Walaupun aku tak secantik rembulan. Tapi aku mampu menyinarimu, tanpa perlu menunggu malam. *** Pada pagi yang masih sama saja, Karin berdiri didepan gerbang sekolahnya. Sebuah kenangan dulu kian berputar dan mengaum dikepalanya, tentang paginya yang harus menunggu Raka didepan gerbang ini, tentang pertengkaran-pertengkaran paling sukar dimengerti hanya karena masalah sepele dan sebentuk kenangan nan lucu yang paling Karin ingin ulangi sekali lagi. Beberapa orang masih menatapnya, dengan tatapan aneh yang tak ingin Karin jelaskan seperti apa. Mungkin semua orang sudah terlanjur membencinya. Tapi Karin tidak ambil pusing. Dalam semua keegoisan yang ditanamnya, ia hanya menginginkan Raka nya. Sesederhana itu. Karin melangkah pelan menuju kelasnya dilantai tiga. Sepanjang koridor ia

