“Hai,” sapa gadis itu kepada sang kekasih yang tampak sibuk di ruangannya. Reon menoleh sekilas dan mengangguk saja. Kemudian dia kembali sibuk dengan berkas-berkas yang harus dia tanda-tangani dan periksa. Ovi pun tampak acuh, dia memilih untuk duduk di sofa yang kebetulan ada di dalam ruangan pemuda itu. Menunggu Reon selesai mungkin adalah pilihan yang terbaik. Tadinya dia ingin langsung pulang saja, namun ketika mengingat perkataan pemuda itu tadi pagi membuat dia mengurungkan niatnya. Gadis itu membuka kotak makanan yang berisi martabak yang dia beli. Bau khas martabak pun memenuhi ruangan Reon yang berisi. Langsung saja pemuda itu menengok ke asal bau ini. Di sana Ovi sedang menikmati martabaknya sendiri tanpa menghiraukan orang lain yang ada di ruangan ini. Reon pun menghembuska

