Teror Tanpa Wajah Minggu kedua setelah pembentukan Dewan Terbuka, suasana di Rumah Lia mulai terasa mencekam. Bukan karena konflik internal, tapi karena ancaman dari luar. Semuanya dimulai dari sebuah surat kaleng yang dimasukkan ke dalam kotak amal depan pagar. Isinya diketik tanpa identitas: > “Rumah ini berdiri dari darah. Kami akan lumuri darah baru kalau tempat ini tak dibubarkan.” Di hari yang sama, mural anak-anak di dinding luar Rumah Lia—lukisan pelangi dan tangan mungil berjejer—dicoret dengan cat hitam. Tulisan besar menyertainya: > “Dosa tak bisa dibasuh air mata anak.” ** Ketakutan Mulai Merayap Saras menemukan seorang anak perempuan, Naya (7), bersembunyi di bawah tempat tidur, memeluk tas sekolahnya sambil menangis. > “Aku takut… rumah kita dibakar kayak d

