Seorang gadis terus saja berlari. Dia tidak peduli dengan pandangan dari orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Kakinya bahkan sedikit lecet dan kotor juga karena hujan beberapa jam yang lalu selesai turun.
Niat hati ingin mengunjungi sang kekasih malah berakhir seperti ini. Awalnya Ovi hanya ingin memastikan jika semalam mimpinya tidak menjadi kenyataan.
“Pokoknya kita putus!” kata Ovi dengan lantang serta raut muka yang memerah. Reon yang tidak terima diperlakukan seperti ini pun segera meminta penjelasan kepada gadis itu.
“Ralat perkataan kamu barusan,” kata Reon dengan penuh penekanan.
“Nggak!”
Dengan keadaan menahan marah, pemuda ini membawa Ovi ke tempat yang sedikit privat, di dalam ruangan kantornya. Dan dengan sedikit kasar, dia melempar gadis itu ke sofa yang kebetulan ada di sana. Gadis itu sedikit meringis, tetapi ingin tetap mencoba mempertahankan kemarahannya.
“Coba kamu bilang sekali lagi,” perintah Reon.
“Aku mau kita putus,” tekan Ovi tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Sedetik kemudian Reon tertawa kencang, mengundang tanda tanya besar di kepala Ovi. Apa Reon gila karena udah gue putusin? batin Ovi.
“Kamu kenapa ketawa, sih! Oke, sekarang kita udah putus. Aku dan kamu nggak ada hubungan apa-apa lagi. So? Good bye,” kata Ovi yang segera beranjak dari sofa dan beralih menuju ke arah pintu mencoba meninggalkan Reon yang menggila.
“Sekali lagi kamu melangkah keluar dari ruangan ini, aku pastiin besok kita sudah jadi suami istri,” lirih Reon dengan penuh penekanan dan masih mampu didengar jelas oleh Ovi. Lantas, gadis itu pun seketika berhenti. Suami? Itu artinya mereka menikah? TIDAKKK!!
Dia pikir mimpi itu hanyalah bunga tidur yang tidak perlu ia khawatirkan. Namun, mungkin ini adalah pertanda. Gadis ini berhenti sejenak menetralkan detak jantung dan napasnya. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan jika Reon tidak mengejarnya. Mengejarnya? Dia tidak yakin jika pemuda itu akan mengejarnya, mungkin Reon masih asyik dengan Alifia.
“Mbak, ruangan Pak Reon di mana, ya?” tanya Ovi langsung kepada seorang wanita yang kebetulan menjaga meja resepsionis. Wanita bermake-up serta rambut disanggul itu pun memperhatikan penampilan gadis yang berada di depannya. Celana jeans, dan hodie berwarna pink serta sneakers yang dipakainya sudah mendiskripsikan jika gadis ini bukanlah seorang pekerja. Mungkin seorang pelajar SMA atau mahasiswi. Mahasiswi mencari Reon? Untuk apa?
“Maaf, Mbak, apa sudah buat janji?” tanya wanita itu balik dengan nada ramahnya.
Ovi menggaruk tengkuknya pertanda dia bingung dan gugup. “Belum,” jawabnya jujur. Toh dia mendadak ke sini hanya untuk memastikan mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Ya, Ovi akui jika selama berpacaran dengan Reon, dia belum pernah ke kantor kekasihnya itu. Salahkan saja Reon yang sama sekali tidak mengajak gadis itu ke sana. Padahal jika Ovi lihat, kantor pemuda itu bagus dan nyaman, namun kembali lagi seperti pemiliknya, masih ada kesan dingin dan horor. Horor? Reon memang horor di mata Ovi.
“Kalau begitu kau bisa buat janji dulu ke sekretaris Pak Reon. Atau jika dalam keadaan mendesak bisa hubungi sekretarisnya langsung.”
Ribet banget cuma mau ketemu Reon doang, batin Ovi dongkol. Namun, mau tidak mau dia mengiyakan perkataan wanita itu. Setelah diberitahu di mana ruangan Reon, Ovi segera berlalu dan mencoba mengingat kembali perkataan resepsionis itu.
“Naik lift lantai tiga, belok kanan ruangan paling ujung, pintu warna hitam,” lirih Ovi.
Gadis itu menghembuskan napasnya, mencoba menetralkan kembali napasnya. Oh iya, dirinya diminta untuk membuat janji lebih dulu. Dan wanita itu tadi bilang jika sekretarisnya biasanya ada di depan ruangan tempat Reon berada. Namun, Ovi lihat meja dan kursi di sana kosong.
“Yaudahlah bodo amat, mending gue masuk aja kali, ya,” ujarnya sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Dengan penuh harap adanya Reon di dalam, Ovi membuka knop pintu berwarna hitam itu yang menggambarkan Reon sekali, hitam dan horor.
Gadis ini membola terkejut melihat pemandangan di depannya. Pemuda yang beberapa tahun ini menjadi kekasihnya, pemuda yang mampu membuat Ovi tidak pernah bisa pergi jauh darinya, pemuda yang selalu bisa membolak-balikkan hatinya, dan pemuda itu juga yang selalu memberi rasa sakit dalam hatinya. Kini, dia harus menyaksikan sendiri kekasihnya sedang bermesraan dengan gadis lain. Ralat, bukan hanya bermesraan, tetapi mereka sedang berciuman. Dan tanpa Ovi sadari matanya mulai berkaca-kaca, mungkin gadis itu sebentar lagi akan menangis. Bahkan kegiatan pasangan yang ada di depannya itu sama sekali belum selesai, sepertinya mereka terhanyut dengan dunianya sendiri hingga melupakan kalau ada sosok lain yang hadir di dalam ruangan itu.
“Re ... on,” lirihnya kecil, tetapi entah kenapa telinga Reon selalu berfungsi lebih tinggi ketika mendengar suara gadis itu. Lantas pemuda itu sedikit terkejut dengan perbuatannya. Dia mendorong gadis yang ada di depannya untuk menjauh. Alifia sedikit terkejut, tetapi dia mencoba menyeimbangkan dirinya. Reon memutar tubuhnya, dan dia membola kaget mendapati kehadiran Ovi. Tidak, gadisnya sedang menangis sambil menatap dirinya. Apa? Ovi di sini?
“Ovi ini—”
“Sudah, Re,” potong Ovi yang masih mencoba menetralkan emosinya. Walau bagaimana pun ini bukan salah Reon (mungkin). Alifia memang cantik, lebih cantik daripada dirinya. Dan tentu saja tidak akan ada laki-laki mana pun yang mampu menolak pesona gadis itu, termasuk Reon, kekasih Ovi sendiri.
Reon yang mendengar penolakan kekasihnya itu pun segera menghampiri Ovi yang berada di ambang pintu, namun tangan gadis itu terangkat menandakan jika pemuda itu harus berhenti.
“Aku cuma mau ngucapin, selamat anniversary ke tiga tahun Re,” jelasnya yang masih menahan tangis. “Terima kasih sudah ada di hidupku, memberi aku kebahagiaan yang mungkin belum pernah aku dapat,” lanjutnya.
“Ovi—”
“Oh iya!” seru gadis itu yang memotong perkataan Reon lagi. Dia merogoh saku tasnya, pemuda itu hanya menyaksikan dan menunggu tindakan apa yang akan kekasihnya ini lakukan. “Aku beli dua tiket buat nonton. Film terbaru. Aku aneh ya, padahal kamu nggak suka banget nonton sama aku,” kata gadis itu sambil tertawa mengingat kebodohannya ini.
“Aku—”
“Oh iya!” potongnya lagi yang sama sekali tidak membiarkan Reon berbicara, “kalau kamu mau, kamu bisa kok nonton sama Alifia. Ini tiketnya aku kasih gratis ke kalian, bayar juga nggak apa-apa, sih,” ucapnya mencoba menghibur diri sendiri.
“Ovi, kamu salah paham,” ujar Alifia yang maju untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ya meskipun dia sedikit terkejut jika kedua orang yang ada di depannya adalah sepasang kekasih.
“Salah paham apa, Kak?” tanya Ovi beralih kepada gadis yang ada di samping Reon. Lihatlah, bahkan mereka terlihat serasi di mata Ovi. Gadis itu menutup matanya dengan kedua telapak tangannya itu. Sudahlah, percuma dia mencoba tegar, dia bahkan bukan wonder woman, dia masih bisa merasakan sakit hati. Terutama mengingat kejadian barusan.
“Aku dan Alifia nggak ada apa-apa. Tadi cuma insiden,” jelas Reon mencoba meyakinkan kekasihnya.
Gadis bernama Ovi itu menatap kekasihnya sejenak. Walau bagaimana pun dia tidak bisa marah-marah dan berontak di depan pemuda ini.
“Tiga tahun waktu kita,” katanya sambil sesekali menyeka aliran hujan yang berada di wajahnya itu. “Ada suka dan duka yang kita lewati bersama. Aku memberi kamu semuanya. Hidupku dan hatiku semuanya untuk kamu, Re. Kamu yang selalu bisa buat aku marah dan bahagia dalam waktu bersamaan. Aku pikir, hati kamu hanya untuk aku, Re, tapi aku salah. Masih ada hati yang lebih pantas untuk kamu miliki daripada aku. Aku? Bahkan derajat kita berbeda. Papa hanya seorang—”
“Cukup!” sentak Reon yang tidak ingin mendengar kelanjutan bagaimana gadis ini merendahkan harga dirinya sendiri. Ingatkan Ovi jika Reon menerima gadis itu apa adanya. Dengan sedikit menahan emosinya, pemuda itu mendekati Ovi, mengambil satu tangan mungil kekasihnya itu dan menggenggamnya erat. Dia menatap Ovi dalam, meskipun yang ditatap tidak berminat menatapnya balik.
“Aku sayang kamu,” kata Reon tulus yang mungkin bagi kebanyakan gadis di luar sana akan menjadi kalimat yang paling membahagiakan jika Reon yang mengatakannya. Ovi memandang pemuda yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya ini. Dia melepas genggaman Reon, sedikit susah, tetapi dia bisa.
Dia menggeleng, “Sayangmu bukan sepenuhnya untukku, Re,” jawabnya, “ada saat di mana kita tidak bisa mengontrol diri. Ketika kita sudah mempunya hati, namun ada hati lain yang mungkin lebih baik dari hati sebelumnya maka hati itu nggak akan ada artinya lagi.” Perumpamaan yang bagus untuk menggambarkan posisi mereka saat ini.
Alifia yang mengerti situasi ini pun mencoba menyelesaikan permasalahannya. Toh, dia dan Reon tadinya hanya kecelakaan dan tidak ada maksud lain, meskipun memang dia menyukai Reon sejak pertama kali bertemu.
“Ovi, tadi itu hanya kecelakaan. Ini bukan salah Reon. Dia cuma bantu aku aja. Salahin aku saja jangan salahin dia ya,” kata Alifia sedikit panik.
Ovi menggeleng, “Nggak apa-apa, Kak. Aku tau Reon bakalan bahagia sama Kak Alifia.”
“Maksud kamu apa?!” tanya Reon meninggi.
“Aku rasa kita cukup sampai di sini aja, Re.” Terdengar berat, tapi Ovi harus bisa mengambil tindakan.
“Nggak!”
“Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, tapi aku berterima kasih sekali sama kamu yang menemaniku selama ini. Terima kasih, Re, untuk tiga tahun ini.”
“Nggak, Vi. Kita nggak boleh putus,” bantah Reon.
“Kita harus,” balas gadis itu.
“Lif, mending kamu keluar, aku mau selesaiin masalah ini,” perintah Reon kepada Alifia. Reon hanya ingin berdua menyelesaikan masalahnya.
Terjadi keheningan setelah Alifia meninggalkan ruangan itu. “Semua salah paham. Tadi aku lagi bicara soal kerja sama perusahaan. Tapi, tanpa sengaja Alifia hampir terpeleset, aku refleks bantu dia, tapi kejadiannya malah seperti yang kamu lihat tadi,” jelas Reon.
“Kalian menikmatinya. Kamu juga menikmatinya. Bahkan kalian nggak sadar pintu sudah aku buka.”
“Itu karena—”
“Karena kalian sama-sama suka,” lanjut Ovi dengan nada sedikit marah dan kecewa.
“Kalau kamu marah dan minta putus cuma gara-gara ini, kamu kelihatan kekanak-kanakan,” kata Reon dengan kembali menggunakan ucapan pedasnya.
“Aku memang kekanak-kanakan, nggak seperti Alifia yang dewasa. Dia bahkan cantik, cantik banget. Beda sama aku yang jelek kayak gini. Memang pantesnya kamu sama Alifia saja daripada aku.”
“Berhenti ngerendahin diri kamu sendiri, Vi. Kamu itu berharga di mata aku. Paham?!”
Ovi menatap Reon yang sedikit marah, “Bahkan bentakan kamu seakan menjadi makanan setiap hari aku, Re,” ungkapnya.
“Kamu selalu bentak aku, kamu selalu bersikap dingin. Aku tahu kalau aku cuma gadis biasa yang cerewet, banyak maunya. Kekanak-kanakan, nggak pintar dan nggak cantik. Tapi, jangan kamu buat kekurangan aku itu sebagai tombak untuk selalu membuat aku sakit hati. Aku juga manusia, aku juga wanita yang punya hati yang rapuh. Kamu nggak akan tahu gimana rasa sakit hatinya jika melihat orang yang kamu sayangi berbagi hati dengan orang lain.”
“Aku nggak berbagi hati dengan orang lain,” bantah Reon yang tahu jika Ovi menyindir kejadian barusan.
Ovi tersenyum sinis, “Ralat, berbagi ciuman maksudnya,” ucapnya frontal.
Reon maju selangkah mendekati kekasihnya itu. “Kamu mau hapus jejak bibir Alifia?” tanyanya.
“Nggak perlu. Untuk apa aku mengambil yang sudah menjadi milik orang lain,” kata gadis itu, “menghapus jejaknya nggak akan bisa menghapus ingatanku tentang kejadian tadi."
Reon menghembuskan napasnya lelah. Susah sekali membujuk Ovi. “Terus mau kamu sekarang apa?” tanyanya mencoba bersabar.
“Aku mau putus.”
“NGGAK!”
“Putus.”
“Nggak!”
“Oke, kita putus. Aku pulang,” pamit Ovi yang mulai berlari meninggalkan Reon yang masih terkejut dengan tindakan kekasihnya itu. Dan tentu saja pemuda itu juga berlari guna menyusul Ovi. Ingatkan dia jika gadis itu adalah perempuan yang memiliki hati yang rapuh.
Gadis ini masih menunduk, menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan dan kakinya. Sudahlah, menangis tidak akan ada gunanya. Reon sudah bahagia bersama Alifia. Sekarang dia dan Reon tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Beberapa pejalan kaki yang kebetulan melewati jalan itu sedikit menengok kepada gadis itu. Mungkin mereka mengira Ovi adalah gelandangan atau gadis yang sedang patah hati. Terlihat jelas jika bahu gadis itu berguncang yang menandakan jika dia tengah menangis.
Dia kembali mengingat awal pertemuan mereka, bagaimana mengesalkannya Reon dulu saat Cia masih ada, bagaimana rapuhnya Reon saat tengah sendirian tanpa sang adik, dan bagaimana tiga tahun lamanya telah mereka lewati bersama. Terlalu banyak kenangan, entah itu pahit ataupun manis. Mungkin terlalu banyak yang pahit dalam hidupnya. Ovi tertawa miris mengingat kisah percintaannya.
“Ovi?”
Gadis itu yang tersadar ada yang memanggil namanya pun mendongak ke depan. Seorang pemuda dengan baju sederhananya dan jangan lupakan tas yang selalu ia pakai saat pergi ke kampus.
“Leo?” Gadis itu berdiri, menyamakan kedudukannya dengan Leo, meskipun pemuda itu lebih tinggi darinya.
“Lo nangis?” tebak pemuda itu. Dengan segera Ovi menghapus jejak air matanya. Dia meringis ketika bertemu Leo dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
“Nggak. Ini gue cuma kelilipan,” bantahnya yang tentu saja Leo tidak akan percaya. Namun, pemuda itu memilih untuk tidak bertanya terlalu jauh.
“Lo ngapain di sini? Duduk di trotoar, udah kayak gembel aja,” sindirnya bermaksud untuk mencairkan suasana.
“Jahat banget lo. Gue ... gue cuma jalan-jalan doang di sini,” jawabnya berbohong.
“Oh.”
“Btw, lo kenapa di sini?”
“Gue lagi nyusul Roni di indomaret sana. Kebetulan apartemen gue dekat-dekat sini, jadinya gue pilih jalan kaki sekaligus olahraga.”
“Oh gitu. Ya sudah lo buruan ke Roni. Pasti tuh anak udah nungguin.”
“Haha tenang aja, dia paling lagi habisin makanan di sana. Btw, lo mau ikut gue nyusul Roni nggak? Atau lo mau pulang?”
“Emmm, gue kayaknya pulang aja, Le. Bunda pasti sudah nunggu di rumah,” tolaknya.
“Oh gitu. Lo pulang naik apa? Mau gue antar?” tawar Leo.
“Dia pulang sama gue,” jawab sebuah suara yang berasal dari belakang tubuh Ovi. Refleks gadis itu berbalik dan mendapati Reon berdiri di sana dengan tatapan tak bersahabatnya. Lagi, dia harus mencoba lebih berani dan tegar di hadapan laki-laki yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu.
Leo yang sudah mengenal Reon pun mencoba undur diri. Setidaknya saat ini dia tidak ingin membuat masalah dengan katingnya itu. Pemuda itu tidak lupa berpamitan kepada Ovi yang mungkin sejak kedatangan Reon terlihat sedikit gugup. Terjadi keheningan di antara keduanya hingga suara interupsi dari Reon membuyarkan lamunan Ovi.
“Kita pulang.” Itu bukan pertanyaan. tetapi perintah. Namun, Ovi yang memang dasarnya lemot malah tidak beranjak dari tempatnya. Sedangkan Reon menghela napas menghadapi sifat ajaib kekasihnya ini.
“Kamu nggak mau pulang?” tegur pemuda itu.
“Eh?” Ovi yang tersadar pun langsung mengingat jika beberapa menit yang lalu mereka tengah bertengkar, lebih tepatnya putus. “Nggak!” tolaknya.
“Masih marah soal tadi?”
Ovi tersenyum miring. Bahkan pemuda di depannya ini terlihat santai dan tak merasa bersalah. “Marah? Untuk apa? Kita, kan, nggak ada hubungan apa-apa sekarang, jadi buat apa marah,” jawabnya santai tanpa memedulikan wajah pemuda itu yang mengeras.
“Kita nggak akan pernah putus.” Nada penuh perintah yang selalu Reon utarakan.
“Huft, sudahlah, Re, terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas kita sudah nggak ada hubungan,” jelas Ovi yang mulai beranjak dari sana, memilih jalan yang berlawanan dari pemuda itu. Tentu saja Reon tidak tinggal diam, dia segera menghentikan langkah gadis itu yang mengundang keterkejutan bagi Ovi.
“Apa yang mmmppphhh.”
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara tap love ya ^^