Setelah jam kerja selesai mereka pun pulang, anhi barengan dengan Anha karena mereka satu kost, Yuli di jemput oleh ayahnya dan novi di jemput oleh kakaknya, sedangkan kak dila dia sedang menunggu ojek hello ojek di jam 4 apakah masih ada, karena tidak tega tian mengajak kk dila pulang bareng dan kak dila tidak menolak karena di jam segini ojek memang sudah jarang, Tian mengantarkan ke alamat yang di katakan kk dila dan sampai lah Tian di rumah yang sederhana tetapi terlihat bahagia karena anak-anak yang berlarian sambil tertawa, kak dila menyuruh tian untuk singgah , dan tian turun dari motornya. dan duduk di tempat duduk di bawa mangga.
" Maaf ya, rumah aku kecil" ucap kk dila sambil meletakkan teh dan beberapa kue , kemudian duduk di sampingku
"Enggak kok kak, buat apa rumah besar jika tidak ada kebahagiaan didalamnya, meskipun sederhana tetapi terdapat kebahagiaan itu adalah luar biasa" ucapku
"Hehehe, sempat kamu tidak mau berteman denganku karena aku miskin"
"Enggak kok kak harta bukanlah jaminan untuk berteman, sifat dan kepribadian lah yang menentukan itu"
" Hmm, oh iya minum tehnya cuma teh dan kue sederhana"
"Mmm, tapi enak loh kak, serius kayaknya aku bakalan sering kesini deh,hehe"
"Aku kebelakang sebentar yah mau ke toilet"
"Iya kak" tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan menyapa ku
"Iya nak sering-sering kesini yah, nanti tante bikinkan kue"
"Serius Tante, boleh deh nanti aku sekalian belajar bikin kue ya tante"
"Iya, kamu temannya dila kerja ya"
" Iya tante tapi aku baru masuk hari ini"
"Oh, tapi maaf ya rumah kami kecil"
"Enggak kok tante ini bagus kok"
"Rumah ini kerja keras dila dia perbaiki sedikit demi sedikit, dari atap, dinding dan lantainya, kami cuma bergantung padanya karena ayahnya sudah meninggal kakak pertamanya bekerja di sawah orang, kakak keduanya sudah menikah dan tinggal di rumah istrinya, adiknya juga ikut suaminya jika bukan dila kami mungkin tidak akan makan, dia adalah tulang punggung keluarga ini dia yang membiayai kelima keponakannya, jika bukan dia mungkin keponakannya tidak akan sekolah, dia sudah mau memasuki umur 30 tetapi belum ada keinginan untuk menikah karena memikirkan kami, terkadang saya merasa bersalah tetapi saya hanya bisa membantu berjualan di rumah agar ada sedikit pemasukan seperti ini."
" Oh iya anak-anak itu siapa" sambil menunjuk beberapa anak-anak ada yang sudah remaja ada yang seusia aku dan ada yang sekitar masih anak SD
"Oh itu keponakannya dila, mereka memang suka bermain bersama anak tetangga, hei, kemari sebentar" ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah anak-anak tersebut. Tak lama ada lima anak perempuan yang mendekat dan duduk disampaikan ibu kk dila
"Kenalkan, ini yang anak pertama namanya Yani, dan ini yang kedua namanya putri, yang ketiga namanya Fitri yang keempat namanya Inna dan yang terakhir namanya salsa"
"Oh, hai, nama saya tian temannya kak dila" sambil menjulurkan tanganku menjabat satu persatu tangan mereka, mereka tersenyum dan menyambut uluran tanganku.
"Nek , kami masuk kedalam mau bersih-bersih dulu habis main bau keringat lagi pula udah sore"
"Iya"
"Mari kak"
"Eh,iya"
"Tante saya juga pamit udah sore, nanti orang rumah nyariin lagi"
" Tunggu dila dulu na" tak lama kk dila keluar dan aku berpamitan untuk pulang
Saat sampai di rumah aku melihat orang berkumpul di ruang tamu
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
"Sini duduk dulu sayang, gimana hari ini capek nggak, mau ibu pijit"
"Enggak kok bu, kerjanya santai kok bu , tadi habis nganter teman jadi agak lama pulangnya, bu aku mandi dulu badan aku terasa lengket karena keringat."
"Iya sayang"
Saat sampai di kamar aku langsung mandi dan merebahkan diri di tempat tidur aku berfikir ternyata masih ada orang yang hidupnya jauh lebih sulit tetapi tetap bahagia dan bersyukur, kemudian Tian bangkit dan turun kebawah. Melihat ayahnya sedang menonton TV
"Yah"
"Iya sayang, gimana pekerjaan kamu"
"Baik yah, nggak sulit kok lagi pula aku ada teman semuanya baik sama aku"
"Benarkah, baguslah jangan pernah mencari musuh di mana pun, kamu harus selalu sabar menghadapi teman kamu, mengerti"
"Iya yah, kalau ayah gimana hari ini di bengkel"
"Alhamdulillah, ayah dapat proyek buat memperbaiki mobil kontraktor"
"Alhamdulillah, oh iya nanti kalau Ian gajian nanti ian traktir ayah makan bakso gimana"
"Boleh boleh"
Mereka pun menonton acara stand up comedy di tv mereka berdua memang memiliki kesukaan yang sama berbeda dengan kakaknya Anton yang lebih suka menonton berita, jika Anton ada mereka akan berebut remote tv layaknya anak kecil untung Anton masih ada dikamarnya jadi mereka bebas menonton sepuasnya, mereka menonton sambil tertawa sampai perut mereka sakit karena tertawa, hingga ibu datang menghidangkan makanan ringan dan teh, tian meminum teh sambil melirik tangga dimana Anton dan kakak iparnya sedang turun dengan cepat dia mengambil remote dan menyembunyikan di dalam bajunya. Mau tidak mau anton terpaksa menonton acara TV kesukaan adik dan ayahnya, meskipun tetap ikut tertawa, kemudian semuanya berkumpul adik dan kakaknya mereka berkumpul di depan tv sambil menonton dan saling menjahili satu sama lain.