Bab 104

718 Kata

Ciko akhirnya tak bisa diselamatkan. Luka tembak di dadanya terlalu parah, dan meski Rafael membawa tubuh sahabatnya ke rumah sakit dengan kecepatan penuh, detak jantung itu berhenti di pangkuannya—di tengah kemacetan Jakarta yang tak tahu sedang menjadi saksi kepergian salah satu manusia paling setia yang pernah Rafael kenal. Rafael duduk sendirian di ruang tunggu UGD. Tangannya berlumuran darah. Matanya kosong. Dunia rasanya hening sekali, seperti semua suara tertelan bersama detik terakhir napas Ciko. Dalam diam itu, sosok seorang anak kecil menghampiri. Salah satu anak panti, Alif, menarik lengan bajunya dengan polos. “Om… katanya Om Ciko mau ajarin aku main gitar besok…” Rafael menunduk. Suara itu menghantam jiwanya lebih kuat dari peluru mana pun. Ia tidak menjawab. Ia hanya mem

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN