Paginya ruang keluarga Razakian tampak riuh. Farhan tengah asyik mematut diri di depan cermin sambil mencukur kumis tipisnya. Sementara Faren kini sibuk memakaikan baju merah putih ke tubuh Echa. Beda lagi dengan Izzy yang sibuk mencari sepatunya. “Mama sepatuku ilang.” Izzy menjerit kesal. “Emangnya kemaren ditaruh mana? Makanya jangan males dong, Zy!” tutur Faren tanpa mengalihkan pandangan dari kancing baju putrinya. “Ayo satu lagi tangannya masukin kesini sayang. Nah, sip!” Farhan memandang Izzy dengan jengkel. “Papa udah bilang kan, balikin sepatu di rak masing-masing. Kamu nggak punya kuping, ya?” Izzy melenggang malas. Dia paling benci diceramahi seperti ini. Padahal sudah jelas papanya lebih malas dari dia. “Nggak inget, Pa,” katanya cuek. Farhan mengalah. “Papa ambilin yang b
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


