"Uhuy!" Olivia meringis ketika Davin dengan sengaja menekan kompres di dahinya yang memang sudah memar akibat terbentur ujung meja tadi. Davin yang sedang fokus juga terkejut dengan suara Olivia mirip seperti bapak-bapak yang sedang bermain dengan burung peliharaan. "Kamu kalau sakit teriaknya kayak gitu?" Davin menatap Olivia dengan sebelah alis terangkat, sementara tangannya sibuk memasang plester di dahinya. "Tapi, waktu malam kita menghabiskan di kamar itu, saya nggak ada dengar kamu teriak kayak gitu waktu saya perawa--" Davin tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi ketika tangan Olivia dengan entengnya langsung menutup mulut pria ini. "Pak, yang benar aja. Masa bapak harus memperhatikan gaya teriak saya?" Perempuan itu melotot dengan warna merah yang menjalar di pipinya. Hei,

