali mencoba menghubungi nomor Dian.
Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk !
"Tidak biasanya ! Nelpon siapa dia, malam-malam begini ?" gerutu Gilang.
Hampir lima kali ditelpon tapi jawabanya tetap sama, sedang sibuk.Gilang menghelakan nafasnya, semakin kesal dalam lubuk hatinya. Rasa penasaran dan prasangka tidak baik semakin memuncak di kepala. Tapi badan ini sudah lelah melayani segala tanya penasaran dan prasangka buruk.
Dia membaringkan tubuhnya ke atas kasur perlahan melepaskan segala pikiran jelek yang meneyelimuti. Sudahlah, masih ada hari esok untuk ditemui. Tidurlah yang lelap Tuan Muda. Siapkan rencana matang untuk hari esok.
********
Awan gelap menggumpal menyelimuti seluruh langit Jakarta. Reruntuhan daun berterbangan mengikuti arah angin. Ranting-ranting pohon bergoyang kencang, dan semakin kencang. Wajah-wajah gelisah sesekali menoleh ke arah kaca gedung memandang langit.
Segelintir dari mereka tetap beranjak dari meja, ada lagi yang tetap berada di meja bersantai sejenak. Di pojok sana, ruangan sang pemimpin nampak kosong dan gelap. Suram tidak ada cahaya, terlebih lagi mendung dari luar. Ini sudah setengah hari berjalan, tapi Gilang tak kunjung datang. Memang biasanya dia tidak di kantor. Entah ada meeting di luar, atau keluar kota sebentar.
"Rin, Pak Gilang ada meeting diluar ?" Dian penasaran.
"Uhm, nggak tahu deh ! Nggak ada kabar. Kangen ya, tanya-tanya ?" tanggap Rini meledek.
"Yaa enggak sih, tumben ajah sepi" Dian mengelak. Dalam hati, ingin rasanya bertanya di whatssapp dia ada di mana saat ini.
Apa mungkin ya, dia marah ? Karena tadi malam pulang bareng Adit ? Ah, bukan, bukan ! Jangan ge'er dulu Dian ! Siapa tahu tiba-tiba dia sakit. Sakit ? Kalau pun sakit, dia sakit apa yah ? Kemarin baik- baik saja kelihatanya.
"Diiaan....." suara lembut memanggil, terdengar dari samping meja.
"Oh, iyah!" membuyar semua lamunan Dian tentang Gilang.
Rupanya Adit sudah berdiri di samping mejanya bersiap mengajaknya makan siang.
"Ciieee, yang lagi deket! Disamperin melulu nih" ledek Rini.
"Nggak apa-apa kan ya ?" sahut Adit tersenyum.
"Nggak apa-apa kok, Dian mah bawa pulang ajah ! Ga akan ada yang marah" canda Rini.
"Loh, Dian ! Kamu kenapa ? Sakit ?" Adit heran melihat wajah Dian agak murung.
"Oh, enggak kok ! Nggak apa-apa" tepis Dian tersenyum.
"Eh kita makan siang dimana nih ?" tanya Adit.
"Di kantin bawah ajah, soalnya diluar hujan tuh!" jawab Dian.
"Aku diajak dong !" sahut Rini sambil mengambil dompetnya.
Baguslah, jadi Dian tidak berdua banget dilihat orang. Apalagi kalau tiba-tiba siang nanti Gilang datang dan melihat, bisa-bisa dia badmood lagi.
Mereka pun beranjak pergi menuju kantin bawah. Berat rasanya langkah kaki Dian beranjak meninggalkan meja. Memang dia membawa bekal, dan sudah menandai drama mana yang akan dia tonton jam makan siang. Terlebih lagi, Gilang yang tidak kunjung datang, membuatnya semakin khawatir.
********