Dia istimewa. Bahkan hanya dengan melihatnya. Menjadi sebuah bagian yang seharus-nya. Karena tawa-nya, menenangkan. Karena senyum-nya membahagiakan. *** Bertepatan dengan bel istirahat seisi kelas Karin spontan berteriak nyaring. Terlebih lagi bagi siswa yang belum kebagian maju kedepan, maka berbahagialah mereka melewati ujian kali ini. Karin membuka ponselnya cepat seiring kepergian sang guru dari kelas. Namun harapannya pupus, pesannya semalam tak kunjung mendapat balasan. "Rin kantin yuk," ajak Gia tiba-tiba. Membuat lamunan Karin berhenti sejenak. "Hmm duluan aja," tolak Karin. "Lo gak laper?" ujar Zidni kemudian. "Masa seorang Karin menolak makan sih," sambung sahabatnya itu lagi. "Kurang ajar," protes Karin keras. Membuat kedua sahabatnya tertawa seraya berlalu m

