JEJAK ISMAYA

1609 Kata
Hujan turun deras di atas Jakarta, membasahi kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di dalam toko antik Kirana yang remang, suasana jauh dari tenang. Elias berdiri di depan papan strategi yang kini penuh coretan, foto, dan benang merah yang saling bersilangan—semuanya mengarah ke satu nama: Raka Ismaya. “Dia terakhir terlihat di Universitas Aruna tiga tahun lalu. Setelah itu, hilang,” kata Kirana sambil menatap layar laptop. “Lo yakin dia kerja bareng Harith?” tanya Dinda yang duduk di pojok dengan kaki masih dibalut perban. “Gue yakin,” jawab Elias pelan. “Dia ilmuwan jenius, tapi punya sejarah kelam. Dulu hampir dipecat karena risetnya soal biological control via neural synthesis. Proyek gila yang didanai swasta—sampai akhirnya semua file-nya dikunci pemerintah.” Pak Surya mendekat sambil membawa dua cangkir kopi. “Kalau dia sekutu Harith, dia bisa jadi kunci membuka enkripsi drive itu.” “Masalahnya,” tambah Kirana, “gue lacak datanya, dan... dia sudah ganti identitas. Tinggal di Kalibata dengan nama samaran: R. Ibrahim.” Elias langsung mengambil jaket. “Kita datangi dia. Sekarang.” Perjalanan ke Kalibata berjalan mulus, tapi hati Elias tak tenang. Ia merasa seperti sedang berjalan ke dalam jebakan yang tak terlihat. Mereka tiba di sebuah rumah tua di ujung gang, dikelilingi tanaman liar dan pagar besi berkarat. Di depan pintu, plakat kecil bertuliskan: R. Ibrahim – Konsultan Biomedis. Elias mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ia menoleh pada Dinda. “Lo jaga belakang. Kalau ada tanda-tanda... kabarin.” Dinda mengangguk dan bersiaga dengan pistol tersembunyi. Elias kembali mengetuk, lebih keras. Kali ini, terdengar langkah dari dalam. Seorang pria paruh baya, berjanggut tipis dan berkaca mata tebal membuka pintu perlahan. “Ya?” “Raka Ismaya?” Elias langsung bertanya. Pria itu menegang. “Maaf, saya—” “Gue gak di sini buat nangkap lo,” potong Elias cepat. “Harith Mahardika udah mati. Tapi sebelum mati, dia kasih gue sesuatu yang cuma lo bisa buka.” Raka terdiam. Matanya menatap Elias dengan ketakutan, tapi juga rasa bersalah. Ia membuka pintu lebih lebar. “Masuk.” Di dalam, rumah itu lebih mirip lab daripada tempat tinggal. Tabung reaksi, server kecil, dan peta anatomi manusia memenuhi dinding. Raka duduk di depan komputernya sambil menyalakan alat pembaca biometrik. “Kalau ini jebakan, gue ikut mati duluan,” katanya tanpa nada bercanda. Elias menyerahkan flash drive dari Harith. “Sistem ini,” jelas Raka, “cuma bisa dibuka pakai irama jantung Harith atau kode neural pattern yang dia duplikasi ke satu orang... dan gue adalah salinan itu.” Beberapa menit kemudian, layar menyala. File-file berlabel Project RAJATA, RAKTA, dan KALI YUGA bermunculan. Tapi ada satu file yang menonjol—bernama INITIUM. “Ini sumber dari semua proyek mereka,” kata Raka. “Formula asli, cetak biru sistem distribusi, dan—” ia berhenti, menelan ludah. “—protokol pengaktifan virus.” Dinda mendekat. “Mereka bisa nyebarin virus ini ke mana saja?” “Bukan cuma itu,” ujar Raka pelan. “Virus ini... bisa disesuaikan. Target genetik spesifik, etnis tertentu, bahkan individu. Dan semua bisa diatur dari satu pusat kontrol.” Elias menegang. “Pusatnya di mana?” Raka ragu, lalu menggeser file peta. “Di bawah tanah. Lokasi lama peninggalan kolonial Belanda. Dulunya jaringan bunker, sekarang mereka ubah jadi markas utama: Kompleks Obsidian.” Kirana yang memantau dari laptop di toko langsung masuk ke saluran komunikasi. “Gue dapet sinyal koordinatnya. Di bawah Museum Sejarah Jakarta.” Elias mengepalkan tangan. “Itu target kita.” Namun, sebelum mereka bisa bergerak, suara pecahnya kaca membuat semua tersentak. “Serbu!” teriak suara berat dari luar. Granat kejut dilempar masuk, meledak dengan kilatan menyilaukan. Dinda langsung menembak ke arah pintu, Elias membalik meja sebagai pelindung, dan Raka bersembunyi di balik server. Agen-agen Gigi Ular berpakaian hitam menyusup lewat jendela dan atap, bergerak cepat dan mematikan. Tapi Elias bukan mantan agen biasa. Ia bergerak seperti bayangan, menumbangkan dua musuh dalam hitungan detik. Dinda, meski pincang, menembak satu lawan di d**a sebelum akhirnya terdesak. Elias melempar pisau lipat ke arah musuhnya, lalu menarik Dinda keluar. “Raka! Jalan belakang, sekarang!” Mereka kabur lewat lorong servis di dapur, masuk ke gang sempit. Di belakang, rumah itu mulai terbakar. Suara tembakan masih terdengar samar saat mereka melompat ke mobil pickup yang diparkir di ujung gang. Elias menyalakan mesin. “Kita balik ke markas. Sekarang mereka tahu kita punya kunci.” Raka, gemetar, menatap ke belakang. “Mereka tak akan berhenti sampai kita mati semua.” Elias menatap ke jalanan Jakarta yang basah dan gelap. “Kalau begitu... kita duluan yang nyerang.” Malam itu di toko antik Kirana, suasana berubah menjadi ruang perang. Di meja utama, Raka Ismaya duduk dengan mata sayu menatap layar komputer yang kini menampilkan cetak biru Kompleks Obsidian. Pak Surya, Kirana, Elias, dan Dinda berdiri mengelilinginya. “Kompleks ini punya tiga tingkat bawah tanah,” jelas Raka. “Dibangun sejak zaman kolonial sebagai pusat penyimpanan senjata dan informasi. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, dimodifikasi jadi lab biologis oleh Rex Umbra.” Kirana menunjuk satu bagian peta. “Lihat ini. Ruang kendali utama di bawah ruang pamer VOC. Jalurnya tersembunyi di balik dinding palsu di ruang bawah museum.” Pak Surya mendesah. “Kalau mereka tahu kita tahu... mereka pasti udah pasang jebakan.” “Dan kemungkinan dijaga ketat,” tambah Dinda. Elias berpikir sejenak. “Kita gak bisa nyerbu langsung. Tapi kita bisa nyusup... dengan menyamar sebagai teknisi restorasi.” Kirana langsung tanggap. “Gue bisa bikin ID palsu dan permintaan akses ke dinas kebudayaan. Tapi itu butuh waktu. Minimal 24 jam.” Elias menoleh ke Raka. “Sementara itu, lo siapin semua informasi yang bisa bantu kita ganggu sistem mereka dari dalam.” Malam berikutnya, dalam gelap yang pekat, Elias duduk sendiri di atap toko. Tangannya memainkan liontin tua yang dulu dimiliki Alena, agen muda yang tewas dalam misi Orion’s Veil. Wajahnya keras, tapi mata menyimpan luka yang belum sembuh. Dinda muncul dengan dua kaleng kopi kaleng. Ia menyerahkan satu ke Elias tanpa bicara, lalu duduk di sebelahnya. “Lo masih mikirin dia?” tanya Dinda akhirnya. Elias mengangguk pelan. “Alena percaya sama gue. Tapi malam itu... gue terlalu lambat.” “Lo gak bisa terus nyalahin diri lo. Dia mati karena sistem yang lo lawan sekarang. Dan dia pasti bakal bangga lo terus bertarung.” Elias menatap Dinda sejenak. “Kalau kita gagal... virus ini bakal nyebar ke ribuan orang. Dan gak akan ada yang bisa menghentikannya.” Dinda tersenyum tipis. “Makanya kita gak boleh gagal.” Keesokan harinya, dengan ID palsu dan alat teknisi di tangan, Elias, Dinda, dan Kirana menyamar sebagai tim pemeliharaan museum. Raka tinggal di toko antik bersama Pak Surya, memantau sinyal dan memberi panduan dari jauh. Mereka berhasil masuk ke area terbatas dengan mudah. Tapi saat Elias membuka pintu ke ruang bawah tanah tersembunyi, ia langsung tahu sesuatu salah. “Lantai ini... terlalu bersih,” bisik Elias. Benar saja, beberapa detik kemudian, suara langkah berat menggema. Tiga sosok bersenjata muncul dari lorong gelap. “Mereka tahu,” desis Kirana. Elias bertindak cepat. Ia melempar granat asap, menyambar tangan Dinda, dan melompat ke jalur darurat di sisi lorong. Kirana mengaktifkan jammer sinyal kecil yang ia sembunyikan di rompinya. Di bawah lorong sempit, mereka merayap dalam gelap menuju pusat kendali yang ditandai dalam cetak biru. Tapi waktu semakin sempit. Drone kecil mulai berdengung di belakang mereka. “Ada sinyal panas di belakang. Kita dikejar,” kata Kirana. “Gak masalah,” jawab Elias. “Selama kita bisa sampai ke inti sistem.” Mereka sampai di depan pintu logam besar dengan sensor biometrik. Kirana menempelkan alat pembobol digital, dan setelah beberapa detik penuh ketegangan, pintu terbuka dengan desis lembut. Ruang kendali utama. Dingin. Dindingnya dilapisi panel kontrol, layar holografis, dan pusat server yang bersinar biru. Di tengah ruangan, satu kursi menghadap ke belakang. Elias menarik pistol, mendekat perlahan. “Jangan gerak.” Kursi itu berputar... dan duduk di sana, bukan Rex, melainkan sosok yang tidak asing. “Risa Purnama,” gumam Elias, tajam. Mantan rekan yang kini menjadi pemburu bayaran Gigi Ular itu tersenyum kejam. “Akhirnya ketemu lagi,” katanya. “Lo makin tua, Elias.” “Dan lo makin berbahaya,” balas Elias. Risa berdiri, mengangkat tangan seolah menyerah. Tapi Elias tahu, dia tak pernah menyerah. Dalam sekejap, Risa melompat, menarik pisau dari balik bajunya dan menebas ke arah Kirana. Elias menangkis dengan lengan, terkena goresan, tapi cukup waktu bagi Dinda menembak ke arah Risa. Pelurunya meleset, tapi cukup untuk membuat Risa mundur. “Kita harus kabur sekarang!” seru Kirana. Namun, sebelum pergi, Elias memasukkan USB yang diberi Raka ke pusat server. File INITIUM mulai mengunggah program sabotase yang akan membuat sistem virus lumpuh. “Sedikit lagi...” gumamnya. Risa bangkit kembali, menodongkan pistol. Tapi suara ledakan kecil menggema dari belakang—pak Surya dan Raka, yang tiba-tiba muncul lewat pintu darurat dengan bom asap buatan sendiri. Risa terpukul oleh ledakan kecil dan roboh tak sadarkan diri. “Waktunya kita kabur!” seru Pak Surya sambil batuk. USB berhasil mengunggah file. Seluruh sistem Kompleks Obsidian kini mulai lumpuh. Alarm berbunyi, dan lampu darurat berkedip. Elias menarik Risa ke pundaknya. “Kita gak bisa biarin dia di sini. Dia bisa jadi kunci terakhir ke Rex.” Mereka melarikan diri lewat jalur belakang, menyatu dengan kekacauan internal Gigi Ular. Di permukaan, langit Jakarta mulai terang. Cahaya fajar pertama menyinari kota yang nyaris tak tahu bahwa kehancuran hampir dimulai malam itu. Di dalam van yang melaju menjauh dari museum, Elias menatap Risa yang tak sadarkan diri. “Sekarang tinggal satu langkah lagi,” katanya pelan. “Menemukan Rex Umbra... dan mengakhiri ini semua.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN