Ovi: Buku lo keren banget. Ini salah satu novel terbaik yang pernah gue baca. Gue sendiri sebagai pembaca gampang banget untuk larut dalam cerita yang lo tulis. Btw, ini ceritanya manis banget sumpah. Saran aja sih di beberapa bagian banyakin dialognya. Jujur, gue tipa pembaca yang lebih suka banyak interaksi antar tokoh daripada narasi yang panjang banget. Overall, gue suka pake banget novel lo. Gue tunggu buku lo selanjutnya.
Gadis itu telah selesai membaca novel yang beberapa minggu yang lalu telah ia beli. Butuh beberapa hari untuk menyelesaikan satu novel ini. Unwanted Marriage, itu judul novel yang Leo tulis. Ovi sendiri tidak habis pikir bagaimana pemuda itu bisa menulis cerita semanis ini. Bahkan gadis ini baper dengan tulisan-tulisan serta interaksi antar tokoh. Meskipun sad ending, namun dia puas dengan novel yang dibelinya itu. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dia langsung mengirim pesan singkat kepada penulisnya secara langsung. Tentunya pesannya pun tampak dibalas langsung oleh temannya itu.
Leo: Thanks, Vi. Untuk next time gue bakalan nyeimbangin antara dialog dan narasi. Terima kasih untuk sarannya.
Ternyata begini rasanya punya teman penulis. Teman? Ya, mungkin mereka sudah sampai tahap itu. kemudian ponselnya pun kembali berbunyi. Dia pikir Leo kembali mengiriminya pesan ternya tidak. Itu adalah pesan dari Reon.
Reon: Belajar!
Ovi yang baru saja mendapat pesan dari kekasihnya itu pun nampak terkejut. Astaga, dia lupa jika Reon pasti tahu segala gerak geriknya. Contohnya saat ini, padahal dia sedang berada di kamar.
Setelah mengirim pesan balasan, gadis itu kembali membuka buku yang tadi sempat ia tutup. Astaga, tugas lagi. Dulu dia berpikir jika masa kuliah akan membahagiakan, terlebih lagi tidak akan banyak tugas yang ia terima. Namun, semua hanya angan. Sialnya tugas lebih banyak dibanding saat sekolah dulu. Seketika Ovi ingin kembali ke masa SMA-nya. Bisa bertemu dengan teman-teman lamanya terutama Cia.
“Kapan lo balik, Ci,” lirih Ovi sedih ketika lagi dan lagi dia mengingat sahabat lamanya itu. Bahkan ini sudah tahun ketiga, tapi gadis itu tidak ada niatan untuk kembali.
“Pi, pokoknya sampai kapan pun kita tetap sahabat. Paham?” kata Cia membuat sebuah janji dengan Ovi di sebuah bukit kosong belakang sekolah.
“Iya, paham,” jawab Ovi.
“Pokoknya kalau lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Sebisa mungkin gue akan bantu lo,” lanjut Cia.
“Iya gue tau. Lo juga, seberat apa pun masalah yang lo punya, lo harus cerita ke gue. Janji?” kata Ovi sambil menyalurkan jari kelingkingnya yang disambut baik dengan Cia. Dua jari kelingking kecil itu saling bertautan menandakan janji yang telah mereka buat.
“Lo bilang kita akan bareng terus. Tapi, kenapa lo pergi, Ci?” lirih Ovi saat mengantar sahabatnya di bandara. Hari ini Cia akan bertolak ke Singapura untuk meneruskan pendidikannya dan juga menata hatinya yang dirundung kebimbangan.
Cia yang tidak tega melihat sahabatnya menangis tersedu-sedu pun mencoba menenangkan gadis itu. Satu pelukan lama mungkin akhir dari pertemuan mereka saat itu. Saling menumpahkan kerinduan karena tidak akan berjumpa dalam jangka waktu yang lama.
“Lo sahabat gue, Pi. Sampai kapan pun lo akan jadi sahabat gue. Maaf karena gue ambil keputusan ini. Maaf karena ingkar janji. Tapi, gue janji suatu saat ini kita akan bertemu kembali. Dan gue harap, setelah gue balik ke sini, lo berubah. Jadi Opi yang lebih baik dari ini, selalu ceria dan nggak boleh nangis,” ujar Cia sambil menahan tangisnya. Opi yang memang dasar perasa pun kembali menangis tersedu-sedu, dan lagi lagi Cia harus menenangkan sahabatnya itu. Untung jam keberangkatannya masih lama.
“Sudah, Pi, malu dilihat banyak orang,” ejek Cia bermaksud menghibur Ovi dan gadis itu merenggut kesal.
Cia kembali berpamitan kepada semua orang ketika panggilan dari pesawat yang akan ia tumpangi terdengar. “Pi, gue titip Bang Reon. Please jaga dan temani dia selama gue nggak ada di sini. Gue harap lo bisa tahan dengan dia. Lo jangan khawatir, Bang Reon itu baik, cuma memang dia sedikit dingin,” bisik Cia yang hanya didengar oleh Ovi tentunya. Dan Ovi pun hanya mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
“Gue udah pegang janji gue, Ci. Lo kapan pegang janji lo? Kapan lo balik?” lirih gadis itu. Dengan segera dia menghapus jejak air matanya. Tidak, dia tidak boleh menangis. Seberapa keras pun dia menangis, Cia tidak akan di sini. Ovi selalu berdoa agar sahabatnya itu bahagia di sana. Jangan sampai Cia mengalami hal buruk. Untuk janjinya yang selalu berada di samping Reon, Ovi sudah melakukannya. Dia sudah terlanjur membuat janji itu, dan dia tidak akan pernah bisa lepas dari ikatan tali tak kasat mata yang sudah Reon buat.
Ovi: Cepat balik, Ci. Gue kangen.
Ovi menutup cepat ponselnya takut-takut Reon kembali memergokinya tidak belajar. Ya, dia mengirim pesan singkat kepada sahabatnya itu. Meskipun sudah berpuluh-puluh bahkan ratusan pesan yang ia kirim nyatanya berakhir tidak dibaca oleh si penerima.
Dering telepon mengagetkan gadis itu yang masih memikirkan sang sahabat. Dengan sigap Ovi mengambil ponselnya dan nama REON tertera di sana. Astaga, pasti pemuda itu akan memarahinya karena tidak belajar dengan serius. Ovi mengatur napasnya, kemudian dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
“Halo, Re.”
“Halo.”
“Ada apa, Re?”
“Kamu nggak belajar?”
“Be-lajar, kok.”
“Jangan bohong. Suara kamu kenapa beda?”
“Ha? Beda gimana? Sama aja, kok.”
“Beda.”
Gadis itu menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa gugupnya. Seperti biasa, dia tidak ahli dalam berbohong.
“Angkat video call-ku.”
Dengan sigap layar berubah menjadi muka Reon yang selalu tampan dalam keadaan apa pun. Sempat kagum beberapa detik hingga suara dingin sang kekasih membuyarkan lamunan gadis itu.
“Nangis?”
“Eh-eng-nggak, kok. Ini cuma kelilipan tadi,” kata Ovi mencoba berbohong semaksimal mungkin.
“Kamu tau kalau aku nggak suka cewek pembohong?”
Gadis itu hanya menunduk. Lihatlah, dia tidak berani berbohong di depan Reon. “Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Karena sudah bohong.”
“Hmmm. Kenapa nangis?”
Ovi menggigit bibirnya gugup, tapi itu malah membuat Reon yang berada di ujung panggilan menjadi kesal sendiri. “Jawab!”
“A-aku ... emmm ... aku kangen Cia,” jawabnya menunduk sedih. Terdengar helaan napas di ujung sana. Jujur, Reon sendiri juga merindukan adik kecilnya itu. Ini semua karena dirinya, Cia pergi karena dirinya, itu berarti Ovi sedih juga karena dirinya.
“Cia baik-baik saja di sana. Kamu jangan khawatir.”
“Dia kapan kembali?”
“Aku nggak tau.”
“Kok nggak tau, sih! Kan kamu abangnya,” kesal Ovi tanpa sadar. Dan dia malah keceplosan berkata kasar. “Maaf, Re,” ujarnya yang dijawab sebuah deheman oleh Reon.
“Besok aku jemput,” kata Reon tidak terbantahkan dan tentu saja Ovi setuju. Jarang-jarang mereka bisa berangkat ke kampus bersama.
“Bun, aku tunggu Reon di depan, ya. Dia sepertinya sebentar lagi sampai, tadi sudah chat,” ucap Ovi berpamitan kepada sang bunda. “Salamin ke Papa kalau sudah bangun,” lanjut gadis itu tidak lupa mencium tangan Rika.
***
Ovi yang memang tampak bahagia karena akan dijemput oleh Reon pun tampak tampil segar pagi ini. Masih dengan sweater berwarnanya yang selalu membuat dirinya tampak seperti anak remaja. Tidak lupa tatanan rambut yang sederhana selalu ia pakai. Tidak menunggu waktu lama, mobil Reon telah berada di depan rumah Ovi, dan tentu saja gadis itu segera masuk ke dalam mobil.
“Pagi Reon,” sapa gadis itu dengan riang, serta tidak lupa senyum ceria yang selalu ia tampilkan mampu membuat sapa saja gemas termasuk Reon tentunya.
“Pagi. Sudah sarapan?” tanya Reon.
“Sudah. Kamu sudah sarapan?” tanyanya balik sambil memperhatikan Reon yang fokus menyetir.
“Belum. Temani makan boleh?”
“Boleh, dong. Mau sarapan apa kamu?”
“Yang ada aja.”
“Gimana kalau bubur? Lumayan buat perut. Nggak berat, dan cocok untuk pagi gini,” saran Ovi yang disetujui oleh pemuda itu.