Tak banyak yang bisa diucapkan Mas Kevin setelah Mas Fadli mengatakan hal itu. Tampaknya satu kalimat telah membuatnya terguncang, memukul mental dan berhasil membuat lelaki itu syok. Terakhir kulihat sebelum kami meninggalkan kamarnya, dia nampak pucat dan berkeringat, wajahnya basah pun dari mimik bibirnya dia hendak mengatakan sesuatu tapi kalimat itu tidak terucap sama sekali. "Mas, apa Mas yakin tentang menjadikan Mas Kevin sebagai saksi, tidakkah dia akan mengacaukan sesuatu bila berubah pikiran?" "Tidak dia tak akan berani, Dik," balas Mas Fadli, "ada orang tua yang akan membuat dia mengerem sikapnya." "Kamu berhasil memukulnya dengan satu kalimat, Mas." "Begitulah seni pertarungan bila kau ingin menang," jawabnya sambil tersenyum dan menyentuh bahuku pelan. Setelahnya pria be

