Surat dari Masa yang Lebih Tua Di tengah pagi yang sejuk, saat Rafael sedang menanam cabai bersama Damar di pekarangan Rumah Lia, Toni datang dengan langkah tergesa. “Raf… ada kiriman surat. Bukan dari Indonesia. Capnya dari Jepang.” Rafael menoleh cepat. “Jepang?” Ia menerima amplop cokelat lusuh itu. Tidak bertanda pengirim. Tapi saat Rafael membuka dan membaca lembar pertama, dunia seolah berhenti sesaat. Tulisan tangan itu… tak asing. > Rafael, jika kau membaca ini, berarti aku sudah tidak bisa lagi melihatmu dari dunia ini. Tapi aku ingin kau tahu satu hal: aku tidak pernah membencimu. Aku hanya menyesal… tidak bisa mencintaimu lebih lama. – Lia. Rafael duduk di lantai tanah. Nafasnya tercekat. Tangannya gemetar. Di dalam amplop itu ada dua surat. Satu untuk Rafael. Satuny

