22.

1095 Kata

Kubiarkan lelaki itu pergi, tanpa menyaksikan seperti kebiasaanku tiap pagi mengantarnya ke mobil, aku sudah enggan melakukan rutinitas konyol itu. Teringat betapa tulus dan berbaktinya aku, mendadak merasa bodoh begitu teringat percayanya aku padanya, sepenuh hati kubuat kotak makan tapi di belakangku ia mengolok diri ini dengan mencintai wanita lain lalu menistakan kotak bekal yang kuberikan, untuk dinikmati bersama jalang itu. Ah, aku ditipu mentah mentah olehnya. ** "Apa rencanamu pada suamimu?" tanya ibuku saat aku menelpon. "Entahlah, aku akan lihat bagaimana tersiksanya dia saat aku tak lagi memperdulikannya." "Jika kau memilih pergi, secepat kilat ia akan menikah." "Betul, dan aku tak akan biarkan dia semudah itu menjalani hidupnya. Enak saja mencampakkan istri lalu bulan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN