Diani menyisir rambut Ruby dengan tangannya. Gadis kecil itu bahkan tak merasa keberatan dan masih saja asik berceloteh tentang teman-temannya di sekolah. Ia tak tahu, bahwa wanita dibelakangnya sedang melamun menatap helaian rambut Ruby yang terlihat indah. Entah ada dimana saat ini pikirannya berkelana. Saat Ruby menyebut nama Om Papa, kesadaran Diani kembali, tapi ia enggan untuk membahasnya. Percakapan antara Lian dan Samudera saat tadi ia berjalan beriringan dalam rengkuhan mertuanya, memang samar. Namun itu cukup bisa Diani dengar. Diani berpura-pura tak mendengarnya. Hanya demi perasaan semua orang yang ada disana. Berpura-pura segala sesuatunya baik-baik saja adalah keahliannya dari awal kan? “Iya kan Tante Mama?! Kasihan kan Om Papa?” tanya Ruby sambil menggoyang-goyangkan paha

