PENOLAKAN

1099 Kata
“Bu, hari ini kita mau ke rumah Yuda. Kita akan meminta pertangung jawaban dari Yuda,” ucap Sela kepada Ani yang duduk termenung di kebun belakang rumahnya. “Ya udah kalau gitu Ibu siap-siap dulu ya La.” “Ibu gak di rumah aja nungguin Bapak pulang dari rumahnya Pakde?” tanya Sela kepada Ibunya yang ingin ikut pergi ke rumah Yuda. “La, urusan Gita lebih penting daripada menunggu Bapak di rumah. Lagian Ibu tidak akan bisa tenang kalau belum tahu penyelesain untuk permasalahan ini. “Ya udah kalau gitu, aku tak ngomong dulu sama Pakde biar Bapak di antarnya nanti sore aja.” “Iya La. Ya udah ibu siap-siap dulu ya. owh iya La, kamu udah beli oleh-oleh untuk keluarga Yuda?” tanya Ani. “Oleh-oleh? Buat apa Bu? kita kesana kan ingin meminta pertangung jawaban dari Yuda bukan untuk bertamu.” “La … gimanapun juga kita kan tamu, dan sudah adatnya kita membawakan buah tangan untuk Yuda. Kita harus menghormati keluarga Yuda La, dia calon suaminya Gita adik kamu,” jelas Ani dengan lembut. “Bu … kita sudah diperlakukan dengan cara seperti itu, masa kita harus tetap menghormatinya kan gak masuk akal Bu,” tolak Sela dengan keras. “La… tolong belikan oleh-oleh dulu ya La untuk keluarganya Yuda. Dan jangan lupa untuk bilang sama pak Prapto untuk menyewa mobilnya.” “BU … kita bisa menggunakan motor, kenapa kita harus menyewa mobil?” “La … lihat kondisi adik kamu yang saat ini tengah berbadan dua. Gak mungkin kan kalau kitia pergi ke tempat Yuda yang cukup jauh dengan motor? Apa kamu tega melihat adik kamu membawa motornya sendiri? kamu gak tega kan?” “Aku tega kok Bu! dia aja tega dengan kita, terus kenapa kita harus kasihan dengannya?” “La … jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga Gita itu adik kamu. Dia juga sedang mengandung ponakanmu. Jangan seperti itu ya La. Kita harus bisa saling membantu. Kita adalah keluarga La. Kita satu tim, kita satu jiwa!” “Oke … ini semua demi Ibu, bukan untuk Gita,” ucap Sela dengan ketus. # SATU JAM KEMUDIAN. “Udah pada siap semua kan?” tanya Ani kepada Gita dan Sela. “Udah Bu,” jawab Sela dengan mantap, sedangkan Gita hanya membisu dengan tatapan yang kosong. “Ole-olehnya udah kan La?” “Udah Bu … udah Ibu tenang saja. aku udah mempersiapkan oleh-oleh untuk keluarganya Yuda. Ya udah aku berangkat, keburu siang.” Dengan tergesa-gesa keluarga Gita langsung pergi menuju ke kediaman Yuda yang letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal Gita. “Git, rumahnya Yuda di sebelah mana?” tanya Sela ketika mobil yang ia tumpangi sudah masuk ke dalam gang yang di sebutkan oleh Gita sebelum mereka berangkat. “Itu Mbak rumahnya Yuda,” tunjuk Gita pada sebuah rumah tingkat bercat putih. “Kamu yakin itu rumahnya Yuda?” tanya Sela memastikan. “Yakin Mbak,” jawab Gita dengan mantap. Setelah yakin dengan rumah Yuda, maka Gita sekeluarga langsung mengetuk pintu rumah Yuda dan berharap keluarga Yuda dan Yuda mau mempertangung jawabkan apa yang telah ia lakukan kepada Gita. “Git kamu yakin ini rumahnya Yuda?” tany Sela yang merasa kesal karena tidak segera di buka kan pintu oleh Yuda. “Aku yakin kok Mbak.” “Tapi kita udah menunggu selama lima belas menit lho Git.” “La .. kita tunggu dulu ya Nak. Jangan marah-marah kaya gitu lah.”  “Itu Yuda dan keluarganya Bu,” tunjuk Gita pada sebuah mobil yang mulai masuk ke dalam pekarang rumah Yuda. “Syukurlah kalau Yuda dan sekeluarganya sudah pulang.” “Yuda, itu bukannya mantan kamu kan? Kenapa dia datang kesini Nak?” tanya Tika ibu Yuda “AKu juga gak tahu Mah, kayaknya Gita gak ingin putus denganku,” jawab Yuda dengan santai. Ia tidak merasa bersalah sama sekali dengan Gita. “Kamu yakin? Awas ya kamu Yud, kalau kamu berbuat aneh-aneh lagi sama Gita. Mamah usir kamu dari rumah,” bentak Tika pada Yuda yang hanya tersenyum kecut pada Ibunya. “Wes-wes jangan berdebat disini. Udah ayo kita temui tamu kita,” ajak Rizky ayah Yuda. “La nanti kamu harus bersikap sabar dan tenang lho La,” ujar Ani kepada Sela yang sudah emosi dengan tingkah laku Yuda dan Gita yang berhasil mencoreng nama baik keluarga. . . “Apa maksudnya ini? kenapa kalian meminta pertangung jawaban kepada anak saya?” tanya Tika yang tidak terima anaknya di tuduh telah menghamili anak orang. “Maksud kami adalah, kami ingin meminta hak Gita untuk di nikahi Yuda. Kami hanya ingin Yuda bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada adik kami,” jelas Sela kepada keluarga Yuda yang terlihat begitu shock. “Tidak mungkin kalau anak saya telah menghamili Gita! Saya mendidik anak saya dengan pondasi nilai-nilai keagamaan yang kuat. Saya tidak percaya kalau Yuda bisa melakukan hal sekeji itu kepada gadis yang belum sah ia nikahi.” “Tapi kenyataanya Gita tengah mengandung janin dari hubungan gelap Yuda dan Gita!” “Yud, aku mohon bicaralah Yud. Aku mohon bicarlah dengan kedua orang tua kamu, kalau saat ini aku tengah mengandung buah cinta kita,” pinta Gita dengan linangan air mata. “Tidak Mah! Semua itu tidak benar. aku tidak pernah menghamili Gita!” tolak Yuda. “Yud!” pekik Gita yang tidak menyangka kalau kehadirannya tidak di anggap oleh Yuda. “Tukan kalian dengar. Yuda anak saya tidak mungkin menghamili anak seperti Gita! Lagipula anak saya juga sudah kami jodohkan dengan wanita yang berasal dari keluarga baik-baik,” ucap Tika kepada keluarganya Gita. “Jaga omongan anda! Kami juga dari keluarga baik-baik, dan kedatangan kami disini adalah untuk meminta pertangung jawaban dari Yuda! Kami tidak meminta lebih. Kami hanya ingin Yuda bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada Helena!” ucap Sela dengan intonasi yang cukup tinggi. “Kalian semua tolong pergi dari sini! Kami tidak menerima keluarga licik seperti kalian. Saya sudah tahu kok kalau kalian pasti hanya menjebak anak saya yang masih polos ini. “ “Mohon maaf Bu. kami memang miskin, tetapi hati kami jauh lebih kaya daripada hati ibu sekeluarga. Permisi.” Ucap Sela sambil ia menarik Gita keluar dari rumah keluarga yang tidak mempunyai hati. “Mbak … gimana nasib aku?” renggek Gita yang memicu emosi Sela. “Gita! Kita sudah dipermalukan seperti itu, dan kamu masih mau hidup dengan Yuda? Laki-laki pengecut yang tidak mempunyai hati? Kalau kamu masih menganggap kami adalah keluargamu, maka ayo kita pergi dari sini! Lihat Ibu!” bentak Sela yang merasa jengkel dengan ulah adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN