"Kok di balikin lagi, Za? Terus kamu belanja pake uang siapa?"
"Itu Mbak, kemarin sama Pak Lingga di bayarin. Makanya Oza balikin lagi sama Mbak. Soalnya uangnya ga ke pake" ujar Oza seraya membenarkan letak kuncir ponytail nya yang sedikit turun.
"Loh kok bisa di bayarin?"
"Soalnya kata Pak Lingga anggap aja dia yang beliin Arka"
"Kamu kok bisa sama Lingga?" Ambar mengerutkan dahinya bingung, ia seperti mencium bau-bau mencurigakan disini.
"Iya, Mbak Ambar 'kan yang minta Pak Lingga anterin saya"
Suasana mendadak hening.
Ambar terdiam mencerna perkataan Oza. Ga salah denger 'kan? Batin Ambar terus mengulang.
"O-oh iya, Mbak ga inget mungkin"
Setelah kalimat kebingungan itu keluar dari mulut Ambar, dia bersumpah akan menginterogasi Lingga sampai ke akar-akarnya!
Suatu keajaiban jika memang adiknya itu mau ia suruh-suruh kemana saja. Pasalnya saat Ambar meminta tolong Lingga untuk membelikannya rujak yang ada di dekat kantor Lingga saja pria itu menolak. Apalagi jika ia minta tolong dalam jarak yang terbilang jauh.
Ambar paham kesibukan adiknya itu. Yang Ambar tidak paham adalah waktu luang yang mampu Lingga miliki.
Apalagi ini bukan weekend, namun Lingga bersedia menemani Oza yang notabene nya bukan siapa-siapa untuk berbelanja.
***
Gelak tawa Arka dan Oza menggema di setiap sudut kamar bermain Arka. tablet yang bertumpu pada lazypod di depan sana menampilkan salah satu adegan konyol dalam serial kartun Shinchan, membuat keduanya tergelak kencang.
Hingga saat terdengar suara derit pintu di buka, membuat tawa keduanya berangsur-angsur lenyap. Apalagi kala sadar siapa yang berdiri di depan sana adalah Om nya Arka alias Lingga. Membuat Oza langsung menutup mulutnya rapat begitu saja.
"Sudah mau pulang?" tanya Lingga dengan posisi yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
Oza melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul dua puluh lewat lima menit. Itu artinya sudah lewat lima menit dari waktunya menjaga Arka.
"Oh iya, ini udah mau pulang kok"
"Saya antar" balas Lingga,
"Oh ga usah, Pak" Oza berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut karena berbaring bersama Arka tadi.
"Saya antar" balas Lingga,
"Udah pesen grab kok tadi,"
"Saya antar"
"Tapi-"
"Saya antar!" ucapan yang sama untuk jawaban penolakan dari Oza, Lingga jawab dengan lugas lengkap dengan sorot mata yang datar tak terbaca.
"Oh- O-oke. Arka, Kak Oza pulang ya," Oza berucap kikuk karena situasi. Namun ketegangan yang Oza rasakan perlahan memudar kala Arka memberikan sebuah kecupan di pipi kirinya.
***
"Makasih udah nganterin, dan Maaf udah ngerepotin Bapak,"
Lingga menunduk, lantas berdeham singkat menanggapi ucapan Oza.
Di depan pagar minimalis yang catnya sudah sedikit mengelupas itu, mereka berdiri berhadapan dengan perasaan yang sama-sama canggung.
Apalagi tadi di sepanjang jalan hanya di hiasi suasana keheningan yang amat menyiksa.
"Mau masuk dulu?" Oza spontan menawarkan Lingga saat melihat mata pria itu yang sedari tadi curi-curi pandang ke arah rumahnya.
Siapa tau Lingga mau masuk 'kan? Dari pada penasaran?
"Ga perlu" jawab Lingga singkat.
"Oke kalau gitu, saya mau mas-"
"Permintaan kedua"
"Hah?" Oza mendadak diam, bingung saat ucapannya di potong oleh ucapan rancu Lingga.
"Saya masih punya dua permintaan"
Untuk beberapa saat Oza masih diam, mencerna ucapan Lingga.
Namun saat ingat akan kesepakatan konyol mereka tempo hari, membuat Oza langsung mengangguk singkat.
Masih ingat juga ternyata pria gila ini!
"Ya," Oza berucap pelan.
"Permintaan kedua. Saya mau kamu menemani saya ke acara pernikahan Aldo minggu depan di Bandung"
Oza mendadak diam. Ia menatap Lingga lama seraya mengulang hasil pendengarannya kali ini.
Spontan, Lingga membuang wajah kesamping kala di tatap selama itu oleh Oza. Wajahnya mendadak hangat entah mengapa.
Dan kesadaran Oza kembali kala mendengar Lingga terbatuk kecil guna mencairkan suasana.
"Saya ga bisa untuk yang itu" Oza berucap pelan, mengabaikan gelagat aneh Lingga.
"Kenapa?" Lingga kembali memfokuskan pandangannya pada Oza.
"Saya ga bisa ambil libur seenaknya"
"Saya yang akan mintain izin kamu,"
"Ga semudah itu. Tahun ini udah sering banget saya ambil cuti"
Ya, dalam setahun ini saja terhitung sudah belasan kali Oza izin untuk menemani ibunya check up ke rumah sakit. Tidak mungkin Oza berani minta izin lagi 'kan? Walaupun teman ibunya sendiri, rasa tak enak hati tetap ada setiap kali ia meminta izin pada Bu Mira.
Apa lagi ke Bandung. Oza tak yakin mereka akan pulang-pergi dalam waktu sehari. Itu pasti akan sangat melelahkan.
"Saya yang akan urus untuk masalah izin kamu. Saya hanya minta kamu untuk bersedia menemani saya"
"Saya-"
"Oza," suara yang berasal dari arah rumahnya membuat Oza menoleh ke belakang. Di sana, di depan pintu sana Rosita berdiri memperhatikan interaksi ia dan Lingga dengan raut wajah datar.
Sepersekian detik kemudian, mata Oza kembali di buat terbelalak kala melihat Lingga yang sudah masuk ke halaman rumahnya. Berjalan santai ke arah Rosita dan mencium punggung tangan wanita itu ketika sudah sampai di depannya.
"Maaf menggangu, saya mau langsung pamit pulang, Bu" dapat Lingga rasakan bau khas tembakau menyeruak ketika ia mencium punggung tangan Rosita.
"Kamu siapa?"
"Saya Lingga, teman Oza" Rosita mengangguk mendengarnya
"Senang bertemu secara langsung dengan anda," Lingga berucap kembali
"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang"
"Iya Bu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Obrolan basa-basi itu terjadi dengan singkat.
Ucapan keduanya terdengar pelan sehingga tak mampu indera pendengaran Oza tangkap apa yang mereka bicarakan.
Oza masih berdiri di posisi semula, sampai saat Lingga kembali berjalan kearahnya barulah ia bertanya.
"Ngomongin apa?"
"Ga terlalu penting," jawaban singkat Lingga hanya mampu Oza angguki sekilas.
"Saya pulang dulu. Selamat malam"
"Hati-hati di jalan, Pak Lingga. Saya masuk duluan"
Ketika melihat ibunya yang masih berdiri di depan pintu memperhatikan, Oza bergegas masuk setelahnya tanpa menunggu mobil Lingga meninggalkan area rumahnya.
Oza tak menyadari, ucapan biasa yang ia lontarkan tersebut, terdengar jadi sangat luar biasa di telinga Lingga. Membuat senyum di wajah Lingga tanpa ada komando apapun mengembang begitu saja.
Buru-buru Lingga masuk ke mobilnya. Ia duduk dan bersandar di jok mobil seraya mengusap wajahnya pelan. Senyuman yang terukir beberapa detik lalu sulit luntur kembali.
Walaupun dengan embel-embel 'Pak' , setidaknya Oza menyebut nama Lingga di depan diri pria itu. Juga tidak terdengar selipan nada jengkel di dalamnya. Membuat Lingga sulit mengontrol dirinya hanya karena sebuah nama.