12. Rencana Tak Terduga

1265 Kata
Setya mengusap rambut Aisyah, setelah ia gendong dari kamar mandi tadi ternyata Aisyah tetap menahan dirinya, memeluk dan menangis sesenggukan di dadanya, hingga seperti biasa Setya akhirnya tak kuat menahan godaan, saat d**a keras Aisyah mendesak dadanya maka pangkal pahanya tanpa aba-aba juga ikut mengeras. Jadilah ia menikmati kembali desahan dan jerit tertahan istrinya,kini Aisyah tertidur nyenyak dalam pelukannya. Ada rasa sedih yang dirasakan Setya, di awal pernikahan istrinya sudah mendapat cobaan seperti ini, ia merasa bersyukur Aisyah bisa bersabar. Terdengar adzan asar, Setya menciumi bibir Aisyah, tak ada gerakan tetap tidur dengan nyenyak, Setya menunduk, tangannya menangkup d**a istrinya dan mulai memainkan bibirnya di sana. "Shhhh maaas, masih ngantuk," suara Aisyah terdengar parau karena terlalu lama menangis. "Adzan sayang, bangunlah," ujar Setya dan Aisyah segera membuka matanya. "Ya Allah iya mas adzan ya, eh ya Allaaaah kita..," Aisyah melihat dirinya dan suaminya yang berpelukan tanpa menggunakan apapun. "Loh tadi kan dik Ais langsung nyenyak tidurnya setelah mas bikin enak," ujar Setya menahan tawa, wajah Aisyah memerah dan mendekatkan badannya pada Setya. "Maas mana selimutnya, ah malu, nggak boleh sampai kelihatan semua," Aisyah terlihat bingung. "Ih mas ini dibikin enak apa, sakit semua, mas apakan aku, aneh-aneh saja gayanya," Aisyah merengek dan tawa Setya semakin jadi. "Tapi mulai nggak sakit kan, masa tiap selesai selaluuu ngeluh sakit, iya kan, nggak sakit kan itunya?" tanya Setya mengusap lembut milik Aisyah. "Masih sakit," sahut Aisyah malu-malu. "Ayo ah mas mandi dulu, kita sholat asar," Aisyah bangun memunggungi Setya, meraih selimut namun sesaat kemudian Setya telah menggendongnya ke kamar mandi. **** Sambil menunggu sholat maghrib, Aisyah tampak memeluk Setya di sofa ruang tamu sementara Setya tampak asik dengan ponselnya. "Sibuk mas?" tanya Aisyah yang merasa diabaikan. "Ah biasa pekerjaan kantor, direkturku nyuruh aku nyelesaikan ini itu dia kan hampir melahirkan, paling bulan ini, makanya dia sering minta tolong aku yang gantikan dia," ujar Setya. "Ooooh, eeemmm mas jumat depan, jemput aku agak pagi ya, ba'da jumatan, dik Maisaroh mau nikah, adik tingkatku, satu kamar lagi, kami sudah kayak saudara, tahu nggak, dia mau nikah sama mas Munif," ujar Aisyah. Setya melepas pelukannya, menatap wajah istrinya dengan bahagia. "Mas bahagiaaa banget, satu karena mas senang jemput kamu lebih awal, trus bahagia kedua, akhirnya pacarmu menikah juga, nggak ada yang ganggu kamu lagi" sahut Setya akhirnya mendekap kepala Aisyah ke dadanya, dan menciumi ujung kepalanya. Aisyah memukul d**a Setya. "Ih mas ini, siapa yang pacarnya mas Munif, dia cuman janji mau nikahin aku, kami nggak pacaran, nggak pernah berdua-duaan, ah mas ini, eh mas dik Mainya nangis sedih, karena dia sudah punya seseorang yang dia suka, ah kasihan, tapi aku nasehatin, dijodohkan itu in shaa Allah baik, karena orang tua kita in shaa Allah milihkan yamg terbaik," ujar Aisyah dan Setya kembali mengecup pipi serta hidung Aisyah berulang. "Kayak kita ya dik, alhamdulillah kita jadi kayak sekarang, lebih dekat, eh adzan maghrib kita sholat dulu yuk, trus cari makan ke bawah, lalu tiduran lagi, kita pelukan lagi, besok setelah subuh aku antar kamu," Setya menarik Aisyah untuk bangkit, mengambil wudu dan akan segera sholat. **** "Kok lelah mas Yuuuu?" tanya Aca, direktur Setya yang sudah seperti saudara bagi Setya. Hubungan mereka semakin baik sejak Setya menikah, tak ada lagi tatapan cemburu dari suami Aca, CEO sekaligus pimpinan Mikala corp. Setya tertawa dan duduk di hadapan Aca. "Biasalah bau-bau pengantin baru masih ada, jadinya ya maraton tanpa lelah, lah ketemuanya juga cuman jumat sampai minggu Ca, ya tiap bangun yaaa ayolaaah jadi deh tanpa aba-aba," Setya tertawa terbahak-bahak. "Iiih mas Yuuu, nggak kasihan sama dik Aisyah," ujar Aca menahan tawa. "Nggak papa Ca, biar membiasakan diri dengan ritme keras," tawa keduanya pecah di ruangan Aca. Namun tak lama wajah Setya berubah sedih jika mengingat kata-kata pedas Tenti pada Aisyah, akhirnya Setya menceritakan semuanya pada Aca dan mata Aca terbelalak kaget. "Ya Allah kok bisa Pak Fredy yang lugu itu kena juga, perasaan mereka tidak satu kantor deh mas," ujar Aca. "Sekarang satu kantor, kan yang kapan hari ada mutasi lagi, ah bisa nggak bagus situasi kantor kalau kayak gini, urusan pribadi Tenti sebenarnya tapi masalahnya dia jadi bikin runyam, yang kapan hari aku dengar sampe ada yang ramai karena merasa saling mengklaim pacar Tenti, dan malah sekarang gangguin mereka yang beristri," ujar Setya. "Aku dengar dari Bu Septi, Fariq akan memanggil semuanya, termasuk Tenti, Fariq nggak cerita masalah itu di rumah, aku malah tahunya tadi," ujar Aca. "Ya lebih baik begitu Ca, masalah kantor memang akan lebih baik bggak dibawa ke rumah, biar tenang yang di rumah, ah aku balik ke ruanganku dulu Ca, sudah ini saja yang akan aku kerjakan?" tanya Setya. "Iya itu saja, mas Yuuu mau nggak kalau gantiin aku di posisi ini?" tanya Aca tiba-tiba dan Setya kaget. "Alah Ca, kamu itu loh kalau bergurau kadang kelewatan, udah ah aku ke ruanganku dulu," Setya menutup pintu dan melangkah ke ruangannya. **** Setya bergegas menuju ruang pertemuan di gedung megah milik Mikala Corp, yang akan dipimpin Fariq, suami Aca bos Setya pagi ini, ia mewakili Aca yang pagi ini kembali tampak lelah. Tak lama acara dimulai dan Fariq menyampaikan progres dari masing-masing anak perusahaannya, capaian apa saja yang telah mereka raih serta reward apa saja bagi anak perusahaannya yang telah melewati target. Setya mendengarkan dengan cermat, ia bangga perusahaan yang ia pegang bersama Aca telah melampaui target. Saat selesai dan acara makan siang tiba, tiba-tiba Tenti ada di sisinya dengan pandangan mengejek menatap Setya. "Heh tampak lelah, apa istri beliamu tak bisa memuaskanmu?" "Hahahah justru aku kelelahan karena ternyata dia mampu mengalahkan aku hingga aku lemas tak berkutik sedang kamu ck ck ck selalu minta berhenti karena kelelahan, berhentilah bermimpi nyonya, usiamu sudah tua, waktunya mengistirahatkan badanmu yang sudah renta," Setya berlalu sambil tersenyum lebar, melirik Tenti sekilas yang terlihat memerah wajahnya karena menahan marah. **** Jumat pagi Setya segera menuju pondok pesantren menjemput Aisyah, lalu mampir ke rumah Aisyah, yang disambut riuh oleh orang tua dan sepupu-sepupunya. "Monggo, mari silakan nak Setya, kok ndak ngasi kabar Aisyah, kami tidak menyiapkan apa-apa loh," ucap bu Parjo menyilakan duduk menantunya dan masih saja menggenggam tangan Aisyah. "Aisyah lepas dulu tangan suamimu, ayo di ajak duduk, ibu buatkan minum dulu," ujar ibunda Aisyah "Tidak usah repot-repot bu, karena ba'da sholat jumat kami akan ke pernikahan temannya dik Aisyah," sahut Setya. "Oooh iya iya, sana Aisyah temui sepupu-sepupumu dulu, biar nak Setya ngobrol sama bapak, sik tak buarkan minum," bu Parjo masuk menuju dapur dan mendengar keriuhan dari kamar Aisyah, pasti Aisyah di goda oleh sepupu-sepupunya. **** Jam satu siang Aisyah baru sampai di tempat mempelai wanita, Aisyah dan Setya disilakan duduk di deretan kursi depan bersama keluarga besar nyai sepuh dari pondok pesantren. Ijab qabul ternyata baru selesai dilaksanakan, Setya duduk di samping Aisyah dan menatap ke arah mana mata laki-laki yang baru saja mengucapkan ijab qabul itu terarah, Setya meraih jemari Aisyah membawanya kepangkuannya hingga laki-laki itu sadar dan menundukkan pandangannya. **** Selama perjalanan pulang mereka diam tak melakukan percakapan apapun, Aisyah sesekali melirik suaminya, ada apa? pikirnya. **** Setelah selesai sholat asar, Aisyah merebahkan badannya di kasur meski tidak mengantuk ia ingin merebahkan badannya setelah perjalanan tadi, memejamkan matanya dan tak lama ia merasakan kasurnya bergoyang dan ada lengan besar memeluknya. "Sayang boleh nggak selama menyelesaikan pengabdian, tidak tinggal di pondok pesantren tapi tinggal di rumah dekat pondok pesantren, ngontrak gitu?" tanya Setya. "Boleh, nggak masalah, kan Ais kayak gini karena jarak dari rumah ke pondok cukup jauh, dari apartemen mas malah semakin jauh, memang kenapa mas?" "Besok kita cari kontrakan sekitar sana," ujar Setya dan Aisyah kaget sampai mulutnya terbuka karena tak menyangka rencana mendadak Setya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN