Bab 5

1284 Kata
--- Pagi itu, langit Bandung kelabu. Kabut menggantung rendah di atas jalanan basah, seolah memberi isyarat bahwa hari ini tidak akan berjalan biasa. Di pinggiran kota, sebuah rumah mewah bergaya Eropa berdiri angkuh, tersembunyi di balik tembok tinggi dan kamera pengawas. Itulah markas utama Jendra. Tempat segala rencana kelamnya berakar dan menyebar ke seluruh negeri. Rafael dan Toni mengamati dari kejauhan. Di dalam mobil hitam tua, mereka duduk dalam diam, mengenakan jaket kulit dan headset komunikasi. Di jok belakang, dua pria lain—anak buah baru Rafael, mantan petarung jalanan—siap tempur. “Dia sedang di dalam,” lapor Toni sambil menatap tablet kecil yang menunjukkan peta termal bangunan. “Empat bodyguard bersenjata. Dua di lantai bawah. Dua lagi di balkon atas. Jendra di ruang tamu, sedang bicara dengan tamu.” “Siapa tamunya?” tanya Rafael tanpa mengalihkan pandangan. Toni memperbesar citra kamera. “Berdasarkan wajah: Indra Hermawan. Politikus. Salah satu kaki tangan Jendra di parlemen.” Rafael mengepal tangannya. Dunia bawah dan dunia atas saling berpelukan seperti racun dan darah. Tak ada satu pun tempat bersih yang tersisa. “Berapa menit kita punya sebelum polisi datang setelah tembakan pertama?” tanya Rafael lagi. “Lima sampai tujuh menit. Tergantung siapa yang duluan dengar.” Rafael menatap gedung itu lama. Hatinya dingin. Pikirannya tajam. Tak ada ruang untuk keraguan. Ia telah kehilangan Lia—untuk saat ini—dan ia takkan biarkan musuh menyentuhnya lagi. Tidak setelah malam penuh darah itu. “Masuk. Lenyapkan semua. Jangan biarkan satu pun dari mereka membawa kabar keluar,” ucap Rafael dingin. Toni menyalakan senjata. “Siap, Bos.” --- Sementara itu, di Jakarta, Lia duduk di ruang kerja kecilnya di panti. Kopi di cangkir sudah dingin, tapi pikirannya masih panas. Ia mencoba menulis laporan mingguan untuk yayasan donatur, tapi tak bisa memusatkan perhatian. Setiap detik pikirannya melayang pada Rafael. Apa ia baik-baik saja? Apa ia kembali ke dunia hitam itu? Apa... ia masih memikirkan dirinya? Ketukan di pintu membuatnya tersentak. Bu Ina masuk. Membawa surat di tangannya. “Ini untukmu.” Lia menerimanya. Tanpa pengirim. Tertulis dengan tangan: > “Untuk Lia. Maaf karena aku gagal.” Tangannya bergetar saat membukanya. Isinya hanya satu lembar kertas, bertulisan tangan Rafael. Singkat. > “Aku akan menghapus semua yang mengancammu. Kalau aku selamat, aku akan kembali. Tapi jika tidak—aku harap kamu bisa hidup dengan tenang. Aku tidak minta kamu menungguku. Tapi aku ingin kamu tahu: untuk pertama kalinya, aku mencintai... bukan karena ingin memiliki, tapi karena ingin kau bahagia. R” Air mata Lia menetes, satu per satu. --- Di Bandung, pertempuran pecah. Rafael masuk dari samping. Toni dari depan. Dua anak buah dari atap belakang. Tembakan meledak. DOR! DOR! DOR! Bodyguard tumbang satu per satu. Teriakan. Kaca pecah. Alarm meraung. Jendra berusaha kabur lewat pintu belakang, tapi Rafael sudah di sana lebih dulu. Mereka bertatapan. Jendra, pria tua bertubuh tambun dengan wajah penuh luka lama, tak percaya. “Rafael?! Kau gila! Kau hancurkan semua yang kita bangun!” “Yang kau bangun adalah neraka, Jendra. Dan sekarang aku datang untuk membakarnya sampai ke akarnya.” DOR! Rafael menembak lutut Jendra. Pria itu menjerit, jatuh tersungkur. “Aku seharusnya membunuhmu sejak dulu,” desis Jendra. “Dan aku seharusnya tak pernah ikut dalam permainanmu.” Rafael mendekatkan moncong pistol ke dahi pria itu. Tapi ia tak menarik pelatuknya. “Aku tak akan membunuhmu malam ini. Aku akan biarkan polisi menangkapmu. Biar dunia lihat siapa kamu sebenarnya.” Ia berbalik dan memberi isyarat pada Toni. “Sebar semua dokumen. Bocorkan pada media. Hancurkan reputasinya sebelum dia mati.” Toni mengangguk. “Dengan senang hati.” --- Di Jakarta, Lia berdiri di taman kecil panti. Ia memeluk surat Rafael erat-erat, seperti pegangan terakhir seseorang yang tak tahu apakah cinta itu akan kembali atau hancur selamanya. Angin pagi meniup rambutnya perlahan. Ia memejamkan mata. Untuk sesaat, ia berdoa. Bukan agar Rafael kembali. Tapi agar, kalaupun ia jatuh di jalan yang ia pilih... ia tahu bahwa seseorang mendoakan keselamatannya. ------ Malam telah jatuh di Jakarta. Udara masih lembap sisa hujan sore tadi. Di dalam kamar kecil panti, Lia duduk di ranjangnya, tubuhnya membungkuk, tangan memegangi perut. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Nafasnya terengah. d**a kirinya terasa nyeri, seperti tertusuk ribuan jarum. Tapi ia tak ingin membuat kegaduhan di rumah yang penuh anak-anak ini. Ia menahan semuanya dalam diam. Sudah dua minggu terakhir ini ia sering merasa lelah, pusing, dan kini… nyeri d**a yang datang tiba-tiba. Bu Ina masuk, membawa teh hangat. Tapi saat melihat wajah Lia, ia langsung panik. “Lia! Kamu kenapa, Nak?” Lia memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, Bu… mungkin masuk angin.” “Jangan bohongi Ibu. Lihat wajahmu pucat sekali.” Lia menggeleng pelan, mencoba berdiri. Tapi tubuhnya limbung. Bu Ina langsung menangkapnya sebelum jatuh. “Saya panggil ambulans sekarang juga!” --- Sementara itu di Bandung… Rafael dan Toni duduk di mobil, tepat di luar gerbang vila yang kini kosong. Polisi sudah datang. Media mulai ramai. Dalam waktu kurang dari 24 jam, foto Jendra terpampang di semua portal berita, dengan tuduhan korupsi, pengedaran narkoba, hingga pembunuhan. Jaringan Jendra runtuh seperti domino. Tapi kemenangan ini tak membuat Rafael merasa lega. Sebaliknya—ia merasa hampa. Misi selesai. Musuh kalah. Tapi sosok yang ia perjuangkan… tak lagi ingin melihat wajahnya. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bu Ina: > “Lia dirawat di RS. Didiagnosa awal: ada gangguan serius di paru dan jantung. Masih butuh observasi. Saya tahu Anda mencintainya. Mungkin sudah saatnya Anda tahu kenyataan ini.” Rafael menatap layar lama sekali. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Suara mobil, lampu sirene polisi, bahkan Toni yang sedang bicara dengan petugas—semuanya menghilang dari telinganya. Lia… sakit? “Aku harus pulang,” ucapnya pelan. Toni menoleh. “Apa?” “Ke Jakarta. Sekarang juga.” --- Dua belas jam kemudian, Rafael berdiri di koridor RS swasta yang sunyi. Masih mengenakan jaket gelap dan celana jeans hitam, ia tampak seperti pria asing yang sedang hilang arah. Matanya merah. Ia tak tidur semalam. Bu Ina mendekatinya. Wajah wanita paruh baya itu tak lagi dingin. Ada empati yang tulus dalam sorot matanya. “Lia belum sadar. Tapi dokter sudah lakukan serangkaian pemeriksaan. Satu hal yang kami tahu pasti… dia sudah menyembunyikan ini cukup lama.” “Apa penyakitnya?” suara Rafael lirih. “Penyakit autoimun langka. Menyerang organ vital. Dalam kasus Lia… jantung dan paru. Sudah masuk tahap berbahaya.” Rafael menunduk. Kepalan tangannya bergetar. “Kenapa dia tidak bilang…?” “Karena dia takut. Dia tahu kamu sedang mencoba keluar dari dunia hitam itu. Dia takut jadi beban. Takut kalau kau tahu… kau akan menyerah lagi pada masa lalumu demi menyelamatkannya.” Rafael menatap Bu Ina, mata berkaca-kaca. “Tapi aku lebih takut kehilangan dia daripada kehilangan seluruh kerajaan narkoba itu, Bu…” --- Di dalam ruang rawat, Lia akhirnya membuka mata. Pandangannya kabur. Cahaya putih dari langit-langit membuatnya menyipit. Dan sosok pertama yang ia lihat adalah… Rafael. Ia duduk di samping ranjang. Wajahnya lelah, mata merah, tapi tetap penuh perhatian. “Kau di sini…?” bisik Lia, nyaris tak terdengar. “Aku akan selalu di sini,” jawab Rafael. Air mata Lia jatuh. Tapi bukan karena sakit. Karena rasa bersalah. “Aku minta maaf. Aku… aku tidak ingin kamu kembali ke dunia gelap itu karena aku.” Rafael menggeleng pelan. Ia menggenggam tangan Lia. “Justru karena kamu, aku tinggalkan dunia itu. Dan sekarang, aku akan lakukan apa pun untuk menyelamatkanmu. Dengan cara yang benar. Dengan uang yang bersih. Dengan kehormatan.” Lia menatap Rafael lama sekali. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Rafael sang bos narkoba. Yang ia lihat adalah Rafael... pria yang mencintainya dengan cara paling tulus dan menyakitkan yang pernah ia rasakan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN