IKRAR DIANI

1950 Kata

Gavin menatap kebun rumahnya dari balik jendela ruang kerja miliknya. Ditemani anak lelakinya yang berpakaian santai dengan kaos dan celana pendeknya. Berbeda dengan beberapa hari lalu, rambut Samudera kini sudah rapi dengan cambang dan kumis tipis miliknya yang sudah dibabat habis. Sesekali Gavin mendesah lelah mengingat jalan jodoh anak bungsunya yang begitu rumit. Gavin meneguk habis minuman di tangannya sebelum menatap putra semata wayangnya dengan pandangan tak terbaca. “Sam, kamu tahu bahwa pernikahan bukan permainan kan? Apalagi sekedar menyenangkan hati Riani,” ucap Gavin dengan nada datar, namun pandangannya cukup menyiratkan perasaan yang ada di dalamnya. Samudera tak terkejut bahwa pria di hadapannya lebih dari tahu keadaan yang terjadi. Papanya memang bagaikan orang sakti ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN