Garis Dua

1004 Kata
Ombak masih tetap bergulung berkejaran. Batu karang masih tetap tegar menantang ganasnya lautan. Matahari pun tetap bertahan di garis edarnya. Tak ada yang berubah dalam tatanan dunia, segalanya masih sama seperti semula, masih baik-baik saja. Akan tetapi, tidak demikian bagi Ciara. Satu malam kelam, benar-benar mengubah jalan hidupnya. Satu minggu waktu yang berlalu, tak membuatnya terlepas dari pilu. Justru ia semakin terkubur dalam kubang luka yang entah di mana batasnya. Lentera dalam jiwanya mendadak padam, ketika benda pipih yang digenggam menunjukkan garis dua. Dirinya hamil. "Kenapa! Kenapa harus seperti ini! Kenapa takdirku sangat tidak adil!" teriak Ciara, frustrasi. Ia lemparkan benda itu ke sudut ruangan. Lantas menjatuhkan tubuhnya di lantai sambil memegangi kepala. Hancur sudah segala masa depan dan harapan. Bagaimana kehidupannya setelah ini? Ia berusaha keras menyembunyikan nista dalam dirinya, lantas jika hamil, bagaimana lagi caranya bersembunyi? "Apa salahku, Ya Allah? Kenapa Engkau timpakan ujian yang seberat ini? Kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku? Aku lebih baik mati daripada seperti ini." Ciara terus menangis, meratapi nasibnya yang sungguh malang. Ciara memegangi kepalanya makin erat, bahkan kini sembari mengacak rambutnya dengan kasar. Pikirannya beku dan tak bisa berangan tentang kehidupan selanjutnya. Detik waktu seolah berhenti dan lentera pula seakan padam, kala tahu tentang kehamilannya. "Arrggghhhh! Takdir ini tidak adil! Aku benci! Aku benci!" pekik Ciara. Di sela-sela tangis dan jeritan, suara derap langkah samar-samar mendekat. Namun, Ciara tak peduli. Ia terus menangis dan merutuki takdirnya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya dibuka dari luar. Ternyata, orang tuanya yang datang. "Ciara! Ada apa, Nak?" teriak Ratna. Ia sangat khawatir ketika mendengar jeritan Ciara. "Ciara. Tenanglah, Nak," kata Dion, ayah Ciara. Pria paruh baya itu menghampiri Ciara dan berjongkok di hadapannya. Hatinya tercabik melihat keadaan putri kesayangan. "Aku ingin mati saja, Pa, aku tidak mau hidup seperti ini. Aku tidak kuat, Pa." Ciara menangis sambil menjatuhkan tubuhnya di pelukan sang ayah. "Sabar, Nak, jangan bicara seperti itu. Mama dan Papa selalu ada di dekatmu, kami akan mencari jalan keluar untukmu, Nak." Dion mengusap-usap punggung Ciara sembari memejamkan mata. Kendati biasanya sangat tegar, tetapi kali ini rapuh jua. "Mas ... ini ... ini," ucap Ratna dengan terbata. Dion menoleh dan menatap istrinya yang sedang menggenggam tes pack. Dari sana Dion paham apa yang terjadi, anaknya tengah mengandung. "Sabar, Nak, kita pasti menemukan jalan keluar. Tenangkan dirimu, ya," ucap Dion dengan tatapan nanar. Tak pernah terbayangkan, jika anaknya akan mengalami hal sepahit ini. "Maaf, Om, saya lancang ikut ke sini. Tapi ... saya juga khawatir," ucap seseorang dari ambang pintu. Ia adalah Karendra Mahardika, anak dari sahabatnya Dion. Kebetulan, hari ini ia datang mewakili sang ayah untuk membahas dana proyek yang mereka tangani bersama. Ratna dan Dion meninggalkannya begitu saja, ketika mendengar jeritan Ciara. Rendra dan orang tuanya adalah satu-satunya keluarga yang mengetahui masalah Ciara. "Tidak apa-apa. Maaf ya, sepertinya ... Om harus menunda pembahasan ini," kata Dion. "Iya, Om, saya paham." Rendra menjawab sambil menatap lekat ke arah Ciara. Sejak pertama kali bersua, Rendra menaruh hati pada Ciara. Baginya, Ciara adalah sosok gadis yang sempurna dan istimewa. Namun, Rendra tak memiliki nyali untuk mengungkapkan perasaannya, karena Ciara sudah memiliki kekasih yang jauh lebih sepadan. Tahun ini, usia Rendra memasuki kepala tiga. Terlalu dewasa untuk Ciara yang masih belasan tahun. Rendra melangkah masuk dan berjongkok di belakang Ciara. Ia mengambil napas dalam-dalam. Rasanya terlampu sakit melihat keadaan Ciara saat ini. "Apa kita gugurkan saja, mumpung janin itu masih kecil," ucap Ratna dengan gemetaran. Sesungguhnya itu adalah jalan keluar yang amat buruk, tetapi keadaan tak memberikan pilihan yang baik untuk mereka. "Apa tidak apa-apa, Ma?" tanya Dion. Meskipun dilakukan dengan cara medis, tetapi terkadang tindakan itu juga mengakibatkan dampak yang buruk. Ia takut masa depan Ciara makin hancur jika memilih jalan aborsi. "Lalu bagaimana, Mas?" Ratna menitikkan air mata. "Bagaimana kalau ... mmm maaf saya kembali lancang. Saya ... saya ingin menyarankan, pernikahan," sela Rendra dengan gugup. Ratna dan Dion langsung menoleh. Mereka menatap Rendra dengan penuh tanya. Seolah meminta penjelasan dari saran yang ia utarakan. "Rendra, pernikahan bukan mainan. Lebih utama menikah sekali dalam seumur hidup. Saya tidak mau seperti orang kebanyakan, yang membeli lelaki untuk menutupi kehamilan, dan lantas menyuruh cerai setelah melahirkan. Pernikahan itu sakral, kita bersaksi di hadapan Tuhan, tidak baik jika menganggapnya gurauan. Saya tidak setuju, Rendra," terang Dion dengan panjang lebar. "Saya tidak menyarankan yang demikian, Om. Yang saya maksud pernikahan yang dilandasi cinta dan tidak ada rencana perceraian. Apakah Om setuju?" Rendra bertanya sembari menyeka bintik-bintik keringat di wajah. Ia berharap ada titik terang untuk kisah asmaranya. Ia tak peduli meskipun Ciara sudah ternoda, karena semua itu juga di luar kehendak. Rendra ingin menjadi pelipur lara dan juga malaikat cinta dalam hidupnya. Ia ingin selamanya bersanding dengan gadis itu. "Kak Rifky tidak ada kabar sejak bulan lalu, dan aku juga tidak tahu dia masih mau menerimaku atau tidak." Ciara melepaskan pelukan ayahnya dan mengusap air mata yang enggan berhenti. "Ke mana Rifky?" tanya Ratna. "Aku juga tidak tahu, Ma. Nomornya tidak pernah aktif." Ciara menjawab sambil menggeleng. "Kalau menikah dengan orang lain yang juga mencintaimu. Kamu mau, tidak?" Rendra memberanikan diri untuk bertanya. Ia melawan rasa gugup yang melanda demi tercapainya sebuah asa. Ciara menatap Rendra lekat-lekat. Walaupun matanya masih sembap, tetapi ia bisa melihat jelas kegugupan yang terpancar di wajah Rendra. Lantas Ciara menggeleng pelan. Imajinasinya terlalu tinggi, jika menganggap Rendra mencintainya. Dia sudah ternoda, mana pantas dicintai lelaki seperti Rendra. Tampan, mapan, dewasa, dan juga bijak. Gambaran yang nyaris sempurna. "Rendra, apa maksudmu? Keadaan Ciara sedang seperti ini. Dalam waktu dekat, siapa yang akan mencintainya?" tanya Ratna. "Tantemu benar, Rendra. Kalau dulu, mungkin bukan hal yang sulit untuk mendapatkan itu. Tapi sekarang, Ciara masih trauma seperti ini. Dia___" "Saya tetap mencintainya, Om. Dulu ataupun sekarang, perasaan itu tidak pernah berubah. Saya bersedia menikahinya. Saya berjanji akan menjaganya dan berusaha membuatnya bahagia ... sampai batas umur saya," pungkas Rendra. Dion, Ratna, dan Ciara, mereka serentak menatap Rendra dengan mulut yang menganga. Tidak percaya, itulah yang mereka rasakan saat ini. Rendra adalah sosok lelaki yang sempurna, benarkah ia mencintai Ciara yang telah ternoda?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN