Dua Minggu Setelah Pemakaman Lia Hidup Rafael berubah menjadi sunyi. Rumah besar yang dulu berisi kegaduhan para pengawal, pembantu, dan kolega bisnis kini hanya menyisakan bayangan. Tak ada suara musik, tak ada pesta, tak ada perintah. Hanya detak jam dinding dan suara angin yang menembus celah jendela yang tak pernah ditutup. Rafael menghabiskan hari-harinya di ruang kerja, menatap layar komputer yang tak pernah ia sentuh lagi sejak Lia pergi. Email menumpuk. Pesan dari kartel di Kolombia, sindikat dari Hongkong, dan kolega-kolega lamanya yang bertanya-tanya: ke mana Rafael menghilang? Toni datang hampir setiap hari. Membawakan makanan yang tidak pernah dimakan Rafael. Menyampaikan laporan singkat dari lapangan. “Kita kehilangan pelabuhan selatan, Raf.” “Ambil alih lagi kalau bisa.

