BAB 11

2383 Kata
Farhan terbangun dan mendapati dirinya di atas sofa ruang tamu. Dia melirik jam yang menggelantung di dinding. Pukul 2 malam. Pertandingan antara Manchester United vs Barcelona yang tadi ditontonnya telah usai. Farhan memaksakan matanya terbuka. Kantuk sudah menderanya. Dia ingin langsung melempar diri di atas ranjang. Dengan langkah terseret-seret Farhan berjalan menaiki tangga. Pintu kamarnya tertutup rapat. Dia menarik gagang pintu. Tidak terkunci. Farhan masuk pelan-pelan. Dia langsung terlonjak kaget begitu melihat sosok Faren tergeletak di lantai kamar dengan lemas. “Faren!” teriak Farhan dengan panik. “Lo kenapa?” “Sakiiit... Perut gue sakiit... Argghh...” Faren mengerang kesakitan. Farhan mendudukkan Faren di atas ranjang. Dengan cemas Farhan berlarian membangunkan anggota keluarganya yang lain. “Faren kenapa?!” jerit Farah panik. “Ya mana gue tahu.” “Aduuuh... Jangan-jangan... dia mau...” kalimat Farah terpotong seketika. “Buruan, Far, bawa ke rumah sakit!” “Hah? Se—sekarang?” “Iyalah!” Farah berlarian ke kamar Farhan. Farhan menyusul Farah ke kamar. Dia terus menggigit bibirnya kebingungan. Farah menyuruhnya mengambil segelas air putih. Farhan langsung berlarin ke dapur dan kembali membawa apa yang diminta Farah. Setelah meminum air setengah gelas, Faren tetap saja merasa kesakitan. Farah menyuruh Farhan untuk segera berganti pakaian dan membawa Faren ke rumah sakit. “Buruan, Far! Nanti gue, Mama, sama Papa langsung nyusul! Lo duluan aja, kasihan Faren! Cepet!” “Aduh. Sabar, dong! Kunci gue ilang lagi. Kemana coba?” Farhan mulai panik. Dia mondar-mandir kesana-kemari. Tapi barang itu tak diketemukan juga. “Emang lo taruh di mana? Buruan dong! Coba di bawah bantal atau di mana kek.” “Kak Farah sakiiit....” Faren mengerang dalam pelukan Farah. “Iya, sabar Ren. Sabar, ya? Tenang... Tarik nafas... Huufhh...” Farah memandu Faren dengan penuh kesabaran. Tapi Faren tetap kesakitan. Beberapa saat setelah mondar-mandir tidak jelas, akhirnya benda itu ditemukan juga. Farah dan Farhan segera menuntun Faren masuk ke dalam mobil. Farhan segera mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Sesekali dia melirik ke arah Faren yang kesakitan. Tiba-tiba keringat dinginnya mengalir. Segera mungkin dia menambah kecepatan mobilnya. Untung jalanan tidak terlalu ramai. Jadi dia bisa bergerak mudah. Sampai di rumah sakit, Faren segera dimasukkan ke dalam ruang bersalin. Farhan menunggu di luar dengan cemas. Waktu seakan berputar sangat lambat. *** Setengah jam kemudian, persalinan itu selesai. Terdengar suara tangisan bayi. Farhan menghembuskan nafas lega. Satu jam setelahnya, Faren langsung tertidur dengan wajah lelah. Farhan berjalan keluar pelan-pelan sambil terus menatap wajah cantik Faren yang tertidur pulas. Dia tersenyum tipis sambil berjalan keluar menuju ruang bayi. “Wah, Pak, selamat ya! Anak laki-laki. Beratnya 3,2 kilo. Cakep mirip Papanya!” kata Dokter itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Farhan menyambut uluran tangan itu. Seulas senyum terukir di wajahnya. “Makasih, Dok,” ucapnya agak malu. Sang Dokter tertawa melihat wajah malu-malu Farhan, lalu dia permisi keluar. Kemudian Farhan melirik ke arah boks kecil dalam ruangan itu. Meskipun hanya melalui kaca  jendela besar, Farhan dapat melihat bayi mungilnya. Walau kecil, tapi pipinya sangat tembem. Wajahnya putih dan cakep. Hidungnya mancung. Matanya yang hitam terang berbinar-binar. Bergerak mengitari ruangan. Kemudian menatap Farhan yang berdiri di luar jendela. Farhan tersenyum senang melihat bayi itu. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya dan berkata lirih. “Hai...” Bayi itu tersenyum-senyum. Jaraknya terasa dekat dengan Farhan. Mulutnya yang kecil bergerak-gerak. Buka. Tutup. Buka. Tutup. Seperti itu terus sambil tersenyum-senyum menampilkan gusinya. Farhan terus mengamati bayi mungil itu dengan gembira. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa keluarganya dan keluarga Faren sudah datang ke rumah sakit. “Farhan!” teriak Ibu mertuanya sambil berlarian mendekat. “Gimana keadaan Faren?” “Eh... Mama!” seru Farhan kaget. Kemudian dia beralih menatap seluruh keluarganya yang sudah berkumpul. Orang tuanya, Papa Faren, Kak Farah, juga Farel. Semua menanti dengan tidak sabar. “Faren baik-baik aja, kok. Tadi dia kecapekan. Makanya sekarang langsung tidur,” jawab Farhan seadanya. “Terus dedek bayinya gimana?” kali ini Farel yang bertanya. Mukanya penuh dengan keingin-tahuan. Farhan tersenyum senang. Dia melirih ke arah boks tempat bayi mungil itu berada. “Udah lahir. Nah, itu dia...” Semua pandangan beralih menatap boks di dalam kaca. Bayi mungil itu tersenyum dengan mata berbinar-binar. Seolah dia ikut bahagia dengan kedatangan seluruh keluarganya. “Itu anaknya Faren?” Mama Faren masih tak percaya. Dia nyaris meneteskan air mata. “Cakep, ya?” “Mirip banget sama kamu, Far!” ungkap Mama Farhan turut bahagia. “Ah, jangan Ma!” Farah melirik adik semata wayangnya dengan ngeri. “Jangan kayak dia! Pribadinya jelek.” “Emangnya lo enggak?!” tandas Farhan keki. Lagi-lagi kedua kakak-beradik itu mulai menebar gendang peperangan.  “Kalian jangan bikin malu Papa!” tegas Papa Farhan. Dia paling tidak suka kalau kedua anaknya mulai bertengkar seperti ini. Apalagi anaknya Farhan sudah mulai menjadi laki-laki dewasa. Jadi menurutnya sangat tidak pantas seorang yang punya predikat ayah bertengkar dengan kakaknya hanya karena masalah sepele. Seperti ketika mereka dulu sering berebutan TV. Farah dan Farhan langsung diam. Farah kembali terpesona dengan keponakannya. Ini sih selain cakep, imut, manis, bulat, lucu, juga kelihatan tampang berwibawa dan jeniusnya. Beda sekali dengan Papanya yang kelewat t***l. “Namanya siapa, Far?” setelah sekian lama diam, akhirnya Papa Faren membuka mulut juga. Tidak menyangka dia juga terharu melihat cucunya lahir dengan selamat. Farhan tampak malu-malu. Dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Mmm... Sebenernya Farhan udah ketemu nama bagus dari kemarin. Tapi itu sih kalau Faren sama yang lain setuju.” “Siapa?” Farhan tersenyum bangga. “Izzy. Fahrezzy,” ungkapnya bangga. “Bagus.” Farhan bengong seketika. Bukan apa-apa, sih. Semua orang juga tahu kalau nama itu bagus. Tapi ini Papanya Faren! Sosok yang sangat membencinya! Sekarang terang-terangan memuji nama yang dipilihkannya. Lagi-lagi Farhan cuma bisa tersenyum. Anehnya, hari ini dia merasa bahagia. Yah, meskipun Farhan sadar beban baru bertambah dalam hidupnya. Yaitu tanggung jawab sebagai seorang ayah. *** Faren membuka matanya. Kepalanya terasa pening hebat. Daerah sekitar bawahnya juga masih terasa perih. Dia melirik sekeliling ruangan. Tapi, kosong. Tak ada siapapun selain dia di sana. Kemudian Faren kembali berbaring. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seorang suster masuk ke dalam ruang itu sambil mendorong boks kecil di tangannya. Pelan-pelan suster menimang sesosok kecil dari boks itu. Lalu sang suster berjalan ke arah ranjang Faren. “Sudah bangun, Mbak?” Faren memaksakan senyum dan mengangguk. Dia berusaha duduk dibantu oleh sang suster. Kemudian suster itu menyerahkan bayi mungil dalam gendongannya. “Ini anak saya, Sus?” tanya Faren tidak percaya. “Iya, Mbak. Cakep, kan? Mirip sama papanya.” Tanpa sadar Faren mengangguk. Dia tidak tahu mengapa dia begitu sesenang ini melihat bayi mungil dalam gendongannya itu. Dia tidak tahu apa yang menyihirnya sehingga dia tanpa ragu-ragu mencium dahi kecil bayi itu. Aneh. Semua ini terasa begitu aneh untuknya. Bayi itu lagi-lagi mengeluarkan senjata pamungkasnya. Matanya yang berbinar itu kembali mengedip seolah menghipnotis orang-orang di sekelilingnya. Bibirnya terbuka seolah tersenyum melihat ibunya. Faren tidak tahu ikatan seorang ibu dan anak akan sekuat ini. Dia tidak pernah tahu. Baru hari ini dia tahu rasanya. Faren mengangkat jari telunjuknya. Menyentuh hidung mungil bayinya yang mancung. Lalu mengecupnya penuh sayang. Dia menatap wajah bayi itu. Wajahnya mirip dengan... Farhan.  Tak berapa lama setelah suster itu meninggalkan kamar Faren, mendadak cowok yang sedang disinggungnya muncul begitu saja. Senyumnya merekah, membuat wajah cowok itu semakin ganteng. Faren langsung menunduk begitu melihatnya berdiri di ambang pintu. Farhan berjalan mendekat. “Hei...” panggilnya kaku. “Selamat ya... Lo emang hebat,” ucap Farhan sambil mengulurkan tangannya. Faren mengangkat wajah malu-malu. Dia menyambut uluran tangan itu sambil memaksakan seulas senyum. “Thanks.” “Ehm, tadi waktu lo tidur semuanya pada datang. Tapi sekarang udah pulang. Paling nanti malam nyokap lo ke sini lagi.” “Oh...” Faren membulatkan mulut seketika. Kemudian dia beralih menatap bayinya lagi. Lalu menciumnya penuh sayang. Farhan akhirnya diam lagi. Dia duduk di sofa dekat ranjang tanpa bicara apa-apa. Untunglah keheningan itu langsung sirna tatkala pintu kamar terbuka. Farhan langsung kaget begitu tahu Kiky yang muncul ke dalam. “Halo semua!” Mata Kiky beralih menatap Farhan lurus-lurus. “Far, apa kabar lo, Bro?” serunya girang sambil berjalan memeluk Farhan. Farhan sendiri langsung shock mendapat perlakuan seperti itu. “Gue nggak nyangka akhirnya sahabat gue ini jadi Bapak!” ucap Kiky dengan wajah terharu tingkat akut. Tangannya menepuk-nepuk pundak Farhan bangga. Farhan hanya bisa membalas ucapan itu dengan senyum kecut. Seakan ucapan Kiky barusan itu hinaan. Dan bukan pujian seperti yang ada sekarang. “Selamat ya, Bro. Gue harap lo bakal jadi Bapak yang the best, deh!” “Hmm, thanks,” jawab Farhan tanpa semangat. Berbanding terbalik dengan Kiky. “Amiiin.” Kemudian Kiky beralih pada Faren. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Selamat ya, Ren! Lo akan jadi Mama muda yang paling bersinar. Gue doain.” Faren hanya tersenyum kecut. Reaksi yang sama dengan Farhan. Dia menyambut uluran tangan Kiky dengan setengah terpaksa. “Wah, lucuuu banget!” Lagi-lagi Kiky berseru ketika melihat sosok yang ada dalam gendongan Faren. Wajah bulat. Pipi tembem. Alis tebal. Mata hitam terang berbinar. Hidung mancung. Benar-benar bayi perfect! Tidak salah, sih, orang tuanya saja anak-anak populer. Perpaduan remaja-remaja populer ternyata menghasilkan produk berkualitas tinggi. “Boleh gue bawa pulang nggak, nih? Buat jadi boneka di kamar adik gue,” canda Kiky sambil menunjuk bayi dalam gendongan Faren. Dan hal itu langsung memancing deathglare dari sepasang orang tua muda itu.  “Hehe...” Kiky langsung cengengesan mendapat perlakuan seperti itu. Tak lama kemudian Farhan bangkit dan mengajak Kiky keluar. Setelah pamit pada Faren, kedua cowok itu pergi ke kantin rumah sakit sambil menghabiskan waktu berbincang berdua. “Thanks, traktirannya kenyang banget!” ujar Kiky riang sambil menepuk-nepuk perutnya. “Hmm. Lo juga, thanks, udah nyempetin waktu ke sini, Ky.” “Beres!” Kiky terdiam sebentar. “Oh iya, Bima bilang bakal balik lagi kalau di sana udah holiday.” Farhan langsung melongo. “Kok lo tahu?” “Tadi siang gue chat sama dia. Katanya dia juga nitip ucapan selamat buat lo. Kalau lo lagi nggak sibuk, suruh ngehubungin balik,” tutur Kiky sambil mengingat-ingat kembali obrolannya dengan Bima. Tiba-tiba Kiky tersenyum jahil. “Eh, tapi mana sempet! Farhan kan lagi sibuk ngurus anak sama bini. Udah gitu, harus nyari nafkah lagi! Hahaha...” tawanya meledak. Farhan meliriknya kesal. “Kalau lo ketawa kayak gini, gue nggak jadi nganterin lo balik!” “Yah...” Kiky langsung pasang wajah memelas. Tawanya surut entah kemana. “Sorry, deh, bang.” Farhan mencibir sambil memasang wajah marah. Tak peduli, ditinggalkannya Kiky di belakang. Baru beberapa langkah, kakinya langsung stop seketika. Dua orang itu menghadang di depannya dengan angkuh. Rissa dan Deny. Farhan menghembuskan nafas kuat-kuat. Sementara Kiky di sampingnya juga langsung kaget. “Hai para pecundang. Gimana kabar kalian?” sapa Deny masih dengan senyum iblisnya. Rissa di sampingnya hanya diam. Seperti melihat Farhan dan Kiky sosok yang kasat mata. “Alhamdullilah, baik.” Kiky menjawab sekenanya. Dia memasang wajah sok manis. “Iya kan, Far?” “Iya, kita baik-baik aja.” Farhan menjawab asal mengikuti ajaran Kiky. “Tapi anehnya, masih ada aja setan bertebaran di sekitar sini,” Kiky masih asyik menyindir. Deny yang merasa tersindir hanya pasang wajah so what. “Oh ya, gue belum bilang ke kalian, ya?” Deny tersenyum sambil memandang Rissa yang sedari tadi diam. Tapi mata cewek itu seakan tak bisa bohong kalau dia ingin sekali melihat Farhan. “Sekarang gue sama Rissa udah resmi pacaran.” Perkataan itu bagai pedang tajam yang menohok tepat di d**a Farhan. Cowok itu membulatkan mata seketika. Seakan tidak percaya dengan apa yang dibilang Deny. “Reaksinya biasa aja dong,” tukas Deny ketika melihat perubahan air muka Farhan yang mendadak jadi agak kelam. Tapi yang disindir itu langsung menampilkan wajah sok bahagia. Farhan tersenyum. “Selamat, deh! Semoga bahagia ever-after buat kalian!” “Yup! Dan yang pasti nggak akan melakukan tindakan bodoh sampe kebablasan,” sahut Deny. Farhan nyaris saja menghantamkan tangannya pada rupa Deny kalau saja tidak ada Kiky yang menghalanginya. Pada akhirnya hanya u*****n yang bisa dikeluarkannya. “b******k lo, Den!”  “Kenapa? Bukannya bener, ya?” Rissa yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. Sekalinya langsung ketus dan menusuk. Farhan seakan tersayat mendengar perkataan pedas yang keluar dari mulut cewek kesayangannya itu. “Dan gue denger, katanya sekarang Faren udah lahiran, ya? Wow! Kok bisa bareng gini, sih, sama Tante gue? Wah, banget!” walaupun seperti pujian, kata-kata itu lebih terdengar semacam sindiran atau hinaan. Lagi-lagi Farhan hanya bisa menerima kata-kata pedas itu dari mulut Rissa. “Selamat, ya, Pak Farhan! Semoga anak lo jadi anak yang sholeh. Dan inget... Jangan kayak bapaknya!” “Ya udah yuk, Den! Lama-lama di sini tuh nggak penting banget!” Rissa menarik-narik lengan Deny dengan mesra. “Kamu bener sayang. Bye, para pecundang!” “Bye.” Rissa melambaikan tangan sambil terus menggandeng Deny dengan mesra. Keduanya kemudian menghilang dari pandangan Kiky dan Farhan. Farhan menggeram kesal di tempatnya berdiri. Kiky menepuk-nepuk pundaknya memberi kesabaran. Tapi Farhan menepisnya dan berjalan mendahului Kiky dengan kekesalan yang membara. *** “Fahrezzy Raja Razakian.” “Wah, namanya kece badai, Far! Nggak nyangka lo bisa ngasih nama sekeren ini!” Kiky bersorak sorai girang. “Iya dong, gue gitu!” Farhan tersenyum bangga. “Lagian nama gue sama Faren kan awalannya huruf F. Ya biar kompak nama kita disamain. Meskipun Fahrezzy itu panggilannya tetep Izzy, tapi yang penting nama awalnya F.” “Oh, gitu!” Farah mengangguk mengerti. Pandangannya terus tertuju pada sosok mungil bernama Izzy yang terus saja tertawa ke arahnya. “Iihh... Kamu lucu banget, deh.” Izzy tertawa-tawa dalam gendongan Farah. Tangan kecilnya bergerak-gerak berusaha menjangkau rambut panjang Farah. Tapi sayangnya tidak sampai. Farah ikutan tertawa melihatnya. “Kak Farah bisa gendong bayi juga ternyata? Awas jangan dibanting!” canda Kiky sambil menahan tawa. Farah melotot dengan kesal ke arahnya. Farah menatap Kiky tajam. “Jaga mulut lo ya, Ky! Gue bisa aja matahin tulang-tulang lo, kalo gue mau!” “Ya elah, cuma bercanda doang.” Farah lagi-lagi tersihir oleh senyuman maut Izzy. Sedetik kemudian dia sudah melupakan peperangan kecil anatara dirinya dengan sohib adiknya. Setelah Faren keluar dari kamar mandi, Farah langsung menyerahkan Izzy kembali ke tangan ibunya. Sekarang giliran dia yang mandi. Tidak terasa usia Izzy sudah hampir menginjak satu minggu. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN