14

1017 Kata
Dua buah mobil berhenti di gang rumah Alana. Rafka turun, sebagai penunjuk arah bagi orang tuanya sedangkan Rafli memilih menunggu di mobil. "Alana..." "Assalamualaikum..." Pintu terbuka, terdapat Alana yang kebingungan akan kehadiran sosok Ray dan Azka, juga Rafka. "Lana, siapa?" tanya Ilham menghampiri pintu dan betapa terkejutnya ia mendapati dua orang ternama mengunjunginya. "Pak Azka," sapa Ilham mempersilahkan Azka, Ray, dan Rafka untuk masuk. Alana diam saja di pintu dengan ekspresi bingung pada Rafka yang tersenyum padanya. "Bapak, dan Alana sedang sibuk?" tanya Azka. Ilham menggeleng. "Kalau gitu, bisa ikut kita?" tanya Azka tersenyum. "Aduh, gimana ini? Alana ada buat salah ya? Saya minta maaf!" ucap Ilham panik. "Enggak, Pak..." Ray tersenyum menatap Alana meminta gadis itu untuk duduk bersamanya. "Anak manis, ayo siap- siap. Di depan udah ada mobil yang nunggu," ucap Ray mengusap kepala Alana. "Kemana?" tanya Alana pelan. "Udah, ikut aja! Lo pasti senang!" jawab Rafka membuat Alana tersenyum atas perkataan pemuda itu. Beberapa saat kemudian, Rafli tak berkedip menatap Alana yang menyeberang jalan bersama orang tuanya. "Dia sama Rafli!" Rafli bersuara, membuka pintu mobil hingga membuat Alana terkejut ternyata pemuda itu juga ada. Alana menggeleng kecil, Rafka pun menggenggam tangannya tanpa sepengetahuan orang tua mereka. "Alana sama Bunda," ucap Ray mengajak Alana masuk ke mobil yang satunya namun Rafli malah turun dari mobil menggandeng tangan Alana. "Bu... ya sudah, kalau Den Rafli mau Alana sama dia," ucap Ilham menengahi. Alana pun hanya bisa pasrah saat ia sudah berada di mobil bersama Rafli juga Ray yang duduk disamping supir. Sementara Rafka bersama Ilham, juga ayahnya. "Rafli," tegur Ray pada puteranya yang masih menggenggam tangan Alana. Rafli tak berkutik sedikit pun, hingga Alana tersenyum pada Ray seolah mengatakan kalau ia baik- baik saja, padahal tidak! Jantung Alana berdegup cepat merasakan kulit Rafli yang menyentuh tangannya, terasa begitu dingin sampai Alana tak berani menoleh pada pemuda disampingnya. "Heh," panggil Rafli menatap Alana dari samping. Gadis itu terlihat sangat lugu dan tangan Alana sangat pas berada digenggamannya. Rafli mendekat, menyenderkan kepalanya di bahu Alana dan supir menyadari hal itu langsung menurunkan cermin agar nyonya besar tidak melihat kejadian tersebut lewat pantulan cermin. "Kkak----" Rafli mengangkat telunjuknya memerintahkan Alana untuk diam saja saat ia mulai memejamkan mata dilekukan leher gadis itu. "Biar... gini dulu..." ucap Rafli merasa nyaman dan, hangat. Sementara itu di mobil satunya, Azka mengetahui kalau Ilham khawatir tentang Alana yang semobil dengan Rafli. "Pak Ilham," panggil Azka membuat Rafka yang duduk disamping supir juga menoleh pada pria itu. "Saya tahu, Bapak pasti khawatir sama Alana. Saya, mewakili anak- anak saya meminta maaf atas semua kejadian akhir- akhir ini," ucap Azka membuat Pak Ilham mengusap air mata lalu mengangguk. Mobil berhenti, membuat Rafli membuka mata menatap Alana dalam jarak yang sangat dekat seperti sekarang ini. Sebelum ibunya menyadari, Rafli kembali di posisi semula. "Ini, rumah siapa?" tanya Alana bingung menatap sebuah rumah yang terlihat mewah lengkap dengan pagar dan taman kecik dihalamannya. Supir membukakan pintu, membuat Rafli turun diikuti Alana yang masih bingung hingga mobil yang membawa ayahnya tiba. Azka turun lebih dulu lalu membuka pagar kemudian membuka pintu rumah. "Pak Ilham, mari masuk. Sekarang ini rumah Bapak dan Alana," ucap Azka membuat Alana berkaca- kaca dengan tatapan tak percaya. "Pak?" tanya Ilham memastikan. "Yuk masuk?" ajak Rafka menggandeng Alana meninggalkan Rafli yang masih membeku ditempat tak percaya akan apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Saat ini mereka sudah duduk di sofa yang terasa empuk bagi Alana. Rafka tersenyum dengan tingkah polos gadis itu. "Pak... apa ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Ilham masih tak percaya. "Bapak tenang aja. Mulai besok, Bapak akan bekerja di perusahaan saya sebagai pekerja tetap," ucap Azka kembali membuat Ilham tersenyum bahagia sesekali mengusap air mata. "Alhamdulillah..." ucap Ilham berniat menyalami Azka namun Azka malah memeluknya. "Terimakasih, Pak, Bu. Den Rafka, Den Rafli..." ucap Pak Ilham membuat tatapan Alana tertuju pada Rafli yang juga tengah menatapnya. Alana spontan menggenggam tangan Rafka saking takutnya. Rafli tersenyum miring, menatap Alana yang sudah menundukkan wajah. Hal gila apa lagi yang akan Rafli lakukan pada gadis itu. "Ini juga, sebagai kata maaf dari keluarga kami," ucap Ray mengalihkan perhatian Rafli yang merasa tak salah apapun selain mengajak Alana ke apartemen dan rasanya, ia juga sudah meminta maaf. "Terimakasih.." ucap Ilham lagi menatap puterinya. "Mulai sekarang, Bapak nggak usah sungkan lagi sama kita. Kita udah nganggap Bapak, dan Alana sebagai keluarga," ucap Ray semakin membuat Rafli kesal langsung pergi hendak disusul oleh Azka namun Ray menahannya. "Alana, susul Rafli," ucap Ray membuat Alana terkejut begitu pun Rafka. "Tapi... nanti, Kak Rafli... marah?" kikuk Alana bangkit dari duduknya. Ray menggeleng meminta Alana untuk menyusul Rafli dan gadis itu mengangguk mendapati Rafli tengah duduk diteras. "Kak Rafli," panggil Alana. "Makasih, ya..." ucap Alana ragu. "Makasih aja nggak cukup! Lo masih harus jadi babu gue! Ambilin HP gue di mobil!" balas Rafli dan Alana sudah menduganya. Alana melangkah menuju mobil dan kembali membawakan ponsel milik Rafli. "Duduk!" titah Rafli meminta Alana duduk disampingnya. Alana kembali menurut dan saat Rafli mengarahkan kamera padanya. Alana tersadar, dengan wajah polos dan mata yang sedikit melotot membuat Rafli tersenyum tipis menatap potret gadis itu. "Ih! Hapus!!" Alana berusaha merebut ponsel di genggaman Rafli dengan wajah memerah karena malu. "Enggak!" ucap Rafli menyimpan ponselnya. "Lo kan babu gue, suka- suka gue!" ucap Rafli menyimpan ponselny di saku celana. "Sampai kapan aku berhenti jadi babu Kakak?!" tanya Alana memberanikan diri menatap Rafli dengan kesal. "Mungkin, sampai lo jadi cewek gue? Mungkin juga, setelah lo jadi cewek gue lebih parah dari ini," ucap Rafli santai membuat Alana bangkit dari duduknya namun kembali di posisi semula saat Rafli menarik tangannya bahkan menyenderkan kepala pada punggungnya seperti saat dalam perjalanan. "Kakak nyebelin!" ucap Alana. "Aku nggak suka!" ucap gadis itu lagi. "Bagus deh," singkat Rafli mulai memejamkan mata. Rafka berdiri di belakang dua insan itu tanpa ekspresi dengan tangan terkepal mencoba tersenyum. Ia sudah mempersiapkan hal ini sejak lama, sebab ia yakin kalau saudaranya akan menyukai Alana meski dengan cara yang terkesan memaksa dan menyakiti perasaan gadis itu. Sebab, Rafka juga tak mengerti perasaan adiknya. Apakah Rafka boleh merebut Alana dari Rafli? Karena ia juga menyukai gadis polos itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN