Diani dan Samudera saling pandang dalam kebisuan. Tidak ada yang mengeluarkan suara hingga rasanya detak jam dinding menggema di antara mereka. Samudera menggenggam erat tangan Diani. Sesekali ia mengusap punggung tangan Diani dengan ibu jarinya. “Kenapa kamu pergi gitu aja, Di?” “Maaf–” “Bukan maaf yang mau aku dengar. Aku gak mau kamu sakit sendirian dan kamu lebih memilih ninggalin aku daripada ngomong masalah kamu. Bukannya kita udah janji buat saling belajar mengenali satu sama lain. Tapi, kalau kamu selalu berpura-pura semua baik-baik aja. Kita gak akan bisa belajar apapun,” ucap Samudera sambil mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Diani. “Mas Samudera yang mulai. Mas yang gak jujur sama aku. Aku pura-pura baik-baik aja karena aku– a– aku juga gak siap mendengar kenyat

