Di dalam mobil suasana begitu hening, hanya suara deru mesin yang mendominasi. Selina lebih memilih menikmati ramainya suasana ibukota dari balik jendela mobil, sedangkan Arjuna lebih sibuk memeriksa pekerjaan di tabletnya.
Selina mengernyitkan kening, menyadari jalan yang dilewati bertolak belakang dengan tujuan rumahnya. "Kok lewat sini? Ini bukan jalan rumahku!"
Arjuna menghela napas panjang, "Siapa bilang kita mau ke rumahmu."
"Hah?! Terus kita mau ke mana? Aku gak mau ke hotel lagi," protes Selina dengan bibir cemberut.
Arjuna tersenyum tipis, ia meletakan tab-nya dan menjawab, "Siapa juga yang mau ke hotel."
"Terus, kita mau kemana dong?" tanya Selina antusias.
"Nanti kau juga tahu, lebih baik jangan berisik! Aku masih sibuk dengan pekerjaanku," tegas Arjuna bernada dingin.
"Hah!" Selina mendengus kesal, "Berhenti Pak Sopir! Aku turun di sini saja."
Sopir pun mengambil lajur kiri untuk menepikan mobil, Arjuna yang menyadarinya langsung membentak keras, "Kau sudah bosan kerja bersamaku? Untuk apa menepikan mobil?"
"Maaf Tuan Muda, saya cuma menuruti kata Nona," jawab sopir yang sedikit ketakutan.
"Memangnya dia yang membayarmu?!" tanya Arjuna ketus.
"Maaf Tuan Muda, saya salah." Sopir yang ketakutan kembali melanjutkan perjalanan.
Selina merasa diperlakukan tidak adil, ia pun melepaskan jas milik Arjuna yang masih membalut tubuhnya dan melemparkan tepat di pangkuannya. "Kita belum resmi nikah kontrak, kenapa kau sudah memperlakukan aku seenaknya?!"
Seolah mengabaikan omelan Selina, justru ia meminta sopir mempercepat mobil, "Tambah kecepatan, supaya cepat sampai!"
"Juna! Kamu gak mendengarku?!" keluh Selina semakin kesal.
"Aku hanya mendengar kata manis, bukan omelan gak jelas," jawab Arjuna acuh.
Selina memberanikan diri memegang lengan Arjuna dan merengek manja, "Aku mau pulang, Juna!"
Arjuna masih bersikap acuh, Selina kembali memanyunkan bibirnya kesal. "Mentang-mentang udah bayar dan kasih bonus banyak, kamu bersikap seenaknya begini."
Gadis cantik itu mengambil amplop coklat berisi uang dari dalam tasnya dan memberikan ke tangan Arjuna, "Ini ... Aku kembalikan saja, aku mau lepas dari kamu."
Arjuna mengambil amplop itu dan mengibaskan tepat di depan wajah Selina, "Kamu yakin?!"
Selina mengangguk perlahan, "Mengenai kawin kontrak, aku juga gak mau."
Pemuda tampan itu kembali menghela napas berat, "Baiklah. Setelah aku obati lukamu, kau bisa lepas dariku."
Selina terkesiap, ia tidak menyangka jika Arjuna cuman ingin mengobati luka tamparan di pipinya. "Aku pikir, kamu mau memanfaatkan situasi dan mengambil keuntungan karena udah ngasih bonus banyak," lirihnya.
"Jadi ... itu yang kau pikirkan?" Pertanyaan Arjuna membuat Selina merasa bersalah hingga menunduuk wajah.
"Asal kau tahu Sell, aku gak sebr3ngsek yang kau kira." Mendengar kata Arjuna, Selina semakin merasa bersalah.
Mobil mewah berwarna hitam itu memasuki sebuah kluster mewah di kawasan perumahan elit. Selina membelalakkan matanya lebar. "I-ini kan perumahan elit yang harganya sangat mahal. Ngapain kita ke sini?"
"Tentu saja ke rumahku," sahut Arjuna.
"Rumahmu? Yang aku dengar rumah di kawasan ini harganya mencapai ratusan miliar," sambung Selina.
Seperti biasanya, Arjuna masih acuh dan mengabaikan ocehan Selina. Ia terlihat sibuk melihat tabletnya, tetapi sebenarnya memperhatikan gadis cantik di sebelahnya. "Gadis ini cukup menarik," batinnya.
Mobil mewah itu memasuki taman yang luas dengan air mancur menjulang tinggi, Selina semakin terperangah melihat mewahnya area depan rumah Arjuna.
"Ayo turun!" Arjuna membukakan pintu untuk Selina.
"Juna, ini beneran rumahmu?" Selina turun dari mobil. Kedua matanya menelusuri area rumah dengan pilar-pilar menjulang tinggi.
"Bukan," sahut Arjuna. Ia langsung menggandeng tangan Selina memasuki rumah.
Sunyi dan sepi, begitulah suasana rumah mewah nan luas itu. Kedua mata Selina terus berkeliling mengitari ruangan mewah berhias lukisan dan guci klasik lainnya. Ia terhenti di tengah ruang tamu, tepat di bawah lampu kristal yang menjuntai ke bawah begitu indah.
"Ayoo, ngapain berhenti?!" Suara Arjuna membuyarkan lamunan Selina.
"Ehm ... Kok rumahnya sepi?" tanya Selina heran.
"Aku jarang pulang ke sini," jawab Arjuna, "Buruan, aku obati lukamu dulu, takutnya keburu bengkak," lanjutnya menarik genggam tangan.
Keduanya menaiki anak tangga ke kamar Arjuna yang ada di lantai dua. Selina pun mengikuti di belakangnya, bahkan gengaman tangan itu seolah enggan terlepas.
Mereka berdua masuk ke kamar, Arjuna melepaskan gandengan dan menuju ke almari P3K. Sementara itu, Selina mengamati sekitaran kamar nuansa elegan dan sangat rapi itu. Ia menghampiri nakas, mengambil bingkai foto yang ada di samping lampu tidur.
"Bukannya ini Jesicca?" tanya Selina.
Arjuna langsung menghampiri dan meraih bingkai foto dari tangan Selina. Tanpa pikir panjang ia langsung melepaskan foto dari bingkai dan langsung merobek menjadi potongan kecil. "Wanita itu hanya masa lalu!"
"Kalau memang cinta, kenapa kamu gak menikah sama dia saja? Kanapa harus kawin kontrak denganku?" Pertanyaan Selina membuat Arjuna muak.
"Kau gak perlu ikut campur urusanku!"
Selina menghela napas berat, ia duduk di pinggiran ranjang. Arjuna mengambil kotak P3K dan mengambil salep untuk mengobati pipi Selina. Namun, gadis itu menolak, "Biar aku sendiri aja!"
"Diamlah!" paksa Arjuna. Gadis itu pun hanya pasrah.
Saat ini keduanya begitu dekat, hingga Selina kembali dibuat salah tingkah. Arjuna begitu telaten mengoleskan salep anti bengkak ke pipi, "Maafkan aku yang gak bisa melindungi kamu."
"Sudah risiko jadi gadis sewaan," sahut Selina.
"Terima saja tawaran dariku, kamu gak akan susah lagi cari duit," kata Arjuna.
"Kan di mobil sudah jelas, aku gak mau jadi istri kontrakmu," sungut Selina. Ia merebut salep dari tangan Arjuna dan mengoleskan sendiri di pipinya.
"Sebenarnya aku gak mau menganggu hubunganmu dengan Jesicca," batin Selina.
"Baiklah kalau itu maumu, sekarang pergi dari rumahku. Kita sudah gak ada lagi kesepakatan," kata Arjuna bernada tinggi.
Selina terkesiap ketika Arjuna menarik lengan dan mengeluarkannya dari kamar.
Brak!
Suara pintu dibanting dari kamar membuat Selina terkaget dan heran, "Aneh banget jadi orang. Tadi aja baik, kenapa tiba-tiba galak banget."
***
Selina tidak langsung pulang, ia justru kembali ke perusahaan untuk input laporan pekerjaan dan memeriksa jadwal selanjutnya. Sementara itu, Arjuna pulang ke rumah utama keluarga Atma Wijaya —Kakek Arjuna—
Baru sampai di depan pintu, Atma Wijaya menyambut Arjuna dengan senyuman lebar.
"Kakek sangat senang kamu putus dari Jesicca, dan aku dengar kamu bawa pulang pacar baru ke rumahmu?"
Arjuna memicingkan mata, "Dari mana Kakek dapat informasi itu?"
Kevin menguping pembicaraan dari balik dinding dan Arjuna pun mengetahuinya. "Kevin si4lan! ternyata elu pelakunya."
"Tidak penting dari siapa, yang jelas aku sangat setuju dengan gadis yang kau bawa pulang hari ini. Dia gadis yang menarik, besok aku mau ketemu dia. Ajak dia dan keluarganya makan malam di sini!" Atma Wijaya menepuk bahu Arjuna disertai tawa renyah.
"Tapi ... Kek, kami gak punya hubungan apapun," sangkal Arjuna menjelaskan.
"Kalau kamu menolak, biarkan Kakek dan Nenek yang pergi ke rumahnya besok," sahut Atma Wijaya.
"Jangan, Kek!"