11

1063 Kata
Alana melepas mukenanya setelah melaksanakan shalat subuh dengan Rafli yang menjadi imam. Gadis itu menatap punggung seseorang didepannya yang masih menadahkan tangan. Tanpa berkata apapun, Alana melangkah menuju dapur berniat menyiapkan sarapan untuk pemuda itu. Sementara itu, Rafli menoleh mengusap wajahnya kasar. "Rafli... hukuman apa yang bakal lo dapat kalau ketahuan ngajak cewek ke apartemen!" gusar pemuda itu pada dirinya sendiri. Rafli melangkah menuju dapur mendapati Alana tengah memasak. "Kakak kalau pagi minum teh, atau kopi?" tanya Alana menoleh sejenak pada Rafli. "Terserah," ucap Rafli lalu duduk di kursi menatap gadis itu. "Aku, manasin sup tadi malam. Terus juga ngerebus telur," ucap Alana menyiapkan satu buah piring untuk Rafli. "Buat lo," singkat Rafli mengalihkan pandangannya. "Hah?" tanya Alana bingung. "Siapin piring buat lo juga," ucap Rafli kesal. Alana mengangguk pelan dan beberapa saat kemudian, mereka menyantap makanan bersama. Sesekali Rafli melirik Alana yang kadang tersenyum setelah mengunyah makanan. Rafli berdehem, membuat tatapan Alana tertuju padanya. "Ini, air putih," unjuk Alana menyerahkan gelas. Rafli menepisnya hingga terdengar suara gelas pecah. "Kak Rafli!" kaget Alana atas tindakan pemuda itu. "Ambil pakaian lo, gue antar pulang," singkat Rafli berhasil membuat Alana tersenyum, sekarang Alana hanya perlu memikirkan cara bagaimana menjelaskan hal ini pada ayahnya. "Aku beresin ini dulu," ucap Alana berjongkok hendak membersihkan pecahan kaca. "Ck! Enggak perlu, sana siap- siap! Gue udah bosan sama lo!" ucap Rafli kembali membuat Alana tersenyum kecut melanjutkan pekerjaannya. "Alana!" bentak Rafli saat Alana malah berniat mencuci piring. "Kak Rafli..." isak Alana menutup wajahnya. "Lo dengar nggak sih? Gue bilang siap- siap buat pulang. Gue antar!" tegas Rafli menarik tangan gadis itu dan ia baru tersadar kalau jemari Alana mengeluarkan cairan merah mungkin karena membersihkan pecahan gelas. "Lo gimana sih!" kesal Rafli membalikkan tubuh Alana yang sudah menangis sesegukan tanpa suara. "Awww..." Alana meringis saat Rafli menggenggam tangannya yang terlihat berdarah. Pemuda itu menarik dagu Alana kasar. "Lo emang pantas jadi babu gue," ucap Rafli menusuk perasaan Alana hingga air matanya kembali jatuh. Seseorang melangkah menuju dapur dan saat melihat pemandangan didepan matanya, tangannya terkepal kuat. Bukhh!! Rafli tersungkur setelah Rafka membogem wajahnya hingga membuat Alana terkejut. Bukhh!! "Berani juga lo," ucap Rafka kembali menghajar saudaranya. "Kak Rafka! Stop!!" cegah Alana memeluk Rafka dari belakang. Bahu pemuda itu naik turun menandakan ia tengah marah besar. "Lana, nggak papa?" tanya Rafka lembut setelah memeluk gadis itu. "Hiks..." Alana terisak memejamkan mata membalas pelukan Rafka. "Aku mau pulang..." ucap Alana jujur. "Alana! Tangan lo berdarah---" "Ini, nggak papa..." potong Alana menyembunyikan tangannya dan Rafka malah tersadar dengan pakaian Alana yang sepertinya, bukan milik gadis itu. "Rafli!" bentak Rafka menatap Rafli yang masih tersungkur. "Lo ngelakuin apa ke Alana!?" "Jawab! Sialan!!" Rafli tak menjawab bahkan saat Rafka menarik kerah bajunya. "Kak Rafka! Aku nggak papa!" cegah Alana sebelum Rafka kembali melayangkan pukulannya. "Tapi Alana! Dia nyakitin lo!" tegas Rafka menatap Alana yang kembali menangis. "Oke, kita pulang..." lembut Rafka menangkup wajah gadis itu. Alana mengangguk dan ketika mereka hendak melangkah pergi, Rafli bangkit menarik tangan Alana hingga berada dalam dekapannya. "Dia kesini sama gue!" "Pulangnya juga sama gue!" Rafli bersuara, menantang Rafka yang sudah dikuasai amarah pada saudaranya itu. Pantas saja Rafli tak membalas pesan dan juga panggilan darinya. Hingga Rafka memutuskan untuk ke apartemen setelah orang tuanya memberitahu kalau Rafli berada di apartemen dan ternyata, Alana bersamanya. "Serahin Alana ke gue," pinta Rafka secara baik- baik. "Enggak! Dia punya gue!" balas Rafli enggan melepaskan Alana. "Rafli!" bentak Rafka membuat Alana terkejut menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Rafli. "Lo nyakitin dia!!" tegas Rafka menarik Alana dengan kasar agar terlepas dari Rafli. "Gue nggak peduli!!" tegas Rafli tak mau kalah. Alana sudah tak berdaya diperebutkan oleh dua pemuda itu. "Oke! Lo milih pulang sama gue atau dia!?" tanya Rafli pada Alana. "Kak Rafka..." pelan Alana membuat genggaman Rafli terlepas. "Oke! Sana! Gue juga nggak sudi ngantar lo pulang! Pergi kalian! Cepat!!" usir Rafli kembali duduk melanjutkan makannya. "Lana, ayo?" ajak Rafka lembut. "Aku... ngambil pakaian dulu di kamar," ucap Alana melangkah meninggalkan Rafka. "Rafli!" tegur Rafka lagi. "Mikir dong!! Lo bawa cewek ke apartemen! Gimana kalau Bunda sama Ayah tau?!" tanya Rafka pada saudaranya. "Paling di usir," singkat Rafli tanpa menatap kakaknya. "Sekarang gimana cara kita ngejelasin ke ayahnya Alana?!" "Ck! Kenapa lo malah bawa Alana sih?!" tanya Rafka lagi namun tak mendapat jawaban dari Rafli. "Karena dia, babu gue?" tanya Rafli dengan santainya berhasil membuat tangan Rafka terkepal. "Lo ngelakuin apa ke Alana?! Hah?!" tanya Rafka menarik kerah baju saudaranya. "Bukan urusan lo!" tegas Rafli melepaskan cengkraman Rafka. "Ini pertanyaan seorang Kakak!" ucap Rafka membuat Rafli terdiam menatap Alana yang sepertinya sudah siap untuk meninggalkannya. "Mungkin, yang ada di pikiran lo," ucap Rafli tersenyum sinis. "Rafli---" "Kak Rafka!" panggil Alana saat Rafka kembali hendak melayangkan pukulannya. "Ayo... pulang..." cicit Alana menatap Rafka yang mendekat. "Ayo," lembut Rafka mengusap kepala gadis itu. Alana tersenyum, sialnya ia malah bertemu tatapan tajam Rafli yang seolah tak suka ia bersama Rafka. Alana melangkah digandeng oleh Rafka keluar apartemen hingga Alana menyadari kalau Rafli mengikuti langkah mereka hingga pintu terbuka. "Kak Rafli, aku---" "Pergi," dingin Rafli meski dengan tangan yang terkepal. "Lana, ayo?" lembut Rafka menatap ekspresi ragu gadis itu. "Aku pulang sama Kak Rafli..." Rafli tersenyum lalu menarik Alana agar kembali masuk ke apartemennya membuat Rafka melotot. "Alana!" panggil Rafka tak percaya. "Benar yang Kak Rafli bilang, aku kesini sama dia dan pulang juga harus sama dia, aku nggak mau Kak Rafka yang bertanggung jawab atas semua ini," ucap Alana membuat Rafli senang. "Pergi lo! Dia sama gue!" usir Rafli pada saudaranya. Rafka mendekat memeluk Alana yang berada dalam genggaman Rafli bahkan sempat mencium pipinya hingga membuat Rafli mengepalkan tangan. "Oke," ucap Rafka lalu pergi. Rafka benar- benar pergi, namun Alana masih saja tersenyum hingga saat Rafli kembali menutup pintu. "Cuci muka lo!" titah Rafli. "Hah?" tanya Alana mengusap pipinya. "Cepat! Ada bekas ciuman Rafka!" suruh Rafli mendorong pelan tubuh Alana hingga tiba di wastafel. "Kak Rafli, kenapa?" tanya Alana pelan. "Gue nggak suka! Elo dekat- dekat sama Rafka!" ucap Rafli jujur membawa Alana duduk di sofa. "Tapi... Kak Rafka yang ngedekatin aku," ucap Alana jujur menatap Rafli yang mengambil kotak P3K. "Kemarin, yang ngobatin lutut aku. Kakak juga kan?" tanya Alana menatap Rafli yang mulai mengobati luka kecil di jemarinya. "Jangan banyak tanya!" ucap Rafli menatap Alana dan pandangan mereka bertemu dengan tangan Alana yang berada di pangkuan Rafli. "Kak---" Punggung Alana menyentuh sofa saat Rafli mendorongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN