Dikurung Bak Tawanan

1060 Kata
“Cemburu? Apa iya aku cemburu?" Richard membatin dalam hatinya. “Siapa yang cemburu, hah? Jangan over confidence, kamu!” sangkal Richard emosi. “Kalau tidak cemburu, tidak usah marah-marah, Pak! Saya cuma merasa aneh aja. Dari kemarin Anda marah-marah terus pada saya. Saya ‘kan jadi heran, Pak. Soalnya saya merasa tidak melakukan kesalahan pada Anda,” protes Vio kesal. Setelah ini, mau dipecat, ya, terserah. Viola sudah capek menahan emosi. Daripada ia tak sadar menghajar bos galaknya itu, lebih baik ia dipecat, kan? “Berani kamu protes padaku?” Richard jadi naik darah mendengar Viola protes padanya. “Saya tidak protes, Pak. Saya hanya merasa tidak salah saja. Kalau saya memang salah, tolong beritahu kesalahan saya apa? Ke depannya saya akan perbaiki kesalahan saya,” jawab Viola tegas tapi sopan. Richard lupa kalau sekretarisnya itu cerdas dan kritis. ‘Mati aku!’ keluh Richard dalam hati. Richard memang tak punya alasan kuat marah pada Viola. Alasan ia marah-marah hanya karena William melumat bibirnya dan ia tidak rela. Tak mungkin ia mengaku demikian, kan? Bisa jatuh harga dirinya nanti. “Salah kamu itu karena selalu membantahku, tahu kamu? Aku tidak suka dibantah. Kalau aku sedang marah, diam saja dan tidak usah balas bicara. Kamu ini sukanya membantah terus. Wajar saja aku selalu kesal padamu,” cecar Richard cari alasan. Viola menghela nafas berat. Melayani bos gila, benar-benar akan membuatnya ikut gila. Lebih baik ia mengalah dan mengiyakan saja semua perintah bosnya itu. “Maafkan saya, Pak! Ke depannya saya tidak akan membantah Anda lagi,” jawab Viola lalu ia kembali mengerjakan dokumennya. Richard menarik nafas lega karena bisa mengelak dari Viola. Hampir saja keanehannya diketahui oleh sekretarisnya itu. Bisa malu seumur hidup ia, andai Viola tahu alasan ia marah-marah dua hari ini. Cukup lama Viola berkutat dengan dokumen hingga tak sadar waktu makan siang pun tiba. “Viola, ambil makan siang kita di lobi! Tio menitipkannya di sana. Ambil sekarang juga!” Richard mengalihkan perasaan anehnya dengan memerintah Vio keluar sebentar mengambil makan siang mereka. Bukan apa-apa, ia yang sejak tadi terus-terusan menatap wajah Viola yang sedang mengerjakan dokumen, jadi gerah sendiri. Richard merasa panas dingin menatap wajah cantik yang kadang cemberut, kadang mencebik saat merasa kesulitan memeriksa dokumen-dokumen yang menggunung di mejanya. Lama-lama, CEO tampan itu tak tahan lagi karena itulah ia harus memutus rasa aneh di hatinya dengan mengirim Vio keluar sebentar agar bisa bernafas lega. “Baik, Pak,” jawab Vio singkat. Viola lalu bergegas ke lobi. Ia sudah tak mau berdebat dengan bosnya lagi. Sepertinya besok ia akan cuti sehari untuk menenangkan dirinya. Ia harus menetralkan moodnya sebelum bekerja kembali. Tak lama kemudian, Viola kembali membawa dua bungkusan di tangannya. “Ini, Pak.” Vio menyodorkan bungkusan di tangannya pada presdirnya. “Siapkan makan siangnya untukku!” titah Richard lagi. Ia sengaja terus memerintah Viola agar bisa menatap wajah Viola saat beraktivitas. Tujuannya agar tidak kepergok sedang menatap lamat-lamat wajah cantiknya. Sejak tadi, Richard sungguh tak bosan-bosan menatap wajah cantik sekretarisnya itu. “Baik, Pak,” jawab Viola singkat. Gadis itu mengambil piring, sendok lalu menyajikannya di meja presdirnya. “Selamat menikmati makan siangnya, Pak!” ucap Vio lalu berniat makan di mejanya sendiri. Baru akan melangkah ke mejanya, Tuan besar sudah memberikan perintah lain lagi. “Temani aku makan di sini! Bawa kursimu kemari!” “Baik, Pak,” jawab Vio menahan kesal di hatinya. “Kenapa harus ditemani segala, sih? Nggak bakalan kenyang nanti, kalau makan bareng bos galak macam dia.” Viola tak henti-hentinya menggerutu dalam hatinya. Richard melihat sorot kesal di mata Vio padanya. “Yang ikhlas dong nemeninnya!” sindir Richard sinis sambil mulai mengunyah makanannya. “Iya, Pak,” sahut Vio lagi. Gadis itu mulai membuka paperbag makan siangnya lalu makan tanpa suara sambil menahan kesal di hatinya. Sementara Richard mendapat kesempatan menatap wajah Viola lama-lama karena Vio sedang fokus dengan makannya. Ia sangat suka menatap wajah cantik sekretarisnya itu. Richard tak habis pikir bisa melakukan hal murahan seperti ini. Namun, ia juga tak bisa menghalangi sikap impulsifnya pada Viola. Gadis itu sebenarnya selalu membuatnya emosi, tapi juga membuatnya bahagia hanya dengan menatapnya saja. Besok, Richard akan mencari alasan lagi agar Viola selalu dekat dengannya dan tidak diganggu William dan staf laki-laki lain di perusahaannya? Richard menggelengkan kepalanya pelan saat menyadari sikap gilanya saat ini. *** “Aarrrggggh, kurang ajar, sialan!” Viola menjerit kesal ketika ia baru sampai di apartemennya. “Ya ampun, Vio! Apa-apaan teriak-teriak kayak orang gila gini?” seru Nora heran. Ia takut orang-orang akan datang ke apartemen mereka saat mendengar jeritan Viola. “Gue ga sanggup rasanya, Ra. Gue mau resign aja,” keluh Viola stres. Seharian ini, Viola menahan marah karena diperlakukan semena-mena oleh presdirnya. Bos macam apa yang mengurung sekretarisnya seharian di ruangannya. Andai presdirnya ramah dan komunikatif, ia tentu tak akan sedepresi ini. Kenapa presdirnya mengurungnya? Bahkan untuk membuka ponsel saja tidak diperbolehkan olehnya katanya mengganggu kinerjanya. Ia sesak berada di dekat presdirnya. Seandainya makan siang tadi ia diperbolehkan di kantin, ia pasti bisa bercengkerama dengan staf lainnya. “Kenapa? Bukannya gajinya gede di sana, Ra?” tanya Nora tambah heran. “Masa bodoh mau gede apa nggak? Gue nggak sanggup lagi rasanya. Gue bisa darah tinggi lama-lama, Ra,” curhat Viola frustrasi. “Emangnya kenapa, Vio? Bos lo nyuruh ini itu, ya?” “Dia ngurung gue di kantornya, Ra. Gue disuruh kerjain dokumen setinggi gunung, bahkan gue ga boleh makan siang di kantin. Gila, kan?” jelas Viola lagi. “Jadi, lo ga makan siang tadi?” Nora jadi ikutan kesal pada bos Viola karena bersikap tak manusiawi begini. “Gue makan siang bareng bos gila itu di ruangannya, Ra. Tapi serasa di neraka, tahu nggak? Gue ga boleh ngomong, ga boleh bantah, untung masih boleh nafas, Ra,” keluh Viola lagi. “Gue mau resign aja. Gue stress,” lanjut Viola sambil memegangi dahinya yang pusing sejak tadi pagi. “Ya, udah kalo itu mau lo. Mending sekarang lo mandi, istirahatin otak sama badan lo!” kata Nora menenangkan sahabatnya Viola mengangguk. Ia segera masuk kamar mandi dan akan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang seharian stres karena presdir galaknya. Ia tak tahu apa ia harus segera resign apa tidak. Yang jelas ia tidak mau masuk kerja besok. Ia harus menenangkan moodnya dahulu. Masa bodoh gaji dipotong atau dimarahi bosnya. Ia butuh satu hari jauh dari bos sintingnya itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN