DELAPAN

1134 Kata
... Hari ini Bian ada undangan ngisi acara Talkshow di salah satu stasiun TV. Gue kiran Bian bakalan ngajak gue honeymoon gak taunya dia kerja lagi. Ya gak pa-pa sih, itung-itung buat tabungan masa depan. Suami idaman. Sebelum turun Bian sempat ngingetin gue buat bersikap manis di depan kamera. Jangan lebay dan harus jaga omongan. Karena siaran ini bakalan Live. Gue cuman mengangguk pelan dan ngikutin langkah Bian masuk ke dalam gedung warna Biru ini. Gue sama Bian di bawa ke ruang make up. Kita duduk bersebelahan. Bian di tanganin sama MUA guepun juga gitu. Gue lirik ke arah Bian yang tengah sibuk mainin hpnya. "Bian," panggil gue lirih. Bian cuman berdehem pelan. "Nanti kalo di tanyain kenal dimana, gue mesti jawab apaan?" "Terserah lo mau jawab apa." "Biasanya ntar ditanyain soal apa aja?" tanya gue lagi. "Tergantung hostnya. Kalo hostnya nyebelin ya aneh-aneh yang di tanyain." Aneh-aneh? Apa soal MP juga bakalan di tanyain. Mendadak muka gue memanas karena inget kejadian semalam. "Yang di undang siapa aja?" Bian cuman ngangkat kedua pundaknya. Gue menghela nafas pelan dan memilih diam. Grogi gue. Ini pertama kalinya gue muncul di TV. Kira-kira muka gue nanti jadi gimana ya masuk TV? Kata orang yang cakep aja keliatan biasa pas masuk TV apalagi yang muka pas-pasan kayak gue? Bian berdiri dari tempat duduknya karena sudah selesai. Gak lama setelah itu guepun selesai. Gue sama Bian digiring buat menunggu di salah satu ruangan. Gue duduk di sofa sebelahan sama Bian. Bian sibuk lagi sama hpnya. Gak tau apa yang dia kerjain. Gue dan Bian menoleh saat daun pintu terbuka. "Mas Bian dan Mbak Rinka. Sudah waktunya." Bian mengangguk dan bangun, gue mengikuti pergerakan Bian. Sebelum keluar dari ruangan ini Bian sempat meletakkan tangannya di pinggang gue dan menarik tubuh gue lebih mendekat ke arahnya. Gue ngikut aja. Suara teriakan dan tepuk tangan langsung menggema saat Bian muncul sama gue yang berada di sebelahnya. Bian melempar senyumnya dan menjabat host yang ada di sana. Gue duduk sebelahan sama Bian. Dari ruangan tadi sampe sini Bian sama sekali gak ngelepasin jemari gue. "Waduh, takut lepas ya Bang dari tadi di gandeng mulu?" celetuk Host wanita itu yang namanya Kak Rosa. Bian hanya membalasnya dengan senyuman ramah dan masih menggenggam jemari gue. "Eh beneran gak sih kalo kalian ketemunya di lokasi syuting?" Bian mengangguk yakin. "Ya. Dia tiba-tiba dateng bawain gue bingkisan." "Oooh Rinka ini Fans kamu?" "Yups." Bian kembali mengangguk. Gue cuman diam aja dan ikut tersenyum. Dalam hati gue ngucapin terima kasih sama Rara. Pelanggan gue yang waktu itu ngirim bingkisan buat Bian. Kalo gak ketemu Rara, gak bakalan gue bisa nikah sama Bian. "Berarti gak pacaran ya kalian? Langsung nikah?" "Pacaran itu haram. Enakan pacaran setelah nikah. Ya gak sayang?" Bian menoleh ke arah gue sambil memainkan kedua alisnya. Suara teriakan penonton kembali menggema. "Trus ada rencana nunda momongan gak nih?" Bian kembali ngeliat ke arah Kak Rosa. "Kalo itu sih tergantung istri aku aja. Dia siapnya kapan ya aku bakalan turutin." Sumpah gue ngefly denger kata-kata Bian yang ini. Ini seriusan kan? "Ciyee...ada yang udah pengen di panggil Abi nih." canda Kak Rosa. "Eh ceritain donk awal-awal kamu ta'aruf sama Rinka. Iya bener kan ta'aruf?" "Yups. Keluarganya waktu itu gak percaya kalo gue bakalan nikahin dia. Tapi Alhamdulillah semuanya lancar." "Trus trus. Yang di sono gimana?" "Apaan, Kak?" tanya Bian bingung. "Aduuuh pura-pura lupa mentang-mentang udah make cincin kawin. Rinka cemburu gak sih kalo Bian main bareng Lili?" Gue menelan saliva gue pelan. Gue menatap wajah Bian meminta bantuan tapi Bian malah gak noleh ke arah gue dan sibuk melambaikan tangannya ke Biliers. "Mm, kalo aku sih fine aja ya. Selama mereka bisa profesional. Urusan kerjaan jangan di campur sama urusan pribadi. Gitu aja sih." "Jadi kamu gak bakalan larang Bian kalo suatu saat nanti Bian seproject lagi sama Lili?" Gue cuman menggeleng sebagai jawaban. "Tuh, Bang. Udah dapet lampu ijo dari istri. Tapi ati-ati ya, Bang. Jaga hati." Bian malah tertawa terbahak. "Ya gaklah, Kak. Kalo aku satu ya satu. Lagian satu aja gak bisa ngabisin masa mau nambah lagi?" Suasana sedikit mencair dan gak begitu tegang. Tiba-tiba Kak Rosa berdiri di belakang sofa yang kita duduki. "Kita ada tamu spesial loh hari ini selain kalian." "Oh iya. Siapa?" tanya Bian antusias. "Penasaran banget ya? Ya udah deh langsung aja kita panggilkan Lili Valeria." Mata gue melotot kaget waktu nama itu di sebut. Bian menoleh saat Lili muncul. Sumpah dia cantik banget hari ini. Bian langsung melepas genggaman tangannya dan berdiri. Mereka sempet pelukan yang bikin ati gue langsung panas dingin. Bian kembali duduk, posisinya di tengah. Gue sebelah kanannya sementara Lili ada di sebelah kiri Bian. "Kalo di liat-liat Rinka sama Lili ini mirip ya?" celetuk Kak Rosa. Lili cuman ketawa aja. "Atau jangan-jangan karena mereka mirip jadi kamu nikah sama Rinka?" "Ahahaha gak lah, Kak. Aku sama Lili tetep sahabatan. Ya kan Li?" elak Bian. "Ya doonk. Dia sahabat aku, Kak. Sahabat hidup aku." tandas Lili. Sumpah hati gue kayak di remet-remet apalagi denger ucapan Kak Rosa yang katanya gue mirip sama Lili. Apa karena itu Bian nikahin gue? "Tapi walaupun Bian sahabat aku dia itu posesifnya minta ampun, Kak." lanjut Lili. "Posesif kayak gimana nih maksudnya?" tanggapan Kak Rosa bikin gue semakin minder. Rasanya kehadiran gue gak diharapkan di sini. "Ya contohnya gue gak di bolehin makan asem-asem. Dia bilang ntar asam lambung gue naik." "Bener, Bian kamu kayak gitu sama Lili?" Anggukan kepala Bian membuat kepala gue menunduk. Sakit rasanya. Keintiman mereka benar-benar bikin semua orang meleleh ya. "Dia suka banget tuh makan permen tapi selalu gue marahin. Ntar sakit siapa yang repot coba?" Sial. Airmata gue mau menetes. Gue bener-bener gak kuat di posisi ini. Berasa orang ketiga aja gue. "Trus sekarang Bian gimana? Masih suka larang-larang kamu gak, Li?" tanya Kak Rosa. "Ya kadang sih. Tapi pinteran aku donk. Aku ngumpet kalo makan permen." suara tawa Lili begitu renyah dan menggema. "Oooh gitu ya. Awas aja kalo sampe magh lo kambuh!" ancam Bian. "Ya kamu awasin Lili donk Bang. Biar gak nakal dianya. Kan katanya sahabat hidup?" timpal Kak Rosa. Gue terus mengumpat dalam hati dan berharap acara ini segera selesai. Mata gue udah burem karena airmata yang sedari tadi gue tahan. Tiba-tiba tangan Bian kembali melingkar di pinggang gue dan menarik tubuh gue. "Ya gaklah. Aku gak akan larang-larang dia lagi. Itu bukan kapasitas aku. Sekarang Lili udah ada yang jagain dan aku yakin dia mengerti apa yang terbaik buat Lili. Aku saat ini fokus sama keluarga yang baru aku bangun. Aku gak mau ada satu orang yang tersakiti karena aku." Gue mendongak dan menoleh menatap wajah Bian. Spontan airmata gue langsung ngalir gitu aja. Gue gak tau ini Bian serius apa cuman becanda. Tapi gue cuman bisa berharap, semoga dia bisa konsisten sama ucapannya. ... Sbya 19 Januari 2018
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN