Datang Berkunjung

1293 Kata
Ciara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang menerawang. Menikah dan hidup serumah dengan lelaki yang sama sekali tak dicintai, bagaimana rasanya? Samar-samar lukisan wajah Rifky terlukis dalam angan. Memaksa Ciara untuk meratapi kembali rindu yang semu. "Kak Rifky, aku mencintaimu. Kamu di mana?" bisiknya dalam kesendirian. Kilasan balik tentang masa lalu, terus menghantui pikiran. Ciara meresepinya dengan hujaman rasa perih. Setelah cukup lama bergelut dalam gejolak hati, bayang-bayang kenangan perlahan memudar. Rasa kantuk mulai menghampiri dan menenangkannya dalam lena. __________ Hangat sinar surya menyadarkan Ciara dari alam mimpi. Karena lupa tak menutup tirai, cahaya itu masuk dengan leluasa ke kamarnya. Perlahan ia mengerjap dan berusaha menghalau dengan ujung selimut. Lantas menggeliat dan membelakangi sinarnya. Dengan mata yang setengah terpejam, Ciara mendengar getar ponsel. Meskipun malas, tetapi ia meraihnya dan memeriksa pesan masuk. Ada dua pesan yang menarik perhatiannya. Satu dari Rendra, satu lagi dari Nayla—teman SMA yang hingga saat ini terus peduli padanya. [Gimana kabar kamu, Ra? Aku kangen. Kapan ada waktu, aku akan main ke rumahmu] Sebaris pesan dari Nayla, yang pada akhirnya sekadar diabaikan. Ciara tak mengucap kata ataupun tersenyum, hanya bernapas kasar dan kemudian membuka pesan dari Rendra. [Selamat pagi, Ara. Jika sudah bangun jangan lupa sarapan, ya. Tetap jaga kesehatan dan tetaplah tersenyum. I love you] Ciara meletakkan kembali ponselnya. Tak ada sedikit pun niat untuk mengetik pesan balasan. Ia justru memeluk guling sembari menatap jarum jam yang menggantung di dinding. "Baginya sangat mudah mengucap kata itu, tapi bagiku ... sangat sulit. Andai tidak ada dia, aku tidak mungkin memilih Kak Rendra." Ciara bergumam sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Ya Allah, akankah suatu saat nanti aku bisa mencintai Kak Rendra dan melupakan Kak Rifky?" sambung Ciara. Menit berikutnya, ia bangkit dan menggulung rambut dengan asal. Baru saja ia turun dari ranjang, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Ternyata Nayla yang menelepon. "Hallo," sapa Ciara dengan nada datar. Bukannya benci, tetapi Ciara merasa malu. Nayla adalah teman dekat yang mengetahui nasib sialnya. Kendati ia tahu Nayla tulus padanya, tetapi rasa malu itu masih saja bertahta. "Hallo, Ra, kamu di mana?" tanya Nayla dengan suara khasnya—cempreng. "Aku ... di rumah. Ada apa?" "Aku kangen banget sama kamu. Boleh ya, datang bertamu?" mohon Nayla dari seberang sana. Ciara mengembuskan napas kasar. Sebenarnya ia tak menginginkan kehadiran Nayla, tetapi sahabatnya itu sudah kerap kali mengajaknya bersua. Rasanya tidak etis jika terus-menerus menghindar. Mengingat dulu pertemanan mereka cukup dekat, sama seperti Adella. Ah, Adella. Sebuah nama yang membuat asanya hancur berantakan. "Ra!" panggil Nayla. "Ehh, maaf. Aku ... barusan minum," kilah Ciara. "Iya nggak apa-apa. Jadi ... gimana?" tanya Nayla dengan ragu. "Datang saja, aku ada di rumah kok. Tapi, sekarang belum mandi." Ciara berusaha tertawa, walau nyatanya terdengar hambar. "Aku juga masih di rumah, kok, Ra. Baru aja sarapan. Mmm, kamu nanti nitip apa, biar aku beliin." "Nggak usah, Nay," tolak Ciara. "Yakin?" "Iya." "Oke deh. Ya udah aku siap-siap dulu, ya. Kamu juga buruan mandi, jangan lupa dandan yang cantik. Tamunya spesial soalnya." Nayla tertawa renyah. "Iya," jawab Ciara dengan singkat. Tak lama kemudian, sambungan telepon terputus. Lalu Ciara melangkah gontai menuju kamar mandi. Ia merendam tubuhnya dalam air hangat, guna menenangkan perasaan yang dari waktu ke waktu makin tak karuan. ___________ Sang surya mulai merangkak tinggi. Sinarnya yang keemasan menerpa hamparan pasir putih. Membuatnya berkilau dan melukis fatamorgana di udara hampa. Di atas kursi, di ruangan terbuka di lantai dua, Ciara dan Nayla duduk bersama. Berbincang, sekaligus menikmati kemilau pantai yang tampak jelas dari sana. "Ra, kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Nayla. Untuk kesekian kalinya, ia menanyakan keadaan sahabatnya. Melihat Ciara kerap menunduk dan menatap kosong, ia yakin ada luka besar yang kembali mendera. "Baik, bahkan sangat baik. Bukan hanya aku yang sehat, tapi ... anakku pun juga sehat. Dia tumbuh, kendati aku berusaha mencegahnya," jawab Ciara dengan pelan. Ia memutuskan berterus terang. Bagaimanapun juga, ia butuh tempat untuk berbagi beban. Nayla tersentak seketika, "kamu ... kamu, ha ... hamil?" "Apa salah bila aku menganggap Tuhan tidak adil, Nay?" Ciara menunduk dan mencengkeram pinggiran kursi dengan erat. Nayla tak mampu lagi bicara. Tenggorokannya menciut, bahkan untuk menelah ludah pun ia kesulitan. Matanya mengerjap cepat, mencoba menahan buliran bening yang siap tumpah. Dengan gemataran Nayla beranjak dan memeluk Ciara dengan erat. Sembari mengusap punggung sahabatnya, pikiran Nayla menerawang menjelajah kenangan. Dalam balutan seragam putih abu-abu, ia kerap bercanda bersama Ciara dan Adella. Tak pernah menduga sedikit pun, Adella akan mengkhianati Ciara. Mereka bersahabat dekat, bahkan kedekatannya menyerupai saudara. "Apa yang kamu pikirkan dulu, Del, tega-teganya melakukan ini pada Ciara. Untuk pertama kalinya aku menyesal pernah berteman denganmu," ucap Nayla dalam hatinya. Ia menyesali perbuatan Adella, sahabat yang kini mendekam di balik jeruji. "Aku mau nikah, Nay," bisik Ciara. "Nikah?" Nayla melepaskan pelukan dan menatap Ciara dengan lekat. "Kak Rifky sudah pulang?" sambungnya. Ciara menggeleng, "aku menikah dengan orang lain." "Siapa?" "Kak Rendra, anaknya Om Angga," jawab Ciara diiringi embusan napas kasar. "Kamu ... menyukainya?" Nayla kembali bertanya. "Suka atau tidak, aku tidak punya pilihan, Nay. Kak Rifky hilang kabar sejak bulan lalu, sedangkan janinku semakin besar. Aku tidak ingin aib ini tersebar. Kendati itu bukan inginku, tapi ... aku tidak sanggup jika banyak yang tahu, Nay," terang Ciara. "Yang sabar, ya, Ra." Nayla kembali memeluk Ciara. "Terkadang cinta bisa datang dengan sendirinya. Meski awalnya tidak terlalu baik, tapi siapa tahu dia-lah cinta sejatimu. Apa pun pilihanmu, semoga kamu bahagia, Ra. Maafkan aku yang tidak bisa membantu, sekedar doa yang sanggup kupanjatkan." "Tidak apa-apa, Nay. Aku bersyukur masih ada kamu di sampingku. Maaf, selama ini aku menghindar. Aku___" "Aku paham, Ra," pungkas Nayla. Ia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya pasca mengalami musibah bulan lalu. Disaksikan ombak yang bergulung di bawah sana, Ciara dan Nayla berbincang hingga lewat tengah hari. Berkat kehadiran sahabatnya, perasaan Ciara sedikit lebih tenang—walau belum bisa menerima kehadiran Rendra dalam hidupnya. Pada saat mereka sedang menikmati cake yang disediakan pelayan, Ratna datang menghampiri. Wanita paruh baya itu tersenyum dan duduk di samping Ciara. "Ada apa, Ma?" tanya Ciara. "Ada Rendra di bawah, dia mencarimu," jawab Ratna. "Kak Rendra, kenapa ke sini?" "Nak, jangan begitu. Kamu 'kan sudah menerima pinangannya, mungkin ... dia ingin bicara penting denganmu." Ratna menjawab sembari mengusap rambut anaknya. "Mama tahu kamu terpaksa memilih itu, Nak. Tapi, memang inilah yang terbaik. Bersabarlah, Nak. Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga Rendra adalah awal dari kebahagiaanmu." Ratna membatin sambil menatap anaknya yang tetap diam. "Ra, aku temani ke bawah yuk, sekalian mau pamit pulang," seru Nayla. Ia pun berusaha menyadarkan Ciara dari tatapan kosongnya. "Pulang?" Ciara menoleh dan menatap sendu. "Iya. Udah cukup lama aku di sini." Nayla bicara sambil menatap gelang jam yang melingkar di tangannya. "Baiklah, terima kasih sudah bertandang ke sini." Ciara tersenyum sekilas. "Jangan sungkan, kita ini sahabat. Kapan-kapan aku ke sini lagi, ya," ucap Nayla. Ciara menanggapinya dengan anggukan. Ratna pun tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih. Lantas mereka bertiga turun ke lantai bawah. Nayla langsung pulang, sedangkan Ratna kembali ke dapur untuk membuatkan minum. Kini, tinggal Ciara dan Rendra yang berada di ruang tamu. Ciara duduk dan menunduk. Detak jantungnya makin terpacu kala berdua saja dengan Rendra. Entah apa yang terjadi dengannya. "Ara," panggil Rendra. "Iya, Kak." Ciara menatap Rendra sekilas, lalu kembali menunduk. "Aku senang melihatmu lebih baik dari hari itu. Aku juga senang ... dengan jawabanmu," ucap Rendra. Ciara tak menjawab, ingatannya kembali melintas pada perbincangan semalam. Banyak kata ambigu yang ia lontarkan, yang mungkin saja menyinggung perasaan. Namun, tak sedikit pun lelaki itu memasang raut kesal, justru binar kebahagiaan yang ia tampilkan. Semulia itukah hatinya? "Ara." Rendra kembali memanggil dan membuyarkan lamunan Ciara. Ciara mendongak dan beradu pandang dengan Rendra, kali ini cukup lama. Entah apa yang dimiliki lelaki itu dalam netranya, sehingga Ciara kesulitan menyudahi tatapan. "Ara, aku ingin___"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN