Chapter 2

1104 Kata
Hari ini tepat sebulan sudah Atayya bekerja. Dalam kurun waktu sebulan ini juga, Atayya merasa nyaman di tempat kerjanya. Bahkan, rasa lelah tidak pernah menghampirinya. Sifat ramahnya lah yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman ketika dengan dengan gadis itu. Seperti hari-hari kemarin, Atayya memulai pekerjaannya dengan penuh semangat. Namun, semangat Atayya hari ini diusik oleh seseorang. “Mbak Atayya, ‘kan?” tanya seorang perempuan yang berdiri di hadapan Atayya. Atayya lantas menganggukkan kepala tanda bahwa ia membenarkan pertanyaan lelaki itu. “Saya Sabhira, saya diutus oleh atasan saya untuk membawa kamu ke kantor pusat,” ucap Sabhira seraya tersenyum. “K-kantor pusat?” tanya Atayya yang tergugup. “Iya, Atayya. Lebih tepatnya, saya diutus oleh Boss besar untuk membawa kamu menghadapnya hari ini juga,” ungkap Sabhira. Saat itu jug, Atayya merasakan keringat dingin mulai membanjiri wajahnya. Rasa takut bercampur rasa bingung menghampirinya saat ini. “T-tapi, saya salah apa, Bu?” tanyanya dengan suaranya yang masih gagap. “Sebaiknya kamu ikut dengan saya jika ingin mengetahuinya,” sahut Sabhira. Atayya menganggukkan kepalanya dengan ragu. “Jangan takut,” ucap Sabhira menenangkan. Kemudian, Atayya langsung mengikuti langkah kaki Sabhira yang menuju sebuah mobil sport mewah. Hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian karyawan lainnya. Sepanjang perjalanan, Atayya hanya diam. Ia begitu takut untuk mengeluarkan kata-kata karena di sampingnya ada Sabhira yang sedang fokus menyetir. ... Hanya membutuhkan waktu hampir 20 menit. Sabhira dan Atayya tiba di kantor pusat. Keduanya langsung menuruni mobil dan berjalan memasuki area kantor. Di dalam lift, Sabhira menempelkan ID card miliknya ke scan otomatis. “Kak,” panggil Atayya dengan nada lirih. “Iya?” sahut Sabhira seraya menoleh ke arah Atayya yang berdiri 1 langkah di belakangnya. “Yang mau bertemu dengan aku, apa pemilik hotel?” tanya Atayya dengan ragu. Sabhira menganggukkan kepalanya. Saat itu, perasaan Atayya semakin tidak karuan. Ia takut jika ia sedang melakukan kesalahan yang tanpa ia sadari sampai ia dipanggil ke hadapan CEO-nya. Di lantai 20 gedung hanya ada sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan yang di pintunya terdapat tulisan CEO room. Sabhira mengetuk pintu itu sebanyak 3 kali sebelum ia mendorongnya. Sedangkan Atayya, sedari tadi ia hanya diam di belakang Sabhira. “Selamat siang, Pak,” sapa Sabhira. Hanya deheman yang terdengar dalam yang menyahuti sapaan Sabhira. Sejujurnya, Atayya sangat ingin melihat bagaimana rupa boss besarnya itu. Namun, rasa takut akan amarahnya membuat Atayya mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam saja. “Atayya Angeline,” ucap lelaki itu masih dengan suaranya yang terdengar sangat dalam. “S-saya, Pak,” sahut Atayya yang semakin ketakutan. “Naikkan pandangan kamu. Saya yang memanggil nama kamu, bukan lantai. Jadi, tatap saya,” ucapnya lagi. Atayya menganggukkan kepalanya. Namun, sulit baginya untuk menatap lelaki itu. “Atayya!” panggilnya dengan tegas. “Iya, Pak!” Seketika itu juga, Atayya langsung mengarahkan pandangannya ke hadapannya. Di mana di sana ada seorang lelaki muda yang tengah duduk di kursi putarnya. “Kenapa? Takut dengan saya?” tanyanya. Atayya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Lalu?” tanyanya lagi. “E-enggak kok, Pak,” Atayya nampak mengelak. “Kamu tahu atau tidak? Tujuan saya memanggil kamu ke sini?” tanyanya lagi. Atayya kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Coba kamu lihat saya. Apa saya nampak asing?” tanya lelaki itu lagi. Atayya menatap setiap inci wajah lelaki itu. Hingga... “Kamu... yang sebulan lalu bertemu aku di depan hotel, ‘kan? Kamu yang kehilangan kancing jas kamu, ‘kan? Benar, ‘kan?” Lelaki itu nampak tersenyum puas karena Atayya masih mengingatnya dengan jelas. Kemudian, ia berdiri dan berjalan menghampiri Atayya. “Saya Regan,” ucapnya memperkenalkan diri. Atayya tersenyum seraya menatap Regan. “Maaf, Pak. Tempo hari saya lancang memegang jas Pak Regan,” sesal Atayya. “Tidak apa-apa,” jawab Regan. “Justru seharusnya saya berterima kasih dengan kamu,” sambungnya. “Jadi, tujuan Pak Regan memanggil saya ke sini apa?” tanya Atayya yang sudah mulai bisa mengendalikan rasa gugupnya. “Ingin mengucapkan terima kasih dan saya juga ingin menawarkan kamu untuk bekerja di sini saja,” jawab Regan. “Maksud Pak Regan?” tanya Atayya yang nampak tidak paham dengan ucapan Regan. “Jelaskan, Ra,” ucap Regan kepada Sabhira yang masih berada di ruangan kerjanya juga. “Begini, Ya. Karena kebaikan kamu tempo hari, Pak Regan masih bisa percaya diri memimpin rapat yang diadakan di hotel tempat kamu bekerja. Selama sebulan ini, Pak Regan juga memantau kinerja kamu. Sampai akhirnya, Pak Regan memutuskan untuk merekrut kamu sebagai staff kantor pusat,” jelas Sabhira panjang lebar. “Saya yakin, pasti Pak Regan tahu ijazah apa yang saya punya. Enggak mungkin, Pak. Saya yang hanya lulus SMA dan bisa menjadi staff kantor. Kantor pusat lagi,” Atayya nampak tidak percaya diri dengan tawaran yang diajukan Regan untuknya. “Kemampuan kamu yang saya butuhkan. Bukan ijazah kamu,” jawab Regan. “Tapi, apa ini akan terasa adil untuk staff lainnya?” tanya Atayya lagi. Regan nampak berpikir sejenak. Kemudian ia berkata “Bagaimana kalau saya beri kamu waktu 1 minggu. Kalau kinerja kamu baik, maka kamu akan saya resmikan masuk ke dalam daftar staff kantor pusat. Kalau hasilnya sebaliknya, kamu akan saya kembalikan ke hotel. Bagaimana?” Atayya langsung menganggukkan kepalanya. Tentu saja gadis itu tidak ingin melewati kesempatan baik ini. Regan, ia juga sama halnya dengan Atayya. Lelaki itu nampak senang karena ia berhasil meyakinkan pada Atayya bahwa semuanya bisa dikendalikan olehnya. “Besok, kamu akan memulainya. Staff akan mulai bekerja pukul 8 pagi. Jangan sampai terlambat,” ucapnya dengan ramah. “Terima kasih banyk, Pak Regan. Terima kasih banyak, Kak Sabhira,” ucap Atayya yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Kabar gembira ini juga akan ia sampaikan kepada kedua orangtuanya. “Sekarang, kamu pulang dan istirahatlah,” perintah Regan kepada Atayya. “Ra, kamu antar Atayya pulang ke rumahnya,” kali ini, Regan melayangkan perintahnya kepada Shabira. “Siap, Pak,” jawab Sabhira. “Saya pulang sendirian enggak apa-apa, Pak,” ucap Atayya. “Apa kamu ingin membantah saya?” tanya Regan dengan nada suaranya yang kembali terdengar tegas. “Enggak, Pak,” sahut Atayya pasrah. “Terima kasih,” lirihnya. Pada akhirnya, Atayya pun pulang dengan diantar oleh Sabhira. Di perjalanan menuju rumah Atayya, sama seperti saat perjalanan dari hotel menuju kantor pusat. Bedanya, kali ini suasana menjadi ceria. Berbanding terbalik dengan sebelumnya. “Pak Regan itu jarang bicara lembut. Apalagi kalau di kantor. Hampir enggak pernah aku dengar Pak Regan ngomong selembut tadi,” ungkap Sabhira. “Mungkin karena dalam pekerjaan – Pak Regan adalah tipikal orang yang serius,” sahut Atayya. “Mungkin,” sahut Sabhira seraya menyunggingkan senyumannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN