Chapter 5

1073 Kata
Setelah pesanan mereka selesai, Atayya dan Regan pun kembali masuk ke dalam mobil. Regan yang sedari tadi menyimpan pertanyaannya, kini ia pun melontarkannya pada gadis yang duduk di sampingnya itu. “Tadi gua mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan tentang elo dan gua. Enggak mungkin kalau elo enggak dengar juga.” “Aku dengar. Tapi, untuk memikirkannya? Toh, mereka memiliki hak untuk menilai siapa kita. Yang penting, aku enggak kenal dengan mereka.” Regan lantas tersenyum puas atas jawaban yang diberikan oleh Atayya itu. Sebab baginya, Atayya sangat bijak dalam menghadapi hal begitu. “Memangnya kenapa, Pak?” tanya Atayya dengan ragu. “Jaman sekarang, sangat jarang ada remaja yang bersikap bijak seperti elo,” jawab Regan apa adanya. Atayya lagi-lagi hanya bisa tersenyum atas jawaban yang ia dapat dari Regan. Tidak lama, mereka berdua tiba di kantor. “Biar aku yang bawa, Pak,” ucap Atayya setelah Regan memarkirkan mobilnya di depan gedung kantor. Atayya lantas membawa apa yang dibeli oleh Regan tadi, lalu ia berjalan di belakang Regan untuk masuk ke dalam. “Saya bantu, Nona,” ucap salah seorang pengawal Regan. “Enggak usah, Pak. Aku bisa kok,” sahut Atayya. “Biar dia saja yang membawa,” timpal Regan dengan suaranya yang terdengar begitu dingin. Atayya sedikit terkejut karena ucapan Regan yang benar-benar terdengar berbeda dari Regan yang tadi. Sampai saat keduanya masuk ke dalam lift – yang mana hanya ada mereka berdua di sana. “Sepertinya gua memang harus menjaga sikap di hadapan karyawan gua yang lain. Karena gua takut kalau kamu jadi bahan bully nanti,” jelas Regan. “Tidak apa, ‘kan?” tanyanya. Atayya menganggukkan kepalanya dan menjawab “Tidak apa, Pak.” Sembari ia tersenyum menatap Regan yang berdiri di sampingnya. Saat mereka tiba di ruang kerja Regan, Atayya meletakkan barang yang ia bawa tadi ke atas meja yang ada di hadapan sofa panjang. “Aku permisi mau lanjut kerja lagi, Pak,” ucap Atayya yang sudah siap hendak pergi dari ruang kerja Regan. “Bawa yang rasa Vanilla,” perintah Regan. “Untuk elo,” sambungnya. “Beneran, Pak?” tanya Atayya yang terkejut. “Menurut lo?” tanya Regan kembali. Atayya segera mengambil cup minuman yang ditujukan untuknya, kemudian ia pamit kembali pada Regan. “Waffle-nya juga bawa satu, Ya,” ucap Regan saat Atayya baru saja sampai di depan pintu ruang kerja lelaki itu. “Kenapa enggak dari tadi coba?” tanya Atayya dalam hatinya. Atayya kembali melangkahkan kakinya mendekati Regan untuk mengambil waffle. “Ada lagi, Pak?” tanya Atayya pada Regan. “Dimakan, jangan dipikirkan harganya,” sahut Regan. “Baik, Pak,” sahut Atayya. “Aku permisi,” ucapnya untuk yang kesekian kalinya. Setelah Atayya keluar dari ruang kerjanya, Regan lantas tertawa karena tingkah Atayya begitu menggemaskan untuknya. ... Sembari mengerjakan pekerjaannya, Atayya sesekali menyuap waffle pemberian Regan tadi. Rasa yang baru sekali ini masuk ke dalam mulutnya membuatnya merasa beruntung. “Semoga aja kehidupan gue akan aman, damai, dan sentosa,” gumam Atayya. Atayya berbicara begitu karena ia tahu, pasti akan ada gosip yang tidak-tidak tentang dirinya. “Ya, boleh minta tolong nggak?” tanya Abel, salah seorang karyawan yang bekerja di tempat yang sama dengan Atayya. “Kenapa, Bel?” tanya Atayya. “Tadi Mas Raka jalan ke hotel, dia bawa dokumen, tapi dokumennya ada yang ketinggalan satu,” ungkap Abel. “Kalau boleh, aku minta tolong kamu untuk bawakan ini dan kasih ke Mas Raka,” mohonnya. Dengan senang hati, Atayya menerima dokumen itu. “Hotel yang mana?” tanyanya. “Tempat kamu kerja dulu,” jawab Abel apa adanya. Bisa dipungkiri jika rekan-rekan kerjanya tahu bahwa ia pernah menjadi karyawan hotel Regan, dan Atayya bisa memungkirinya. “Aku pergi sekarang,” ucap Atayya dengan semangat sebelum ia melangkahkan kakinya. “Dokumen ketinggalan gara-gara kamu dan kamu malah suruh Atayya yang pergi. Sementang Atayya karyawan baru,” sindir salah seorang karyawan kepada Abel. “Iri aja lo,” kesal Abel, kemudian ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pekerjaannya. “Lo kalau ketahuan Pak Regan, epik sih,” sindir yang lainnya. “Bukannya seharusnya sudah ketahuan, ya?” Suara yang terdengar manly itu berhasil membuat Abel langsung berdiri. “P-pak Regan,” ucapnya dengan tergagap. “Kenapa?” tanya Regan tanpa menatap Abel. “Saya salah,” sesal Abel. Regan menghela napasnya dengan panjang “Saya pasang CCTV agar saya tahu kelakuan karyawan saya, bukan hanya untuk sekadar pajangan saja,” ucapnya sebelum ia pergi dari sana. ... Atayya baru saja sampai di hotel, gadis itu segera menuju meja resepsionis untuk menanyakan di mana Raka, rekan kerjanya. Untungnya, baru Atayya sampai di meja resepsionis, Raka juga berlari menghampirinya. “Kamu antar dokumen, ‘kan?” tanya Raka dengan napasnya yang terengah-engah. “Iya, Mas,” jawab Atayya sembari menyerahkan dokumen yang ia bawa tadi. “Terima kasih banyak, Ya,” ucap Raka. “Aku kembali ke atas lagi. Sudah ditunggu soalnya,” sambungnya, kemudian ia pergi dari hadapan Atayya. “Apa kabar, Ya?” tanya Kanya yang saat ini berdiri di balik meja resepsionis. “Baik,” jawab Atayya sembari tersenyum. “Kamu bagaimana?” tanyanya. “Kalau kamu lihat aku masih kuat berdiri di sini, berarti aku masih baik-baik saja,” jawab Kanya sembari tertawa pelan. "Aku balik, ya," pamit Atayya. "Semangat kerjanya," sambungnya sebelum ia melangkah pergi meninggalkan area hotel itu. "Nona Atayya," panggil salah seorang pria berbadan tegap serta memakai pakaian serba hitam. Atayya mengernyitkan dahinya dan segera melangkah mendekati pria itu. "Saya?" tanyanya dengan ragu. "Iya, Nona," jawab pria itu. "Saya diperintahkan Tuan Regan untuk menjemput Nona," ungkapnya. Atayya yang tidak mudah percaya, ia meminta pada pria itu untuk menunggu sejenak karena ia hendak menelfon Regan terlebih dahulu. "Gue kan enggak punya nomor Regan. Kenapa jadi bodoh begini, sih?" Atayya membatin. "Kan aku punya nomor Kak Sabhira, ya." Tanpa berpikir lagi, Atayya segera menelfon ke nomor Sabhira. ... "Hallo, kenapa, Ya?" "Kak, aku kan antar dokumen ke hotel dan sekarang ada lelaki yang katanya disuruh Pak Regan untuk jemput aku. Aku cuman mau memastikan, takutnya aku diculik nanti." "Dia memang suruhan Pak Regan. Tadinya Pak Regan sendiri yang mau jemput kamu ke sana. Tapi, karena Pak Regan ada rapat, jadinya beliau suruh supir saja." "Syukurlah. Aku bisa bernafas dengan lega. Aku tutup telfonnya, Kak. Terima kasih, ya." "Iya, Ya." ... "Lagian mana ada penculik berpakaian seperti ini," gumam pria itu. "Namanya juga antisipasi, Pak," sahut Atayya sembari tertawa pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN