“Cepat makan trus minum obatnya. Tanganmu tidak patah sampai harus aku yang suapin kan.” Ujar Revan menarik meja makan ke ranjang tempat Erika menyandar. Mana ada orang sakit yang tidak akan kesal disuruh makan seperti cara Revan. Memalukan sekali kalau sampai orang-orang tahu kalau lelaki tampan dihadapannya ini adalah calon suaminya. Erika mendelik tidak suka bahkan sengaja menurunkan bagian atas kasurnya lalu memejamkan mata. “Erika!” “Tidak ada yang nyuruh kamu kemari, aku juga ngak butuh bantuan kamu. Pergi sana!” “Kamu pikir aku juga mau. Kalau bukan karena status kita dan mami kamu meminta tolong aku jagain kamu pagi ini lebih baik aku ke kantor. Kamu pikir aku pengangguran tanpa kerjaan! Aneh, anak Raja tapi manja dan lemah.” “Kamu…” “Mau bangun atau aku cekokin bubur ini ke

