NAGA TIDUR

1260 Kata
Suara sepatu bot menghantam lantai beton bergema di seluruh koridor markas yang ditinggalkan itu. Elias langsung menjatuhkan diri ke samping rak, menarik Pak Surya bersamanya. Ia mengintip dari balik tumpukan berkas tua—empat pria berpakaian serba hitam dan bersenjata lengkap menyisir ruangan demi ruangan. Mereka mengenakan penutup wajah, dan di lengan kanan mereka, jelas terlihat lambang: seekor ular hitam melingkari belati perak. “Unit bayangan,” bisik Elias. “Mereka bukan penjaga biasa.” Pak Surya mengangguk pelan, pelipisnya basah oleh keringat. “Kalau mereka tahu kita membawa dokumen ‘Orion’, kita tidak akan dibawa hidup-hidup.” Elias mencabut pistol dari balik pinggangnya. Meski sudah bertahun-tahun meninggalkan dunia ini, nalurinya belum mati. Dengan isyarat tangan, ia mengarahkan Pak Surya ke lorong sempit yang menuju ke ruang peladen bawah tanah—jalan keluar alternatif yang dulu digunakan untuk evakuasi diam-diam. Sementara mereka menyusup, Elias menyalakan pemindai yang tertanam dalam jam tangan lamanya—perangkat lama peninggalan operasi rahasia. Layar kecil memantulkan jejak panas tubuh: mereka dikepung dari tiga arah. “Pintunya sudah diblokir. Kita harus keluar dari bawah,” gumam Elias. Mereka meluncur turun ke ruang peladen—tempat penuh debu, kabel tua, dan terminal data. Lampu darurat menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah layar menyala otomatis saat Elias mendekatkan dokumen dari folder “Orion.” Tulisan-tulisan kuno muncul di layar, berganti-ganti cepat dalam bahasa sandi. Pak Surya menatapnya. “Itu… sistem pengenal simbol. Coba tempelkan token itu.” Elias mengeluarkan token kuno yang ia temukan di kursi belakang taksinya. Bentuknya masih sama: bulat, logam tua dengan simbol ular melingkari belati. Ia menempelkannya pada scanner. Layar menyala penuh. SANDI AKSES DITERIMA. MENGAKTIFKAN FILE: NAGA TIDUR. Teks-tes muncul cepat: Protokol Naga Tidur – fase terakhir rekonstruksi kekuasaan. Aktivasi melalui pusat utama (kode: Mata Ular) di jantung Jakarta. Operasi dimulai 14 hari dari sekarang. Elias terpaku. “Mereka… akan mengaktifkan sesuatu di kota.” “Naga Tidur... ini bukan hanya tentang kita. Ini rencana besar. Mereka akan melumpuhkan kota.” Pak Surya menekan tombol cetak darurat. Printer tua mulai mengeluarkan lembar-lembar rencana operasi. Tiba-tiba, alarm peladen menyala merah. INTRUSI TERDETEKSI. “Cepat! Ambil semua!” Elias menggulung cetakan dan memasukkannya ke dalam tas. Suara langkah kaki di atas semakin keras. Seseorang menjatuhkan granat ke dalam lorong. BOOM! Gelombang kejut menghantam mereka. Elias menubruk Pak Surya dan menariknya ke terowongan pembuangan di dinding. Mereka terjun ke dalam kegelapan, meluncur melalui lorong sempit yang dipenuhi lumpur, hingga akhirnya keluar di selokan tua di pinggiran kota. Nafas mereka terengah-engah. Pak Surya merintih, lengannya terluka. “Kita tak bisa terus begini. Mereka tahu kita masih hidup. Mereka akan memburu kita sampai mati.” Elias menatapnya dengan mata merah menyala. “Kita tak bisa sendirian. Kita butuh seseorang yang bisa membantu kita memecahkan semua sandi ini. Dan aku tahu ke mana kita harus pergi.” Pak Surya menatap Elias curiga. “Kau mengenal seseorang?” Elias mengangguk. “Namanya Kirana. Seorang mantan analis sandi untuk unit rahasia. Dulu dia bekerja untuk Orion, sampai dia menghilang setelah operasi gagal. Kabarnya, sekarang dia tinggal di bawah radar, menyamar sebagai penjual suvenir di Pasar Baru. Kalau ada yang bisa membuka sistem Gigi Ular, itu dia.” Pak Surya terdiam sejenak. “Tapi dia bagian dari masa lalu juga, kan?” “Ya,” Elias menjawab pelan. “Dan dia juga orang yang dulu memeriksa terakhir kali jejak digital Naya sebelum dia ‘hilang’…” Mereka kembali ke Jakarta, menyusuri jalanan malam yang lengang, dengan satu tujuan: menemukan Kirana—dan membuka lapisan berikutnya dari konspirasi Gigi Ular yang semakin dalam. Malam itu, Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit mendung menggantung di atas kota, dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya suram ke aspal yang basah. Elias duduk di belakang kemudi mobil tua miliknya, memandangi jalanan dengan sorot mata tajam yang penuh kewaspadaan. Di sampingnya, Pak Surya membalut luka di lengan dengan sobekan kain dari kaus dalamnya. "Pasar Baru bukan tempat biasa untuk menyembunyikan diri," gumam Elias. "Tapi Kirana pintar. Dia tahu bagaimana membuat dirinya tak terlihat, bahkan di tengah keramaian." Mobil mereka berbelok ke kawasan Pasar Baru yang sudah mulai sepi menjelang tengah malam. Elias memarkir kendaraan di gang kecil di belakang deretan toko yang sebagian besar sudah tutup. Ia menyusuri gang sempit, mendekati sebuah toko kecil bertuliskan "Toko Antik Surya Muda", ironisnya bukan milik Pak Surya, melainkan nama samaran yang digunakan Kirana. Pintu toko sedikit terbuka, dan di dalamnya, lampu kuning remang menyinari tumpukan barang-barang tua—radio kuno, kamera film, jam dinding rusak. Di balik konter, seorang perempuan duduk dengan kepala tertunduk, menyusun kembali komponen jam tua. Rambutnya dikuncir rapi, dan di balik kacamatanya, sepasang mata waspada mengamati Elias yang mendekat. “Sudah lama ya, Vance,” ucap perempuan itu tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi menusuk. “Kupikir kau sudah mati di operasi Orion.” Elias tersenyum miris. “Seharusnya begitu. Tapi ternyata nasib masih mau mempermainkanku.” Kirana menutup kotaknya dan berdiri. “Kalau kau ke sini, berarti ada sesuatu yang besar. Kau bukan tipe orang yang datang cuma mau bicara soal masa lalu.” Pak Surya melangkah masuk perlahan, menahan luka di lengannya. “Kami butuh bantuanmu. Kami baru saja menemukan protokol ‘Naga Tidur’—dan kami tahu Gigi Ular akan mengaktifkan sesuatu besar di Jakarta.” Kirana menatap mereka lama, lalu mengunci pintu toko dari dalam dan menurunkan tirai. “Ikuti aku ke belakang.” Di balik toko, ada ruang kecil yang dipenuhi layar komputer, modem-modem jadul, dan terminal enkripsi. Kirana duduk di kursi putarnya, menyalakan tiga layar sekaligus. “Berikan padaku apa yang kalian temukan,” ujarnya cepat. Elias mengeluarkan token dan lembar-lembar cetakan dari peladen tua. Kirana memindainya dengan alat kecil seukuran telapak tangan, dan tampilan di layar mulai menampilkan alur data yang kompleks. “Ini... bukan cuma protokol penyerangan,” katanya pelan. “Ini... sebuah sistem.” “Sistem?” tanya Pak Surya. “Sistem kontrol. Gigi Ular berencana menyusup ke jaringan transportasi, komunikasi, dan pasokan energi Jakarta. Mereka tidak akan meledakkan bom—mereka akan mengendalikan kota.” Elias mengepalkan tangan. “Seperti kudeta digital.” Kirana mengangguk. “Dan pusat pengaktifannya disebut ‘Mata Ular’. Tapi lokasi pastinya… masih dikunci.” Ia mengetik cepat, membuka lapisan-lapisan keamanan digital yang sangat rumit. “Mereka menggunakan enkripsi tiga lapis dengan kunci biometrik. Artinya… untuk membuka akses, kita butuh sidik jari atau retina dari seseorang yang sangat penting.” “Siapa?” tanya Elias. Kirana menatap Elias dengan ekspresi serius. “Seseorang bernama… Risa Purnama.” Nama itu menghantam seperti palu. Elias memalingkan wajah. Pak Surya tampak cemas. “Risa adalah eksekutor Gigi Ular,” gumam Elias. “Mantan rekanku. Dulu dia... lebih dari sekadar partner.” Kirana meliriknya tajam. “Kalau begitu, satu-satunya cara kita bisa masuk ke sistem ini adalah… kau harus bertemu dengannya lagi.” Hening. Elias tahu artinya. Untuk menghentikan Gigi Ular, ia harus menghadapi bagian masa lalu yang paling menyakitkan—dan paling berbahaya. “Dia tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja,” kata Elias lirih. “Tapi dia akan muncul,” kata Kirana. “Percayalah. Karena jika kau masih hidup… dia pasti sudah tahu dan sedang mencari mu juga.” Dari salah satu layar, muncul peringatan otomatis: Aktivitas tidak biasa terdeteksi di jaringan komunikasi daerah Menteng. Kirana menunjuk ke layar. “Mereka sedang mengaktifkan sistem uji coba. Mungkin kita masih punya waktu. Tapi kita harus cepat.” Elias berdiri, menatap jendela kecil di ruangan itu. Di luar, Jakarta masih terlihat tenang. Tapi di bawah permukaannya, sebuah badai sedang bersiap menghancurkan segalanya. “Kalau ini perang,” katanya pelan, “maka sudah waktunya aku berhenti melarikan diri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN