“b******k!” Entah sudah berapa kali pemuda ini mengumpat keras di kamarnya. Lihatlah, kamarnya saja sudah tidak berbentuk seperti tempat yang layak untuk ditinggali. Ada banyak kesal, marah, dan kecewa yang ada dalam dirinya. Kemudian pemuda itu menatap ponsel miliknya yang sudah tidak berbentuk lagi karena terlalu kesalnya. Cia sendiri saat ini sudah bergerak menuju ke rumah Ovi. Pagi-pagi dia dikagetkan dengan suara gaduh yang berada di dalam kamar abangnya. Yang membutnya terkejut adalah dia juga mendengar teriakan dari pemuda itu. Beberapa kali juga dia sudah menggedor pintu kamar, namun Reon sepertinya tak peduli dan mendengar. Karena terlalu takut terjadi apa-apa, maka dia pun segera menghubungi sahabatnya, akan tetapi ponsel gadis itu tak bisa dihubungi. “Pi ... lo ke mana, sih,

