“Ke mana saja kamu seharian ini putriku? Hmm?” tanya Hakim, di saat dirinya melihat putri kesayangannya baru pulang. “Pa ... sejak kapan ada di situ? Oh, iya, aku habis dari kantor nya pak Brahmana, sahabatnya Papa itu loh,” sahut Evangelin kemudian mencium punggung tangan papanya. Hakim sampai terkekeh mendengarnya, mana mungkin bisa selama itu bertahan di kantor nya Brahmana, bahkan dia sampai berpikir anaknya sudah pergi dengan anaknya Brahmana tadi, yaitu Rama. “Pa? Hei? Aku udah jujur loh, jangan meragukan aku.” “Papa tidak meragukan kamu, Sayang. Papa hanya berpikir saja.” “Berpikir? Maksudnya? Ish, jangan berpikiran yang aneh-aneh, nanti aku sambung ceritanya, sekarang istirahat dulu di kamar, ya, Pa. See you,” cecar Evangelin lalu melenggang meninggalkan papanya yang masih ber

