"Silakan duduk," ujarku datar. "Mau kopi?" "Tidak," jawabnya sambil menggeleng cepat wajah lelaki itu nampak lelah dengan kantung mata yang pucat, berkali-kali Ia nampak ngantuk dan mengusap wajahnya. "Kamu sangat pandai memilih waktu untuk hadir, pandai mempermalukan dirimu sendiri, apa yang kau inginkan dengan datang ke rumah ini di saat keadaan sedang ramai?" "Kupikir masih sepi, tadinya aku mau balik pintu saja, tapi karena sudah terlanjur dilihat oleh tetanggamu, aku terpaksa mampir." "Akan kupanggil anak anak," ucapku datar. "Tidak usah kalau begitu, kulihat semua orang sedang sibuk dan rasanya untuk bertemu dengan anak-anak bukan waktu yang tepat." "Tapi kau sudah mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Ayahku dan mengatakan niatmu. Maka ketemui saja kedua anakmu!" "Seb

