Mobil silver milik Ghani berhenti tepat di depan rumah Faren. Siang itu seperti biasanya, Ghani memaksa mengantar Faren pulang lagi. Ini sudah yang kesekian kali, dan Faren tak pernah bisa menghindar. Mau tak mau Faren patuh saja setiap kali Ghani menawarkan diri untuk mengantar.
“Makasih ya Kak, udah nganter aku pulang.” Faren turun dari mobil Ghani sambil memasang senyum tulus.
“Iya, nggak masalah,” jawab Ghani sambil melirik rumah baru Faren di hadapannya. “Sekarang boleh mampir?”
Senyuman di bibir Faren surut. “Kayaknya nggak bisa, deh. Kakak tahu, kan?”
“Oh gitu...” Ghani mengangguk kecewa. “Ya udah, aku pulang, ya?”
“Iya, hati-hati Kak.” Faren membalas lambaian tangan Ghani.
Ketika mobil Ghani menghilang dari pandangannya, cepat-cepat Faren melangkah masuk. Pintu tidak dikunci. Farhan sibuk bermain dengan Izzy.
“Mamam...”
“Hei sayaang... Udah nyam-nyam?”
Izzy mengangguk kecil sambil terus memainkan mobil-mobilan.
“Tadi itu siapa?” Farhan mengawali pembicaraan. Suaranya terdengar tenang dan tidak macam-macam seperti kemarin. Tapi Faren diam saja. Dia terus menatap Izzy tanpa melirik Farhan sedikit pun.
“Cowok itu temen lo?”
Faren masih tetap diam tanpa mau menjawab. Dia beranjak menuju dapur dan mencuci tangan. Farhan mengikutinya dari belakang. Lalu berdiri di sampingnya.
“Ren, lo masih marah sama gue? Kemarin gue cuma bercanda. Nggak ada niat apa-apa.”
Faren masih bersikeras. Cewek itu pura-pura tidak mendengar. Dia mencuci tangannya dengan handwash. Setelah itu dia mengambil air putih dari dalam kulkas. Farhan masih setia mengikutinya.
“Gue mau minta maaf.” Tiba-tiba Farhan mengulurkan tangannya tepat di hadapan Faren yang sedang meneguk minum.
Faren meletakkan gelasnya di atas meja. Dia sama sekali tidak berminat menyambut uluran tangan Farhan. Tangan kanan cowok itu dibiarkannya terkatung-katung tanpa mendapat balasan apa-apa.
Kemudian Faren keluar dari dapur. Dengan sengaja dia menyambar tangan Farhan. Sampai akhirnya Farhan dengan terpaksa menurunkan tangannya. Dia menyerah kalah ketika Faren sudah berlari masuk ke kamarnya. Percuma dia minta maaf.
***
Farhan memandang langit-langit kamarnya dengan kosong. Saking asyiknya dia, sampai-sampai tidak sadar bahwa handphone-nya berdering sejak tadi. Farhan tersadar dari lamunannya sambil meraih benda itu.
1 Message Received
Devil_Deny
Farhan menggeram kesal ketika melihat nama itu terpampang di layar handphone-nya. Mau apalagi, sih, dia? Apa semua yang sudah terjadi tidak pernah cukup untuk devil itu? Dengan kesal Farhan membuka sms tersebut.
Gw tunggu lo di markas Graha! Skrng! Kalo lo gk datg, brati lo PENGECUT!
Farhan berdecak membaca sms Deny. Dia melirik jam di dinding. Pukul 7 malam. Seenaknya saja Deny bilang seperti itu! Padahal yang jelas-jelas pengecut itu dia!
Sebenernya Farhan sangat malas menanggapi sms tidak jelas dari Deny. Tapi daripada dianggap pengecut dan penakut, lebih baik dia datang aja. Lagipula dia juga penasaran apa lagi yang akan dilakukan Deny k*****t satu itu.
Farhan bangkit dari ranjang dengan malas. Dia berganti baju dan jeans asal-asalan. Lalu meraih topi hitamnya di kapstok. Kemudian dia berjalan turun. Faren tampak sibuk menyuapi Izzy dengan biskuit favoritnya.
“Papap...” Izzy berteriak memanggil Farhan ketika melihatnya berjalan menuju pintu.
Seketika Farhan berbalik dan mendatangi Izzy. Farhan menyentuh rambut bayi itu dan mengelusnya dengan penuh sayang. “Papa pergi bentar, ya? Ada urusan sama temen.”
“Kut...”
“Nggak usah. Papa cuma bentar. Kamu sama Mama di rumah, ya?” Farhan memandang ke arah Faren. Tapi cewek itu membuang muka dan tidak mau peduli.
“Ren, gue pergi dulu ya.”
Faren diam saja. Pura-pura sibuk dengan setoples biskuit di tangannya.
Farhan memaksakan seulas senyum meskipun hatinya tersakiti diperlakukan seperti itu. “Ehm... Gue pergi dulu! Jagain Izzy, ya?”
Faren masih diam. Farhan melangkahkan kakinya keluar sambil terus menatap Faren.
***
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dari kejauhan sudah terlihat gedung usang Graha yang kini sudah tidak dipakai. Dulunya Graha adalah sebuah mall yang lumayan terkenal. Tapi setelah terjadi kebakaran hebat pada tahun 2010. Mall itu berhenti dioperasikan. Barang-barang yang masih bisa dijual diungsikan ke tempat lain. Sampai pada akhirnya mall itu dibangun kembali di daerah lain.
Farhan memarkirkan mobilnya tepat di hadapan gedung itu. Dia melangkah turun dengan waswas. Tempat itu sangat sepi. Banyak orang yang tidak berani mendatangi bekas mall Graha. Karena katanya tempat ini angker. Padahal kenyataannya, tempat ini malah dijadikan sebagai markas besar para anggota geng motor. Tapi sekarang markas ini sudah jarang digunakan.
Baru beberapa langkah menuju lorong parkir bawah tanah, tiba-tiba seseorang menjegal kaki Farhan hingga dia jatuh. Farhan meringis sebentar. Perlahan mengangkat kepalanya. Seorang preman bertubuh besar tersenyum sinis ke arahnya.
“Lo siapa?!” tanya Farhan waswas.
Preman itu lagi-lagi tersenyum dengan sinis. Tindiknya yang berada di bagian hidung dan bibir berkilauan. “Heh! Bangun!”
Farhan berusaha bangkit. Dia berhadapan dengan preman bertindik itu.
“Nama lo Farhan, kan?!”
Farhan menatap preman di hadapannya curiga. Tapi kemudian dia mengangguk. “Iya.”
DUAAGH...
Preman itu melayangkan tinjunya ke arah Farhan. Sehingga dia terpelanting jatuh. Tapi, detik berikutnya dia masih berdiri.
“Apa mau lo?!” Farhan menjerit kaget atas perlakuan preman itu.
Preman itu tersenyum sinis. Tak lama kemudian beberapa preman lain bermunculan. Wajah mereka sama brengas dan sangar. Tubuhnya besar dan rambutnya gondrong. Tindik-tindik mereka berkilauan menakutkan.
Farhan memukul lantai berdebu di hadapannya. Kurang ajar! Deny!
“Ayo anak kecil kita main-main!” Preman bertubuh paling gemuk itu mendekat ke arah Farhan.
Farhan berusaha bangkit. Dengan susah payah dia menegakkan kakinya. Sebisa mungkin dia berlari menghindar. Tapi sayangnya, di depan lorong lagi-lagi preman bermunculan.
Farhan mundur selangkah. Tubuhnya kini dikepung oleh preman-preman bertubuh besar itu. Keringat dinginnya mengalir deras. Harusnya dia tidak datang ke sini. Deny sengaja menjebaknya!
“Nggak nyangka, ternyata lo berani juga ke sini,” suara itu menyeruak begitu saja. Farhan tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Sudah jelas Deny.
“Den, mau lo apa?!” desis Farhan geram.
“Mau gue?” Deny bertanya seakan pada dirinya sendiri. “Ngehabisin elo!”
“Den, jangan main-main, ya?!” Farhan menjawab dengan suara yang agak bergetar.
“Gue bukan anak kecil yang suka main-main, Far.”
“Lo nggak puas sama apa yang udah lo lakuin sama gue? Gue udah hancur, Den. Apalagi yang lo cari dari gue?”
“Gue nggak akan pernah puas kalau Rissa masih aja mikirin lo!”
“Rissa udah jadi milik lo, kan? Apa itu nggak cukup?!”
“Lo salah, Far! Rissa masih cinta sama lo! Tapi jangan seneng dulu! Karena sebelum kalian bahagia, gue udah terlebih dulu ngirim lo ke neraka. Jadi, nggak ada yang bisa milikkin Rissa di antara kita.”
“Lo lupa ya, den? Atau lo buta? Gue udah nikah. Bahkan gue punya istri dan anak. Dan itu semua gara-gara kebusukan lo. Nggak mungkin gue bisa sama Rissa lagi.”
“Oh ya...?” Deny mengangkat sebelah alis tidak percaya. “Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. Kemungkinan pasti ada. Dan gue akan menutup kemungkinan itu.”
“Apa?” Farhan mengerutkan kening heran.
Deny hanya tersenyum sekilas. Dengan santai dia menyandarkan tubuhnya pada tiang tembok. Lalu mengangkat sebelah tangannya untuk memberi kode pada preman-preman itu. Para preman tersenyum menyeringai seakan mengerti kode yang diberikan Deny.
Farhan menatap seorang preman di hadapannya dengan waswas. Laki-laki berjenggot tebal dengan rambut gondrong itu tersenyum licik ke arahnya. Tangannya mengepal dengan kuat. Perlahan-lahan dia mendekat ke arah Farhan.
Farhan memasang mata waswas. Tanpa sadar dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Srag! Farhan memejamkan matanya sejenak. Sekarang gerakannya benar-benar dikunci. Dua orang preman di belakangnya langsung mencekal kedua lengannya. Mereka bergerak terlalu gesit tanpa memberinya ruang untuk bergerak.
“Mau kemana lo?! Gue nggak akan biarin lo kabur begitu aja! Hahaha...” tawa Deny merebak. “Coba aja kalau lo bisa kabur! Silahkan!”
Farhan merasakan cekalan yang semakin erat pada kedua tangannya. Sebisa mungkin dia berusaha melepaskan tangannya dari preman-preman itu. Tapi sama sekali tidak berhasil.
“Tunggu apalagi? Ayo habisin dia!”
Begitu mendengar komando dari Denny, seorang preman ber-perching langsung saja melayangkan tinjunya pada Farhan—yang langsung terpelanting jatuh seketika. Tapi kedua preman yang memeganginya memaksa untuk bangkit segera.
“Ayo tunjukkan mental baja lo! Jangan diem aja! Hahaha...” tawa Deny terdengar begitu menyakitkan. “Ayo bangun! Cuma segitu doang?!”
Farhan merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian kepala dan perutnya. Tapi preman yang memeganginya itu menyeretnya untuk segera bangkit. Dengan wajah tertunduk Farhan memaksakan kakinya menopang tubuh. Tangannya masih setia dikekang preman-preman itu.
Farhan menunduk sambil terus merasakan hujaman-hujaman yang terus menimpa tubuhnya. Preman-preman itu secara berurutan silih berganti mengeroyoknya. Satu demi satu. Sampai kesadarannya menipis dan keseimbangannya hampir hilang.
DUAGGH... DUAAGHH...
“Argghh...”
***