Langit gelap telah membungkus malam dengan sempurna, tapi sepasang netra itu masih enggan memicing. Fazhura merebahkan diri dengan tidak santai. Sebentar-sebentar merubah posisi baringnya. Beberapa kali meneguk air dalam gelas yang terletak di nakas sebelah ranjang tidurnya, guna menetralkan rasa haus serta gelisah, tapi tetap usahanya sia-sia. Perasaan Fazha malah makin tak karuan. Apalagi potongan-potongan ucapan dari Ega merasuk lagi, mengitari otak gadis itu. Fazha cemas. Tiba-tiba raut sendu Ilham melintas dalam benaknya. Terlihat jelas sekali, ekspresi kecewa itu tersirat dari wajah Ammi-nya. Fazhura mengambil napas dalam-dalam. Perasaannya baru disusupi rasa bersalah. Belum lagi ocehan Ega akan segala kemungkinan jika dalam waktu dekat Ilham akan memiliki pendamping hidup. Semua

