Bab 63

1537 Kata

Cabang Baru, Luka yang Lama Surabaya. Kota kedua terbesar di Indonesia. Kota pelabuhan yang panas, padat, dan keras. Di sinilah Reyhan memutuskan membuka Rumah Lia Cabang Timur. Sebuah bangunan tua bekas pabrik konveksi diubah menjadi rumah pembinaan. Temaram, berlantai dua, berbau debu, tapi mulai terasa seperti "rumah" karena dipenuhi senyum anak-anak jalanan, pecandu pemula, dan remaja tanpa tempat pulang. Reyhan kini resmi memimpin. Masih 19 tahun, tapi semua orang memanggilnya “Kak Rey.” Bahkan beberapa menyebutnya “Anak Rafael.” Dan dia tidak lagi menyangkalnya. Saras, Davin, dan Toni mengawasi dari pusat, memberi dukungan logistik dan pelatihan. Hari-hari Reyhan penuh: Pagi: mengajar literasi ke bocah jalanan. Siang: supervisi dapur komunitas dan program terapi seni. Malam:

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN