Bayi dalam kandungan Erika berhasil diselamatkan setengah jam setelah Erika dinyatakan meninggal. Melihat wajah putra mereka Revan semakin jatuh dalam penyesalan. Tanpa harus tes DNA pun, Revan tahu kalau bayi ini anak kandungnya hanya melihat wajah mungil kecil jiplakannya.
“Aku bodoh, Eri. Harusnya aku lebih percaya sama kamu. Maafkan karena aku termakan kata-kata perempuan itu. Aku termakan semua hasutannya hanya karena aku pernah jatuh cinta sama dia. Maafin aku, Eri. Maafin aku.” Seru Revan menangis tergugu di samping pusara Erika tepat dua minggu setelah kematian istrinya.
Sebuah keputusan bodoh yang membuat hidupnya kini hancur diselimuti dengan duka dan penyesalan. Nasi sudah jadi bubur, Erika yang dulu mencintainya dengan tulus justru ia sia-siakan hanya karena cinta pertamanya itu.
“Seandainya Tuhan memberikan kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya, Sayang. Tolong jangan hukum aku seperti ini.” Meski semua sia-sia namun Revan terus mengucapkan hal yang sama seraya memukuli dirinya sebagai bentuk hukuman atas kebodohannya itu.
“Aku mohon kembali, Eri. Aku mohon… Argh!!!” Setelah berteriak bak manusia tidak waras.
Disaat penyesalannya tak lagi terbendung, Revan merasakan perih di dari bekang kepalanya. Senyum kecutnya nampak bersamaan dengan hujan yang datang menghapus air mata sekaligus membersihkan darah yang mengalir di kepalanya lalu ia jatuh terjerembab di atas pusara Erika.
Air matanya mengalir namun ia tersenyum lepas bahagia seakan-akan keinginannya dikabulkan sang pencipta. Ia akan menyusul Erika-nya lagi di alam sana untuk memperbaiki semuanya dari awal.
***
Hash!!
Suara hembusan nafas kasar membuat Erika membuka matanya lalu bangun duduk seakan nafas itu baru saja mengisi kerongkongannya dengan susah payah. Pandangannya menyusuri sekeliling ruangan, semua barang-barang dan penataan di ruangan ini sama seperti di dalam kamarnya.
Satu tangan naik mengusap pipi, basah. Air mata itu masih segar dan belum kering persis di saat ia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
“Apa surga seperti ini? Tapi ini kamarku, kenapa aku disini. Bukankah aku sudah mati?”
Masih memikirkan kejadian yang sepertinya baru saja ia alami. Tidak, itu bukanlah mimpi meski kenyataannya ia terbangun masih di dalam kamar tidurnya dulu. Rasa sakit ditusuk selingkuhan Revan bahkan masih begitu terasa perihnya sampai Erika reflek memegangi perutnya yang sekarang sudah rata tapi keningnya mengernyit mendapati permukaan kulit di perutnya masih mulus tidak ada bekas luka atau jahitan.
“Mungkinkah aku sudah melahirkan dan papa mama membawaku pulang kembali? Tapi kenapa ini ngak ada bekasnya? Ck, sebenarnya aku sudah mati atau belum sih!” Gerutu Erika kesal sendiri mengusap kasar wajah.
Suara dering ponsel menghentikan pergelutan pikirannya.
“Halo, ini masih pagi, Des.”
Desi, salah satu sahabat Erika yang menghubunginya.
“Pagi dengkul loe! Sekarang sudah jam sepuluh. Kebiasaan banget sih loe, Ri! Buruan sikat gigi, ngak usah mandi langsung ganti baju sana! Hari ini loe presentasi si dosen jutek, loe ngak lupa kan?”
“Hah! Hari ini? Yah udah gua ganti baju sekarang.”
Bak orang kesetanan, Erika berlari masuk ke kamar mandi menyegarkan diri lalu mengganti piyamanya sebelum dirinya di damprat oleh dosen cantik perawan tua yang juteknya mengalahkan cabe mercon level sepuluh.
“Bye, Pap, Mam…” Sambil ngeloyor pergi tidak lupa mengambil selembar roti tawar yang langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Erika! Sarapan dulu!”
“Sudah telat banget, Mi.”
Beberapa saat setelah di dalam mobil, pikiran Erika kembali pada kejadian itu.
“Tunggu dulu, rasanya seperti pernah mengalami ini. Kalau benar, aku terlambat setengah jam karena macet di Jalan Perintis karena ada kecelakaan mobil.”
Benar saja setelah menebak, mobil yang ditumpanginya melambat.
“Kenapa, Pak?”
“Tumben macet, Non. Ngak biasanya. Pasti ada kecelakaan deh.”
Jantung Erika bergemuruh, kebetulan macam apa ini. Perlahan ia melihat layer ponselnya mencari tanggal hari ini disana. Bola matanya mencelat seperti tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Pak, sekarang tanggal berapa yah?” Tanyanya ingin memastikan.
“Lima Oktober, Non hari Senin.”
“Tahun?”
“Dua ribu lima belas.”
“Bukan tahun dua ribu tujuh belas yah, Pak?”
Pak supir terkekeh mendengar pertanyaan Erika.
“Ngaco si Enon. Masih lima belas. Tapi keren juga yah kalau kita bisa lihat masa depan, mungkin nasib saya bisa beda.” Sahut si supir tanpa sadar wajah anak majikannya makin pucat.
Erika yakin sekali dia menikahi Revan tanggal tujuh belas Maret dua ribu tujuh belas dan dia meninggal di bulan Desember tahun yang sama dalam keadaan hamil delapan bulan.
“Tuh benar kan kecelakaan. Maaf yah, Non jadi terlambat ke kampusnya.”
Terkesiap dengan kenyataan yang ia lihat, wajahnya nampak kebingungan. Dia yakin sekali sudah meninggal karena ditusuk oleh simpanan Revan dan semua itu nyata bukan sekedar mimpi. Mungkinkah Tuhan benar-benar sedang mengabulkan permohonannya malam sebelum ia meninggal dan memberikan kesempatan padanya dengan memperbaiki garis hidupnya belajar dari kesalahan dikehidupan lalu.
“Yah, ini kesempatan keduaku dari Tuhan. Aku akan merubah semuanya, bahkan kalau perlu aku akan jadi si pembangkangnya papi.”
Seperti tebakan Erika, dia terlambat dan di maki habis-habisan oleh dosennya di kampus. Namun dia seperti tidak menanggapi ocehan dosen hanya berdiri menerima semua kicau omelan tanpa mengaku salah dan lalai. Bahkan hari itu Lita dan Desi dibuat takjub karena Erika bisa menebak makanan apa yang akan mereka pesan untuk makan siang nanti. Lalu memesan tiket premier bioskop lebih dulu karena tahu lusa mereka akan nonton bareng film dimana actor favorit mereka sebagai pemeran utamanya.
Dalam benak Erika justru memikirkan langkah apa saja yang harus ia lakukan untuk mencegah agar dia tidak dijodohkan dengan Revan. Pikirnya kalau memang ia kembali ke masa lalu maka ia akan memperbaiki satu per satu kejadian yang sudah merusak masa depannya dan membuatnya mati dalam keadaan rapuh.
“Aku akan membalas semua perlakuan jahat kamu padaku, Rev. Lihat saja nanti, tidak ada lagi Erika yang dulu, aku tidak akan membiarkan kamu mempermainkan perasaanku. Cinta itu sudah mati.” Bisiknya berjalan memasuki sebuah mall tempat dimana ia akan bertemu dengan kedua temannya untuk nonton bioskop.
“Aduh!”
Tiba-tiba lengannya ditabrak kencang oleh seseorang dari belakang sampai Erika terjatuh.
“Ck, mall gini luas napa juga sampai nabrak gua sih!” Gerutunya memegang lututnya bersiap untuk bangun.
“Maaf, saya ngak sengaja nabrak.”
Nafas Erika seketika tercekat di kerongkongan mendengar suara orang yang menabraknya. Perlahan menegakkan kepala melihat wajah orang tersebut semakin membuat dadanya bergemuruh hebat sampai Erika memegang jantungnya seolah masih terasa sakit sekali di sana.
Sedangkan pria tersebut menatap bingung apa karena tabrakannya tadi membuat jantung gadis cantik dihadapannya ini kumat.
“Kamu ngakpapa kan? Sekali lagi saya minta maaf tidak sengaja nabrak kamu. Tadi saya mengejar orang yang mengambil ponsel saya sampai tidak melihat kamu. Ada yang terluka, kita ke rumah sakit periksa luka kamu mau?”
Niatnya ingin bertanggung jawab karena sikap teledornya, Revan tersentak ketika gadis itu menampar pipinya dengan tatapan membenci.
“Aku ngak akan maafin kamu, sejuta kali kamu minta maaf pun aku ngak akan sudi memaafkan kamu!” Teriak Erika menggema hingga menarik perhatian pengunjung mall tersebut.
Revan sendiri sampai bingung padahal kesalahannya sepele tapi kenapa gadis ini sampai menamparnya bahkan menangis seperti dia baru saja melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Bibirnya menyeringai kemudian mendecih seolah meledek perbuat gadis itu.
“Memangnya nabrak orang dosanya berat sampai pipi saya harus ditampar.”
“Iyah, kalau kamu orangnya itu dosa besar.”
Oke, emosi Revan berhasil terpantik. Bertolak pinggang menatap geregetan gadis di depannya, ia memperlihatkan wajah angkuh dingin membalas tatapan sengit Erika.
“Ini baru muka asli loe, yang tadi cuma topeng munafik!” Lagi-lagi Erika mengatai pemuda tampan dihadapannya itu.
“Saya tidak kenal kamu sebelumnya, atau kita pernah bertemu tapi saya lupa?”
Sadar kalau Revan pasti tidak mengenalnya saat ini, Erika pun meredakan amarahnya.
“Pokoknya jangan pernah lagi muncul dihadapan gua. Anggap saja hari ini hari sial sampai kita bertemu, ngerti!”
Tanpa menunggu Revan membalas, Erika pergi menjauh meninggalkan Revan yang masih mengernyit kebingungan. Namun semakin menjauh bibir Revan tersenyum sinis menatap gadis yang baru saja menghadiahinya tamparan, ia mengusap pipinya yang masih terasa pedas.
“Belum saatnya aku membuatmu menderita, Erika!”