Rendra berjalan cepat menuju ruangannya. Sesekali memijit pelipis dan menyeka keringat yang membasahi kening. Rapat pagi cukup melelahkan, belum lagi pekerjaan yang masih menumpuk. Ia merasa kesal dengan kehadiran tamu, yang ia yakini adalah Evalina. Selama ini, hanya wanita itu yang kerap memaksa bersua dengannya. Tiga menit kemudian, Rendra tiba di depan ruangan. Tebakannya tak salah, memang Evalina yang datang. Kala itu, Evalina sudah menunggu di depan pintu. Rendra mengambil napas dalam-dalam sebelum menyapanya. "Ada apa, Ev?" tanya Rendra dengan nada datar. "Kamu nggak nyuruh aku masuk, Ndra?" goda Evalina. Rendra tak menjawab, sekadar menatap sekilas dan membuka pintu lebar-lebar. Evalina pun tak banyak bicara. Tanpa rasa bersalah, ia mengikuti langkah Rendra yang memasuki ruanga

