Bagian 14

1285 Kata
Hari-hari Ovi jalani dengan bahagia. Tidak ada lagi pengganggu dalam hubungan mereka. Bella sudah pindah, mungkin kini hubungannya akan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Setiap hari keduanya tampak tampil bersama. Dan tak sedikit juga mahasiswi lain yang iri ketika Ovi mendapat perlakuan manis dari Reon. Contohnya seperti beberapa waktu yang lalu ketika keduanya sedang menikmati makan siang di kantin. “Kamu mau mati pakai sambal sebanyak itu?!” kata Reon dengan sedikit meninggikan suaranya. Bagaimana pemuda itu tidak marah ketika dengan seenaknya Ovi menuangkan sambal bakso sebanyak lima sendok. Coba bayangkan, bagaimana kesalnya Reon saat itu. Dengan sigap tentu saja pemuda itu menjauhkan wadah yang berisi sambal sedikit menjauh dari jangkauan Ovi dan gadis itu memberenggut kesal. “Apa-apaan, sih, Re. Cuma dikit doang,” bela gadis itu yang tidak ingin disalahkan. “Sedikit kamu bilang? Kamu punya penyakit tifus dan mag. Bagaimana kalau penyakit kamu kambuh? Siapa yang bakalan repot kalau kamu jatuh sakit? Bunda kamu. Memang kamu nggak kasihan sama orang tua kamu?” cecar pemuda itu yang membuat Ovi menunduk merasa bersalah. Gadis itu terlalu bersemangat karena sudah beberapa minggu ini tidak makan bakso. Bakso adalah salah satu makanan favoritnya dan biasanya ia akan menambahkan sambal yang banyak. “Maaf,” lirihnya. Pemuda ini menghembuskan napasnya dan sedikit merasa bersalah karena membentak kekasihnya. “Lain kali jangan kayak gini lagi. Boleh makan, tapi jangan terlalu banyak. Pikirin badan kamu dan sebab akibat apa aja yang kamu dapat kalau makan makanan itu,” nasihat Reon sambil memindahkan lagi sambal yang tadinya sempat tertuang. “Eh? Kok dibalikin lagi?” protes Ovi dan Reon menggeser mangkuk bakso yang ia miliki ke depan Ovi. “Kamu makan punya aku, punya kamu biar aku yang makan,” jelas Reon sambil memasukkan makanan berbentuk bulat itu ke dalam mulutnya. Gadis itu sedikit meringis karena itu pasti pedas sekali meskipun tadinya Reon sudah mengurangi sambal yang dituangnya. Ovi memilih makan dalam diam, sesekali dia melirik Reon yang santai menyantap baksonya. Sorry, Re. “Nggak usah merasa bersalah. Kalau kamu sakit gara-gara bakso ini maka aku yang paling merasa bersalah di dunia ini,” kata Reon seperti bisa membaca pikiran Ovi. “Ini hari terakhir kamu makan bakso,” lanjut Reon yang membuat gadis yang berada di sebelahnya membola terkejut. “Ta—” “Sttt. Kamu tau sendiri, kan, aku nggak suka cewek pembangkang? Jadi, turuti apa yang aku bilang sekarang. Dalam sebulan, kamu hanya boleh makan bakso satu atau dua kali. Paham?” Tentu saja gadis ini mengangguk patuh pasalnya baru saja ia ingin mengatakan keberatannya dan pemuda itu tiba-tiba saja membungkam mulut gadis itu dengan tangannya. Dan jangan lupakan jarak mereka yang dekat. Terdengar beberapa bisikan dari sekitar mereka, tentu saja refleks Ovi sedikit menjauhi Reon. Dia sedikit gugup dengan barusan yang terjadi. Dan pada akhirnya keduanya meneruskan makan siangnya. Reon pun juga ikut diam karena sedikit terkejut dengan tindakan yang ia ambil barusan. Aldo: Gue tunggu di tempat biasa “Terima kasih, Re,” ujar Ovi ketika keduanya telah sampai di depan halaman rumah gadis itu. Reon yang baru saja membaca pesan Aldo pun beralih kepada kekasihnya. “Sama-sama. Jangan lupa nanti belajar buat kuis besok,” peringat Reon yang diangguki oleh Ovi. Sepeninggalan Reon, gadis itu segera memasuki rumahnya. Tampak di depan ada mobil sang Papa. Tentu saja gadis itu senang, karena sudah beberapa hari ini papanya tidak pulang. Mungkin sibuk dengan pekerjaan di luar kota. “Assalamualaikum,” salam gadis itu. “Waalaikumsalam,” jawab Rika dan Dika selaku orang tua Ovi. Gadis itu segera berhambur memeluk sang papa. Sudah lama sekali dia tidak bertemu papanya. “Papa pulang?” tanya gadis itu dengan raut muka berbinar bahagia. Berbanding terbalik dengannya, Dika malah ingin menangis, kemudian dia memeluk erat anak satu-satunya yang ia punya saat ini. “Iya, Papa pulang, Sayang,” lirihnya. Rika yang menyaksikan bagaimana rindunya kedua orang yang paling ia sayangi pun menitikkan air mata bahagia. “Yeay! Kangen banget sama Papa,” kata gadis itu dengan nada manjanya. "Papa juga kangen," balas Dika seadanya. Kemudian Ovi duduk di antara kedua orang tuanya. Ia senang sekali hari ini bisa berkumpul lagi seperti ini. “Sayang, Bunda dan Papa mau bicara serius sama kamu,” kata Rika. Tentu saja Ovi diam dan memilih untuk mendengarkan semua perkataan orang tuanya. Gadis itu adalah gadis yang penurut. Dika memegang satu tangan anaknya. Membelainya lembut sambil menatap lekat sang anak dengan penuh kasih sayang. “Kamu tau kalau Papa sayang banget sama kamu,” kata Dika sambil menahan tangisnya. “Dulu, saat Bunda dan Papa baru menikah, kita menantikan sekali kehadiran kamu. Bahkan kita sampai putus asa, tapi setelah kamu hadir, semuanya jadi berbeda. Kebahagiaan kita semakin bertambah. Kamu tau kenapa?” tanyanya dan Ovi hanya menggeleng. “Itu karena kamu. Kamu adalah sumber kebahagiaan kami,” sambung Rika yang tak kalah terharunya. “Ovi, Papa minta maaf kalau selama ini belum bisa menjadi Papa yang baik buat kamu, selalu tinggalin kamu dan mentingin pekerjaan. Papa—” “Sstt, Papa nggak boleh bicara kayak gitu. Papa adalah Papa terbaik yang Ovi punya. Ovi sayang dan bangga punya Papa,” potong gadis itu yang membuat Dika sendiri semakin sedih. “Ada hal penting yang mau Papa sampaikan. Tapi sebelum itu, kamu harus tau kalau kita berdua sayang banget sama kamu. Apa pun keputusan yang Papa ambil nanti adalah yang terbaik buat kalian. Papa hanya ingin kalian bahagia. Kamu paham, kan, Sayang?” Ovi pun mengangguk. “Papa dan Bunda akan berpisah,” lanjut Dika yang membuat Ovi sendiri mengernyit bingung. “Pisah gimana, Pa? Papa ditugaskan di luar kota?” tanya gadis itu polos. Rika yang sudah tidak bisa membendung air matanya pun langsung menangis sambil memeluk sang anak. “Kok Bunda nangis? Jangan nangis, Bun.” “Maaf, Sayang. Maafin Papa. Ini semua karena Papa. Papa bukan Papa yang baik untuk kamu,” lirih Dika merasa bersalah. “Papa, kok, bicara gitu terus? Papa itu Papa Ovi yang paling baik.” “Tidak, Sayang. Papa dan Bunda sebentar lagi akan bercerai. Papa minta kamu menerima keputusan ini.” “Apa?! Ber ... ce ... rai?” Gadis itu terlihat syok. Ia pikir Dika akan ditugaskan di luar kota yang mengharuskan mereka berpisah sementar waktu, tetapi ternyata .... “Papa nggak lagi bercanda, kan? Jangan bercanda, Pa, nggak baik. Ulang tahun Ovi juga masih lama,” ujar gadis itu yang tidak mempercayai apa yang diucapkan orang tuanya. “Papa serius, Sayang. Maafin Papa. Ini salah Papa.” “Nggak! Papa apa-apaan, sih! Ovi nggak suka ya Papa kayak gini!” kesal gadis itu. Ia berharap semua yang didengarnya itu tidaklah benar. Untuk apa kedua orang tuanya bercerai? Mereka baik-baik saja dan tidak pernah bertengkar sedikit pun. “Sayang, tolong terima keputusan kami.” Dika merasa bersalah kepada Ovi dan Rika. Kalau saja ia tidak tergiur dan di bodohi oleh temannya, maka keluarganya tidak akan seperti ini. Semua adalah salahnya. “Nggak! Ini semua nggak benar, kan, Bun?” isak gadis itu yang tidak terima dengan semuanya. “Sayang, Papa minta kamu untuk jaga Bunda. Jagain Bunda, jangan sampai Bunda sendirian, ya. Reon, dia pemuda yang baik. Papa berharap dia bisa jaga kamu dan tidak pernah melukai kamu. Papa sayang sama kamu, Ovi.” “Papa ... Papa mau tinggalin Ovi?” “Maaf, Sayang. Papa terpaksa melakukan ini semua. Waktu Papa tidak banyak,” kata Dika dan sontak saja gadis itu memeluk erat orang tuanya. Orang tua yang puluhan tahun hidup bersamanya. Keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini. “Pa, jangan tinggalin Ovi.” “Nggak, Sayang. Papa nggak akan pernah tinggalin kamu. Di sini,” kata Dika sambil menujuk bagian jantung anaknya. “Papa akan selalu ada di sini.” Gadis itu menangis lagi menumpahkan kesedihannya. Dan di hari itu, semuanya berubah. Gadis itu memang tegar dan selalu tersenyum, tapi, dia hanyalah manusia biasa. Memiliki jiwa yang rapuh. Menyaksikan kedua orang tuanya berpisah bukanlah hal mudah. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Protes pun tidak akan merubah segalanya karena yang menjalani hidup dan mengucapkan janji pernikahan adalah Rika dan Dika. Gadis ini hanyalah tali pembatasan yang menghubungkan dua manusia itu. Namun, bagaimana jika salah satunya pergi? Apakah tali pembatas itu akan tetap kokoh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN